Tim ITB_Indonesia Meraih Medali Perak dalam International Genetically Engineered Machine (iGEM) 2013 Competition


Publised on November 15th, 2013

Tim ITB_Indonesia yang terdiri dari Ari Dwijayanti (Bioteknologi 2012), Dimas Dwi Adiguna (Teknik Kimia 2010), Nuke Ayu Febryana (Mikrobiologi 2010), Indra Rudiansyah (Bioteknologi 2013), Riandy Rahman Nugraha (Teknik Informatika 2011) dan Lili Melani (Rekayasa Hayati 2010) berhasil meraih medali perak dalam ajang iGEM 2013. International Genetically Engineered Machine (iGEM) 2013 competition merupakan kompetisi tahunan yang sangat bergengsi untuk mengemukakan dan mengembangkan ide-ide terdepan dalam bidang bioteknologi (bidang synthetic biology). Kompetisi ini diikuti oleh universitas-universitas ternama dari seluruh dunia (204 tim untuk tahun 2013) yang ditantang untuk mengembangkan prototype organisme berbasis synthetic biology

Synthetic biology sendiri merupakan teknologi terkini di bidang bioteknologi yang memungkinkan kita untuk dapat merancang suatu sel dengan fungsi tertentu yang kita kehendaki. Synthetic biology memiliki prospek pengembangan yang masih cukup luas di berbagai bidang mencakup bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, industri, dan lain sebagainya. Tidak mengherankan bila banyak negara-negara maju yang sedang berlomba-lomba mengembangkan teknologi ini dalam bidang-bidang tersebut. Indonesia sendiri memiliki potensi yang besar dalam pengembangan teknologi ini. Indonesia memiliki biodiversitas yang tinggi sehingga memungkinkan untuk mendapatkan komponen-komponen unggul yang diperlukan dalam percepatan perkembangan synthetic biology. Salah satu contohnya adalah gen pengkode enzim termostabil yang banyak digunakan dalam dunia industri. Selain itu, peluang pasar terhadap produk synthetic biology di Indonesia masih cukup besar. Meski begitu, synthetic biology tergolong teknologi baru di Indonesia yang belum banyak dikembangkan. Hal inilah yang menjadi motivasi bagi tim ITB_Indonesia untuk turut menginisiasi perkembangan synthetic biology di Indonesia melalui keikutsertaan dalam iGEM 2013.  

Dalam kompetisi ini mahasiswa ditantang untuk merancang biological system yang inovatif, kreatif, dan prospektif terkait dengan berbagai permasalahan yang ingin dipecahkan. Selain ditantang untuk dapat merancang genetic circuit dalam sel hidup, kompetisi ini juga menuntut peserta untuk berbagi ilmu dan teknologi dengan kegiatan pencerdasan masyarakat sekitar melalui kegiatan human practice dan berbagi dengan tim lain melalui wikipage dan jamboree internasional. Jamboree internasional merupakan salah satu dari puncak acara iGEM setelah serangkaian acara termasuk registrasi, super labwork dari bulan Juni sampai September, serta human practice yang telah dilakukan. Jamboree internasional pada tahun 2013 dilakukan pada regional yang berbeda meliputi regional Asia (mencakup tim-tim di kawasan asia dan australia), regional Eropa (mencakup tim-tim di kawasan Eropa dan Afrika), Amerika Latin, dan Amerika Utara. Tim ITB_Indonesia beserta 67 tim lainnya dari kawasan Asia dan Australia mengikuti jamboree internasional untuk regional Asia yang bertempat di Chinese University of Hong Kong pada tanggal 4-6 Oktober 2013. Dalam acara tersebut tim ITB_Indonesia berkesempatan untuk mempresentasikan proyek tim ITB_Indonesia yang berjudul ’Aflatoxin Biosensor : Designing Whole Cell Biosensor for Aflatoxin Detection’ kepada para juri dan tim lain.

