Berita

Tim Dagozila : Merangkai Robot Sepakbola Beroda yang Unik

Jumat, 08 September 2017- anne rufaidah

BANDUNG, LK – Bagi sebagian orang, membuat robot bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan berarti hal yang tidak mungkin dibuat. Salah satunya Robot Sepakbola Beroda yang dibuat oleh sekumpulan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim Dagozila.

Tim Dagozila merupakan salah satu tim robot ITB yang mengikuti kejuaraan pembuatan robot yang diadakan oleh Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), yakni Kompetisi Robot Indonesia 2017. Dari beberapa seleksi yang telah dilalui, akhirnya tim tersebut berhasil mengikuti seleksi di tingkat regional, yang berlangsung pada 18-20 Mei 2017 lalu.

Ketua Tim Robot Sepakbola Beroda ITB (RSBI), Evan Febrianto menuturkan, timya membuat 3 robot yakni 1 robot penjaga gawang, dan 2 robot penyerang. Ketiga robot ini kemudian ditandingkan dengan 14 tim lainnya di tingkat regional. Dari hasil pertandingan itu, timnya berhasil menyabet Juara Harapan dan bisa masuk ke KRI tingkat nasional.

“Sempat terjadi musibah pada pertandingan waktu itu. Jadi robot kami sempat terbakar sehingga tim robot kami jadi pincang. Akhirnya kami bertanding dengan 2 robot menghadapi tim lawan yang 3 robot. Beruntung, kami masih bisa bertahan dan bahkan menang jadi Juara Harapan,” jelas Evan saat ditemui LK, Jumat (8/9/17).

Evan memaparkan, salah satu keunikan dari Robot Sepakbola Beroda yakni dimana robot memainkan bola menggunakan roda, bukan robot berkaki seperti  pada umumnya. Sehingga pergerakan robot pun lebih cepat dan dinamis. Bahkan dalam waktu yang cukup singkat, gol yang dihasilkan pun bisa lebih banyak. Tak hanya itu, robot ini pun dari sisi dana yang dibutuhkan terbilang lebih murah, ketimbang robot sepakbola yang memakai kaki dalam pergerakannya.

Sebagai tim robot yang baru di kelasnya ini, Tim Dagozila pun cukup mumpuni dalam pembuatan Robot Sepakbola Beroda. Pasalnya, belum ada basic pengembangan dari jenis robot seperti ini sebelumnya. Sehingga timnya harus membuat robot ini dari nol, dan mencari referensi yang lebih banyak. Evan menyebutkan, butuh waktu sekitar 1 tahun dalam pengerjaan robot ini. Akan tetapi, dikarenakan peraturan yang baru diketahui 6 bulan sebelum pertandingan, maka persiapan totalnya hanya 6 bulan saja.

“Jadi selama satu sementer itu kami mengerjakan robot dengan ukuran kecil. Namun setelahnya, ternyata ada peraturan baru kalau robot yang dibuat itu berukuran besar dan luas lapangannya pun diperbesar. Otomatis kami ubah lagi robot yang ada di tim dari awal,” paparnya.

Tim ini beranggotakan Evan Febrianto, Genesia Wahyu S, Reghina Arindadewi, Abdulah Faqih, Muh. Kamal Nadjieb, Ahmad Wahrudin, Bangsa Erwiranda, Muh. Hilmi, Muh. Insan, Yudhistira Yoga S, Beny Maulana A, Ghovindo Surya T.S, Azka Zakiyyatuddin, dan Andi Gumarilang C.A. 

Sebagai tm robot yang baru pertama kali mengikuti kompetisi RSBI, dengan segala keterbatasan dan musibah yang sempat terjad selama pertandingan, namun tim ini pun akhirnya mampu meraih 8 Besar Nasional dalam KRI 2017 (6-9 Jui 2017), bertanding dengan 24 Tim RBS lainnya. / Anne Rufaidah