Berita

Perbankan Didorong Bersaing dalam Menghadapi Era MEA

Rabu, 20 September 2017- anne rufaidah

BANDUNG, LK -  Dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2020 mendatang, dunia perbankan didorong untuk siap menghadapi persaingan secara ketat. Direktur Umum Bank BJB, Dr. Ir. Ahmad Irfan SH, MBA, MM, MH, CWM, mengungkapkan, perbankan merupakan organisasi bisnis yang penting bagi pembangunan sebuah negara. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi suatu negara biasanya berbanding lurus dengan kredit yang disalurkan perbankan pada masyarakat.

“Mengingat fungsinya yang strategis, pemerintah dan regulator kerap mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan daya saing dan kompetisi perbankan, dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat. Saat ini, industri perbankan tengah dihadapkan pada era MEA. Dalam konteks persaingan perbankan di Asia, bank-bank di Indonesia, dari segi aset, belum bisa masuk ke dalam sepuluh besar bank dengan aset terbesar di Asia,” paparnya saat menyampaikan materi pada Studium Generale KU4078, dengan tema “Strategi Bersaing Perbankan Menghadapi Kemajuan Teknologi dan Era MEA Perbankan 2020”,  di Aula Timur, Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (20/9/17).

Ia menuturkan, di era MEA 2020, persaingan antar bank di Asia semakin nyata. Hal ini dibutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, agar perbankan di Indonesia bisa meningkatkan market share usahanya. Untuk itu, pihaknya melakukan sejumlah penelitian dengan melakukan simulasi berulang kali. Dalam penelitian tersebut, kata Ahmad, pihaknya membuat rumusan strategi bersaing bagi perbankan, khususnya Bank Pemerintah Daerah (BPD) di Indonesia.

Ada sekitar 7 variabel yang diteliti, diantaranya, adopsi teknologi, budaya organisasi, lingkungan bisnis, kompetensi inti, kepemimpinan, manajemen inovasi, pengelolaan sumber daya perusahaan, hingga strategi bersaing. Tak hanya itu, menurutnya, penelitian ini ditujukan untuk mengisi celah literatur konsep persaingan strategi, yang kelak bisa diaplikasikan oleh BPD maupun bank swasta nasional dan dunia usaha lainnya.

“Dari beberapa variabel penelitian tersebut, ada tiga variabel yang berpengaruh langsung terhadap strategi persaingan perbankan, diantaranya adopsi teknologi, manajemen inovasi, serta pengelolaan sumber daya perusahaan,” ujar pria asal Palembang ini.

Munculnya generasi milenia yang kini membanjiri dunia pekerjaan dan dunia usaha, dengan usia produktifnya generasi ini terlahir dengan mengikuti pesatnya teknologi. Maka menurut Ahmad, tidak heran jika anak muda masa kini, terbiasa dengan teknologi mobile yang mutakhir. Hal ini tentu berpengaruh pada dunia bisnis, mengingat generasi ini termasuk pengguna jasa keuangan.

Ia menambahkan, dunia bisnis sudah berubah, mulai dari cara membeli barang, mengakses pengiriman, hingga pembayarannya pun sudah berubah. Masyarakat pun cenderung kebutuhannya ingin diperoleh secara praktis, mudah, dan cepat. Ini menjadi tantangan bagi perbankan, untuk bisa merespon perkembangan teknologi dan perkembangan perilaku masyarakat dengan digital banking. Ahmad menyebutkan, kini dunia perbankan pun berlomba-lomba memakai inovasi teknologi untuk mempertahankan dan meningkatkan pasarnya.

“Bank yang dapat bertahan di masa depan adalah bank yang bisa beradaptasi dengan teknologi dan prinsip ini sangat sesuai dengan model strategi bersaing yang kami kembangkan. Kita, dunia perbankan harus memiliki pemikiran yang luas, dalam menghadapi kemajuan-kemajuan zaman di masa yang akan datang,” tutupnya.

 Acara yang dihadiri oleh  ratusan mahasiswa ITB tersebut, dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi, Dr. Miming Miharja, ST., M.Sc serta dimoderatori oleh Dosen Bidang Kewirausahaan, Wawan Derwanto. / Anne Rufaidah