Proyek yang dikembangkan oleh tim ITB_Indonesia adalah whole cell biosensor untuk mendeteksi cemaran aflatoksin. Aflatoksin merupakan sejenis racun yang dihasilkan oleh jamur dari golongan Apergillus. Aspergillus banyak ditemukan pada bahan pangan terutama kacang-kacangan dengan proses pengeringan dan kondisi penyimpanan yang kurang bagus. Nilai cemaran aflatoksin pada kacang-kacangan ini ditemukan cukup tinggi di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Toksin jenis aflatoksin memiliki dampak yang cukup berbahaya dan signifikan bagi kesehatan manusia, salah satunya adalah meningkatkan resiko terkena kanker hati. Berdasarkan data dari International Agency for Research on Cancer, satu dari empat orang pengidap kanker hati di Indonesia didukung oleh pemaparan aflatoksin. Untuk itu, perlu dilakukan deteksi kandungan cemaran aflatoksin pada bahan pangan kacang-kacangan agar dampak kanker hati karena faktor aflatoksin yang diderita oleh penduduk dapat diturunkan. Deteksi cemaran aflatoksin pada sampel bahan pangan dapat dilakukan dengan beberapa metode termasuk penggunaan whole cell biosensor. Whole cell biosensor yaitu suatu device yang berupa sel yang memiliki fungsi khusus untuk mendeteksi cemaran di lingkungan. Sama halnya dengan device elektronik, device deteksi dari sel ini juga terbuat dari komponen yang dapat dirangkai sehingga dapat menjalankan suatu sistem yang kita kehendaki. Di dalam sel, operating system yang berjalan dikode oleh DNA yang dapat dirangkai sama halnya seperti merangkai rangkaian elektronika. Nantinya prototype untuk mendeteksi cemaran aflatoksin akan dibuat dengan konsep syringe-like device sehingga memudahkan penggunaan di masyarakat. Karena menggunakan mikroorganisme yang sudah direkayasa (engineered microorganism), alat pendeteksi aflatoksin dirancang dengan memperhatikan keamanan terhadap pengguna dan lingkungan dengan sistem yang memungkinkan senyawa aflatoksin yang ingin dideteksi dapat masuk dengan mudah ke dalam alat namun sel tidak dapat keluar dari alat.

Tahun ini merupakan pertama kalinya tim dari ITB untuk mengikuti kompetisi ini. Menjadi suatu kebanggaan bagi tim ITB_Indonesia memiliki kesempatan untuk dapat mengikuti iGEM 2013 dan membawa medali perak untuk Indonesia. “Ada banyak pelajaran berharga dari keikutsertaan tim ITB_Indonesia dalam iGEM tahun ini. Diantaranya adalah belajar untuk menjalin sinergisasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Suatu hal yang mungkin sepele, tetapi sangat penting”, ujar Ari Dwijayanti, team manager dari tim ITB_Indonesia. Tim ITB_Indonesia berharap kegiatan yang telah dilakukan saat ini dapat menginspirasi ilmuwan dan donatur untuk mendukung pengembangan bioteknologi termutakhir di Indonesia.

Untuk tahun 2014, jamboree internasional iGEM akan diadakan langsung di Boston dan akan diikuti oleh seluruh tim dari seluruh dunia untuk memperingati 10 tahun berlangsungnya kompetisi ini. Sebagai persiapan dalam keikutsertaan ITB pada iGEM 2014, pada tanggal 9 November 2013 tim ITB_Indonesia untuk iGEM 2013 telah mengadakan sosialisasi tentang synthetic biology dan iGEM kepada mahasiswa ITB. Acara sosialisasi ini dilanjutkan dengan berdirinya synbio club. Synbio club merupakan wahana berbagi dan belajar bersama yang akan memberikan kesempatan kepada anggota club untuk menggali lebih jauh tentang synthetic biology dan iGEM. Keanggotaan synbio club terbuka bagi seluruh mahasiswa (sarjana ataupun pascasarjana) dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda mulai dari seni, sains, teknik, serta bisnis dan manajemen. Untuk mensosialisasikan synthetic biology dan iGEM, tim ITB_Indonesiauntuk iGEM 2013 telah menyediakan informasi terkini yang dapat diakses pada official webpage : http://synbio.itb.ac.id/ataupun fanpage facebook dengan alamat https://www.facebook.com/synbio.itb