Berita

Mahasiswa ITB Sabet Juara Grand Prize dalam Ajang Internasional i-CAPS di Korea

11 Sep 2017

BANDUNG, LK – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menyabet Juara Grand Prize dalam ajang kompetisi bergengsi, The Fifth International Student Joint Capstone Design Project (i-CAPS) Competition di Chonbuk National University, Jeonju, Korea Selatan, pada 24 Agustus 2017 lalu.

Salah seorang anggota tim, Arlene Dupe mengungkapkan, kompetisi ini merupakan perpaduan antara mahasiswa dari negara Indonesia yakni ITB, dengan mahasiswa dari Chonbuk National University. Ada sekitar 20 tim yang berlaga dalam kompetisi tersebut. Tak hanya berasal dari Indonesia, tim lainnya  berasal dari negara Malaysia, Singapura, Cina,dan Taiwan.

Dalam kompetisi bergengsi itu, Ia dan dua anggota tim dari iTB lainnya, Iffah Faizah dan Ichwaldo H.S, berhasil menarik perhatian dewan juri, dengan alat yang dinamai Relax Me. Arlene menuturkan sistem yang terbagi menjadi dua perangkat ini, terdiri dari satu perangkat pendeteksi stres dan satu perangkat lainnya merupakan alat treatment.

Untuk perangkat pendeteksi stres terdapat 3 sensor utama, yang bentuknya menyerupai case handphone. Dalam perangkat tersebut, terdapat sensor detak jantung, temperatur kulit, hingga pendeteksi temperatur pori-pori. Sedangkan untuk perangkat kedua, berisi empat macam treatment yang berfungsi untuk mengurangi tingkat stres seseorang.  

“Alat semacam ini cukup kompleks komponennya. Untuk alat pendeteksi stres, memang pernah ada yang buat. Akan tetapi sepengetahuan kami, belum ada alat yang mampu mendeteksi sekaligus memberikan treatment terhadap hasil dekeksi tersebut. Makanya kami berinisiatif untuk membuat alat pendeteksi stres sekaligus memberikan solusi dengan men-treatment stresnya. Treatment-nya sendiri, kami padukan antara sound, suasana lampu, air purifier, hingga aroma terapi,” jelas mahasiswi yang mengenyam pendidikan di program studi Arsitektur ITB ini.

Kedua perangkat Relax Me pun, kata Arlene, bisa diposisikan secara terpisah. Satu perangkat pendeteksi dipakaikan di bagian belakang handphone, sehingga terhubung dengan aplikasinya. Sedangkan perangkat terapinya, bisa disimpan di tempat lainnya, seperti tempat untuk beristirahat atau di kantor, dimana biasanya terjadi peningkatan stres. Keduanya saling terhubung melalui Bluetooth, sehingga perangkat terapi bisa memberikan treatment pada seseorang, sesuai dengan tingkat stres yang terdeteksi dari case handphone tersebut.

Ketika disinggung mengenai alasan pembuatan perangkat ini, Arlene menyebutkan, bahwa pada awalnya Ia dan tim cukup kesulitan menentukan alat macam apa yang akan dibuat. Pasalnya, dengan jarak komunikasi yang terjalin antara Ia dan rekan tim lainnya di Korea, pihaknya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memutuskan. Akhirnya, sesuai dengan tema i-CAPS 2017 mengenai Health Device ini, dipilihlah sub tema mengenai stres.

“Kami mahasiswa ITB yang di Indonesia dengan mahasiswa Korea melakukan brainstorming melalui email, video call dan fasilitas internet lainnya, selama kurang lebih 6 bulan. Baru sekitar bulan Juni, pembuatan alatnya dimulai dan alatnya dibuat di Indonesia. Sekitar satu bulan kemudian, perangkatnya sudah jadi dan siap dipresentasikan di hadapan dewan juri,” terangnya.

Seperti diketahui, i-CAPS 2017 menjadi ajang kompetisi internasional yang sudah kerap diikuti oleh perwakilan mahasiswa ITB. Dalam perhelatan ini, tim ITB cukup mendominasi setiap tahunnya. Ada sekitar 23 mahasiswa ITB yang turut berpartisipasi dalam kompetisi. Tim Arlene, adalah salah satu tim yang meraih puncak penghargaan dalam ajang tersebut. Sedangkan tim lainnya pun berhasil membawa pulang medali Perak dan Perunggu dalam i-CAPS 2017 kali ini.

“Kompetisi ini seakan menyatukan kami, yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang budaya yang berbeda, untuk kemudian menyatukan ide, membuat sesuatu yang bermanfaat dan mudah-mudahan bisa menjadi solusi bagi permasalah dari negara-negara berkembang,” pungkasnya. /  Anne Rufaidah