Berita

Studium Generale PT Shell Indonesia: Menyongsong Indonesia dengan Energi Baru dan Terbarukan

Rabu, 11 Oktober 2017- anne rufaidah

BANDUNG, LK -  Tidak dapat dipungkiri, saat ini energi fosil masih menjadi energi utama. Tak hanya itu energi ini pun menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Untuk itu, memaksimalkan potensi energi baru dan terbarukan, menjadi sebuah keharusan. PT. Shell Indonesia, mendukung potensi sumber daya alam untuk energi sumber daya tersebut, agar lebih ramah terhadap lingkungan.

Country Chairman and President Director PT. Shell Indonesia, Darwin Silalahi mengungkapkan, pihaknya mendukung pengembangan energi baru tersebut, demi masa depan generasi muda dunia yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan berbagai cara, salah satunya melalui event Shell Campus Week yang digelar pada 10-11 Oktober 2017 di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

Diakuinya, dunia tengah membutuhkan Net Zero Emission World, dimana hal ini bisa menangkis pemanasan global pada level maksimum. Beberapa institusi yang kredibel, menurutnya pernah melakukan modeling semacam ini. Terlebih, dalam beberapa dekade terakhir, teknologi yang terkait dengan energi surya, mobilitas listrik, eksplorasi gas, air, dan sebagainya pun semakin berkembang.  

“Tak hanya itu, digitalisasi dan desentralisasi dalam dunia energi sangat berpengaruh saat ini. Adanya regulasi yang menganut sistem dahulu, belum tentu bisa diterima oleh masyarakat saat ini bahkan di masa depan.  Karena kini masyarakat lebih sadar akan bahaya polusi,” ujarnya di sela-sela Studium Generale sekaligus acara Diskusi Panel pada Shell Campus Week (11/10/2017).

Ia menambahkan, saat ini 80 persen energi dunia berasal dari batubara, minyak, dan gas. Sedangkan untuk produk yang bersumber pada energi baru dan terbarukan seperti matahari, angin, dan air, baru mencapai 18 persen. Dari sisi konsumsi, memang sudah harus mulai dibatasi secara signifikan.

“Untuk bisa melakukan elektrifikasi dari segmen konsumsi, harus ada Built Environment, dimana sebuah negara didorong untuk menggunakan teknologi dekarbonisasi yang bisa menghasilkan energi listrik yang tinggi, dan tidak terlalu bergantung pada energi fosil yang berpolusi,” pungkasnya.   

Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan, Prof. Dr. Ir. Bambang Riyanto Trilaksono ini pun menghadirkan perwakilan dari Pemkot Bandung, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) dr. Ahyani Raksanagara M. Kes, serta diskusi dipandu oleh Kepala Pusat Kebijakan Keenergian ITB, Dr. Retno Gumilang Devi. / Anne Rufaidah