Kamu mempunyai UKM yang baru?  Ajukan UKM kamu disini
English Language Indonsian Language

PMB 2021, Tepat Meletakan Proaktif dan Reaktif dalam Berbagai Situasi, Baik Pendidikan Maupun Kehidupan

Minggu, 05 September 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, DItmawa ITB – Menjadi proaktif dikesankan sebagai sesuatu yang snagat positif dan perlu dilakukan terus-menerus. Namun nyatanya, sikap proaktif atau bahkan reaktif tetap perlu diletakan dalam suasana yang tepat. Hal itu disampaikan oleh para Trainer dalam kegiatan Training Pengembangan Karakter, Strategi Menjadi Pribadi Efektif dan Strategi Sukses di Kampus (SMPE-SSDK). Acara ini berlangsung secara daring pada 5 September 2021. 

“Proaktif itu bukan sekadar inisiatif. Intinya, proaktif merupakan sikap seseorang yang memfokuskan pikirannya pada hal-hal yang bisa ia control, serta berusaha menjauhkan pikirannya dari hal-hal yang membuatnya tidak fokus dan tidak bisa ia kontrol,”ucap salah seorang Trainer SMPE-SSDK ITB, Rama Adamas. 

Menurutnya, seriap mahasiswa perlu menyadari apa saja hal-hal yang bisa dikontrol atau tidak bisa dikontrol oleh dirinya masing-masing. Ia mencontohkan, saat seseorang sudah berusaha belajar sangat keras namun nilanya tidak terlalu baik, lalu membandingkan kondisinya dengan orang lain yang tidak belajar namun nilainya lebih baik. 

Hal semacam itu, kata Rama, adalah salah satu sikap kebalikan dari proaktif, karena berfokus pada hal-hal yang tidak bisa dikontrol oleh mahasiswa itu sendiri. Ia mengatakan, beberapa contoh hal yang tidak bisa dikontrol diantaranya adalah cara dosen mengajar, pikiran teman sekelas, atau kurikulum ITB. sedangkan hal-hal yang bisa mahasiswa control diantaranya cara belajar diri sendiri, pilihan kesibukan atau respon terhadap keadaan. 

Menjadi reaktif atau kebalikan dari proaktif bukanlah suatu masalah. Dalam pembahasan diskusi ini, disebutkan bahwa sisi negative dari terlalu proaktif adalah munculnya rasa tanggung jawab berlebihan atas sesuatu yang sebenarnya bukan ruang lingkupnya. Hal ini tentu menjadi rentan karena bisa menimbulkan rasa bersalah. Sementara itu, sisi positif dari reaktif adalah munculnya kemampuan untuk menilai mana yang baik dan buruk hingga membuat mahasiswa bisa mendapatkan acuan untuk belajar dari kesalahan. 

Pada sesi diskusi kedua, mahasiswa diajak untuk mencari tujuan hidupnya, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Trainer SMPE-SSDK ITB lainnya, Khaila Nushofa mengungkapkan, segala sesuatu yang dilakukan tentu harus dipikirkan terlebih dahulu. Itu artinya, sesuatu bisa dimulai dengan cara membayangkannya terlebih dahulu sehingga setidaknya bisa diarahkan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. 

ia memberikan beberapa tips dalam merancang tujuan hidup, yang tentu relevan dengan status mahasiswa ITB saat ini, dan diharapkan bisa memantik tujuan hidup mahasiswa di masa depan. Dalam merancang tujuan hidup, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali diri sendiri. Tak hanya itu, mahasiswa pun diajak berani untuk memancing khayalannya soal mimpi dirinya di masa depan. Hingga akhirnya, mahasiswa diajak memikirkan langkah apa saja yang harus ditempuh agar bisa mencapai dirinya di masa depan. 

“Mengenali diri sendiri adalah hal yang sangat penting. Saat kita mengenall diri kita, tentu kita akan tahu ingin jadi seperti apa, passionnya di bidang apa, sehingga kita bisa menentukan langkah-langkah selanjutnya agar mimpi-mimpi kita bisa terwujud,” pungkasnya. 

Logo Kemahasiswaan ITB

Gedung Campus Center Barat Lantai 1

Jl. Ganesa No.10 Lebak Siliwangi

Kec. Coblong, Kota Bandung 40132

Phone: (022) 2504814

© Direktorat Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung