Berita

Studium Generale ITB Hadirkan Founder Sekolah Alam Indonesia  

Rabu, 13 September 2017- Nuru Fitry

BANDUNG, LK - Pada Studium Generale yang digelar Rabu, 13 September 2017, di Aula Barat, Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan Founder Sekolah Alam Indonesia, Lendo Novo. 

 

Dalam paparannya, pria yang akrab disapa Lendo ini menceritakan perjalanan hidupnya hingga menggiringnya pada masa-masa perih. Salah satunya, dimana Ia pernah masuk penjara di tahun 1989. Penggagas Sekolah Alam Indonesia ini pun menuturkan, bahwa dari peristiwa masuk penjara itulah, Ia kemudian menyadari bahwa kualitas manusia dapat mengubah peradaban sebuah bangsa.  

 

“Sekolah adalah sebuah sarana belajar yang seharusnya menyenangkan, karena saat belajar di bawah tekanan, ilmu yang didapatkan tidak akan maksimal. Hal itulah yang menjadi alasan utama didirikannya Sekolah Alam Indonesia tahun 1993,” ungkapnya di sela-sela acara. 

 

Dia pun mengklaim, bahwa Indonesia sebenarnya dapat mengalahkan Finlandia dari bidang  pendidikan. Hal itu dikarenakan, jika melihat dari berbagai aspek, Indonesia memiliki lebih banyak potensi dibandingkan negara lain. Namun, sistem belajar dan sekolah di Indonesia memang masih berbeda dengan Finlandia, yang notabene merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. 

 

Tak hanya itu, Lendo pun mengamati, masih banyaknya mahasiswa yang salah mengambil program studi saat masuk ke perguruan tinggi. Padahal, program studi tersebut ternyata tidak sesuai dengan bakatnya. Menurutnya,  magang sesuai passion pada masa kuliah merupakan salah satu siasat untuk mengasah bakat saat program studi di kampus, tidak sesuai. 

 

“Saya ingin memastikan bahwa mahasiswa itu bisa mencari jati dirinya. Misalkan, mereka bisa mengetahui bakatnya di bidang apa. Dan jangan pernah merasa berdosa, kalau menekuni bakat yang berbeda dengan program studi kuliahnya. Karena yang membuat bahagia itu adalah bakat yang dimiliki, sehingga kelak Dia akan menjadi orang yang bermanfaat,” tutur Lendo  

 

Lelaki lulusan program studi Teknik Perminyakan ITB ini menambahkan, agar mahasiswa jangan pernah berpikir bahwa yang selama ini dilakukan itu hebat, tanpa pertolongan Tuhan. Karena, bagaimana pun, harus terbentuk pemikiran apa yang menjadikan seseorang seperti saat ini adalah berkat pertolongan dari Tuhannya, bukan karena lulusan ITB atau lain sebagainya.  

 

“Semua yang bisa membuat saya seperti ini karena pertolongan Allah, bukan karena saya alumni ITB jadi hebat, tapi karena Allah menolong saya untuk mewujudkan dakwah yang lebih besar. Seringkali saya mengalami rasa tidak mampu untuk melakukan apa-apa, tapi tiba-tiba datang saja pertolongan Allah, dan itu yang membuat saya akhirnya meyakini, bahwa doa itu menjadi penting,” tutupnya. / Nuru Fitry (ar)