Berita

Cantiknya Robot Tari Khas Tim Dago Concordia

12 Sep 2017

BANDUNG, LK – Jika umumnya robot dibuat untuk melakukan sebuah pekerjaan atau membantu manusia dalam melakukan sesuatu, lalu bagaimana jika robot dijadikan sebagai alat pertunjukan yang menghibur?

Ya, salah satunya adalah robot buatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari tim Dago Concordia. Tim yang memiliki latar belakang keilmuwan beragam ini, beranggotakan Adi Sutowijoyo, Megah Derlian. S, Hasna Shalihah, Fathur Ichwanuttaqwa, Farida Sunar Primastuti, Dzar Bela .H, Furqon Aji .Y, Chessa Nur, Bernard Renardi, Khayima Arnisti, Kavita Nur F., Yunisa Rahmah, Anggi Jasmine, dan Muhammad Daud.

Salah satu anggota tim, Adi Sutowijoyo menuturkan, robot yang pernah diikutsertakan pada Kompetisi Robot Indonesia (KRI) 2017, merupakan robot pertama buatan tim ini. Pasalnya, jika dalam KRI sebelumnya, robot yang dipakai merupakan hasil pengembangan, namun di KRI 2017 robot tari ini dibuat dari nol.

“Tema KRI 2017 untuk kategori Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) yakni tarian Gending Sriwijaya. Gerakan tari tersebut cukup kompleks, sehingga kami cukup kesulitan dalam pengaturan gerakan robotnya agar bisa lebih sesuai,” terang Adi saat ditemui LK, Senin (11/9/17).

Robot yang termasuk dalam jenis robot Humanoid (menyerupai manusia) ini memiliki keunikan, khususnya dalam tingkat derajat kebebasan gerakan. Menurut Adi, jika umumnya robot humanoid memiliki derajat kebebasan sebanyak kurang lebih 20 namun, pada robot tari ini derajat kebebasannya bisa mencapai 26 gerakan.

Robot yang dinamai Masayu dan Nimas ini pun memiliki sensor suara yang cukup sensitif. Sehingga ketika panitia menyetel musik, maka kedua robot berwajah ayu itu langsung melakukan gerakan khas Gending Sriwijaya.

“Untuk penilaian kompetisinya, robot harus secara otomatis bergerak saat diperdengarkan musik. Dan berhenti saat musik dimatikan. Penilaian lainnya, yakni soal sinkronisasi gerakan robot dan musik khas tari Gending Sriwijaya. Robot juga harus mampu melakukan gerakan tertentu di area yang ditentukan panitia,” jelasnya.

Tak hanya soal kemampuan teknis, KRSTI kali ini pun menuntut tim untuk memperhatikan nilai artistik dari tampilan robot. Adi dan rekan-rekannya, kemudian mendesain kostum robot dengan unik, serta perwajahan robot yang begitu cantik. Meski dalam KRI 2017 timnya belum bisa meraih kemenangan, namun Adi optimis pihaknya bisa membuat robot yang lebih baik lagi untuk mengikuti KRI di tahun berikutnya. / Anne Rufaidah