Berita

Tim Ortubis Raih Juara Kedua di Ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2017

08 Sep 2017

BANDUNG, LK – Tidak dipungkiri bahwa hingga kini, keberadaan para difabel masih kerap kurang diterima di masyarakat, termasuk di dunia kerja. Bahkan, meski para difabel ini mengenyam pendidikan di tingkat SLB, namun masih banyak diantara mereka yang sulit mendapatkan pekerjaan dan akhirnya menganggur.

Untuk itu sekelompok anak muda dari berbagai program studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) ikut berkecimpung mendorong kemandirian para difabel, dengan membuat program Ortubis (Olahan Cornrise Ala Penyandang Tuli Bisu). Program yang diikutsertakan pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Tahun 2017 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makasar, pada  23-28 Agustus lalu ini, bahkan berhasil meraih Juara Kedua untuk kategori Bidang Pengabdian Masyarakat. 

Sekelompok mahasiswa tersebut menyebut diri mereka sebagai Tim Ortubis, yang  beranggotakan Ni Luh Putu Lilis Sinta Setiawati (Teknik Industri 2014), Said Al Afghani (Matematika 2015), Gede Aditya Pratama (Teknik Telekomunikasi 2015), Ni Putu Amanda Gamayani (Teknik Elektro 2014), dan Moh Yusuf Febriyanto (Teknik Industri 2014).

Salah seorang anggota Tim, Moh. Yusuf Febriyanto menuturkan bahwa program Ortubis merupakan program yang mengajarkan kemandirian para difabel khususnya dalam kewirausahaan. Ada dua hal yang difokuskan pada program tersebut, yakni belajar memasak dan memasarkan produknya. Untuk mengaplikasikan program tersebut, terpilihlah SLB Cicendo Bandung sebagai tempat praktik mereka.

“Di sekolah tersebut kami mengajarkan dua hal, memasak dan memasarkan produk. Sebenarnya bagi orang awam, proses memasak dan memasarkan produk usahanya/berwirausaha adalah hal yang biasa. Namun, hal ini tidak biasa bagi mereka para difabel. Kebetulan, kategori difabel di SLB Cicendo Bandung itu tunarungu. Sehingga ada kekhususan dan tantangan tersendiri bagi kami untuk melaksanakan program tersebut,” ungkapnya saat ditemui LK di Kampus ITB, jalan Ganesa (7/9/17).

Yusuf mengatakan, sebelum langsung mempraktikan program tersebut, Dia bersama rekan satu tim serta 11 orang volunteer lainnya, mempelajari bahasa isyarat terlebih dahulu. Selain itu, mereka pun meminta pendampingan pada guru SLB, jika dalam proses pengajaran nanti  masih ada kendala dalam komunikasi. Persiapan selama satu tahun pun dilewati Tim Ortubis untuk mempersiapkan program ini sematang mungkin.

Salah satu metode cara mengajarkan difabel ini memasak, kata Yusuf, dengan cara memberikan resep lalu memperlihatkan cara memasaknya melalui video, kemudian dipraktekan secara bersama-sama. Sedangkan untuk mengajarkan kewirausahaannya, tim Ortubis secara khusus membuat beberapa modul pengajaran. Uniknya, tak hanya mengajarkan berdasarkan modul, para difabel ini pun diajak untuk praktik berjualan langsung di lingkungan kampus ITB.

“Kami pun mendampingi mereka selama berjualan di kampus ITB. Responnya positif, mereka nampak percaya diri dan sedikit demi sedikit mampu berkomunikasi dengan yang bukan difabel. Kami menyakini bahwasannya mereka itu bukan tidak bisa melakukan sesuatu, namun mereka itu kerap minder. Jadi hal utama untuk membangun kemandirian mereka itu dengan cara membangun pula kepercayaan dirinya,” papar mahasiswa semester 7, Prodi Teknik Industri ini.

Tak sampai disitu, Yusuf dan rekan-rekannya pun berharap agar program ini tidak hanya dipraktikan dalam rangka mengikuti kompetisi saja. Misalkan saja, hingga kini, Ia dan timnya tengah merevitalisasi kantin yang ada di SLB tersebut, agar bisa mengoperasi sekaligus menjadi tempat praktik siswa SLB dalam berwirausaha.

“Kami berharap program ini berkesinambungan. Untuk itu setiap sebulan sekali kami berusaha memantau perkembangan kantin itu dan terus melakukan pendampingan agar kantin yang tadinya tidak berfungsi secara baik, bisa terus beroperasi menjadi lebih baik,” pungkas Yusuf. / Anne Rufaidah