Berita

Maha Gotra Ganesa, Menari Bali Dengan Kesungguhan Hati

Rabu, 27 September 2017- anne rufaidah

BANDUNG, LK - Berkat kelihaiannya dalam menari, tim tari Bali, Maha Gotra Ganesa (MGG) dari Institut Teknologi Bandung (ITB), akhirnya bisa menyabet Juara Harapan 3 dalam Kompetisi Tari Bali Se-Jawa, yang diadakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 19-20 Agustus 2017 lalu. 

Menurut Ketua Tim MGG, Made Dimas Ganda Wijaya, kompetisi yang jadi ajang unjuk gigi para penari Bali ini, merupakan salah satu kompetisi yang cukup bergengsi di kalangan mahasiswa. Pasalnya, kompetisi serupa terbilang jarang diadakan. Dalam kompetisi tersebut, timnya berhasil dalam kategori tarian tunggal dewasa.

“Dalam kompetisi ini ada dua kategori yang dilombakan, yakni kategori tarian Bali anak-anak dan dewasa. Tak hanya itu, setiap kategori, ada yang beregu dan ada juga yang tunggal,” ujarnya saat ditemui LK belum lama ini.

Kompetisi dua tahunan ini pun diikuti hampir dari seluruh perwakilan sanggar tari Bali yang ada di Pulau Jawa, seperti dari Jakarta, Bandung, Semarang, dan bahkan Surabaya. Menurut Made, dari total kepesertaan kompetisi ini diikuti oleh ratusan peserta, baik untuk kategori beregu maupun tunggal. MGG sendiri mengirimkan satu tim untuk mengikuti kategori tari beregu dan satu penari tunggal.

Diakui Made, sejak kecil ia terbiasa menari Bali karena didikan sang Ibu yang juga merupakan sosok penari handal. Namun baru saat beranjak SMA, ia mulai sibuk dengan kegiatan lain sehingga dunia tari sempat ditinggalkannya. Ketika memasuki dunia perkuliahan, Made yang awalnya hanya tertarik pada permainan gamelan Bali ini pun, akhirnya memutuskan untuk terjun kembali ke dunia tari.

“Sempat kaku sebenarnya saat mula-mula belajar lagi tarian Bali. Apalagi penari itu kan harus luwes, jadi ya belajar keras lagi. Untuk menghadapi kompetisi ini, kami pun melakukan latihan penuh selama dua bulan,” jelasnya.

Mahasiswa program studi Teknik Tenaga Listrik ini pun menyebutkan, dalam kompetisi yang sudah diadakan sebanyak 17 kali tersebut, ini pertama kalinya ia mengikuti kompetisi tari Bali lagi. Terlebih, saat kompetisi, penilain juri rupanya di luar ekspektasinya. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi Made, lantaran pakem gerakan tari Bali yang dipakai juri dalam menilai, ternyata berbeda dengan pakem gerakan yang dipelajarinya.

“Meski secara artistik gerakan tari Bali kita sudah indah, misalkan, namun karena pakem gerakannya beda bisa jadi pengurangan nilai. Tapi pada dasarnya, gerakan tari Bali haruslah berpatokan pada wiragé, wiramé, wirasé dimana ada keselarasan antara tubuh kita, irama, dan penghayatan penari terhadap gerakan tarian,” tutupnya. / Anne Rufaidah