Kamu mempunyai UKM yang baru?  Ajukan UKM kamu disini
English Language Indonsian Language

LKM VIII ITB 2021, Karakter Pemimpin Ideal di Abad 21

Selasa, 14 September 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Di Abad 21 ini, pemimpinan yang dibutuhkan bukan hanya seseorang yang pandai memimpin saja, tetapi juga pemimpinan yang berjiwa sosial. Hal itu ditegaskan oleh Co-Founder and Executive Director Peace Generation Indonesia, Irfan Amali saat menjadi pembicara Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) VIII ITB Day 2 pada 11 September 2021. 

“Ada 3 hal yang dibutuhkan dari sosok pemimpin yang memimpin di era Abad 21 ini. Pemimpin tersebut harus memiliki karakter yang berpikir kritis, mau berkolaborasi, dan yang tak kalah penting adalah memiliki rasa empati,” terang Irfan. 

Ia mencontohkan sebuah teori dimana rantai makanan didefinisikan sebagai proses saling makan-memakan antara makhluk hidup. Menurutnya, proses tersebut salah satu praktek kolaborasi dan ada muatan saling berkorban. Andai kata hewan-hewan tersebut tidak terbentuk siklusnya demikian, maka keseimbangan ekosistem akan terganggu. Ia mengklaim bahwa hal ini adalah sebuah proses mengubah mindset yang tadinya saling memakan, jadi saling memberi dan saling berkorban. 

Lalu ia bercerita soal bagaimana perusahaan-perusahaan besar mulai kolaps karena ketidak mampuannya dalam berkolaborasi. Keuntungan sebuah perusahaan maskapai pesawat terbang bisa jauh lebih rendah daripada sebuah perusahaan yang bahkan tidak memiliki kendaraan satu pun. Ojek Online melesat keuntungannya lantaran dianggap berhasil menerapkan sistem economy sharing dengan para pengemudi ojek. 

“Salah satu karakter pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang mau berkolaborasi. Sudah bukan zamannya lagi satu sama lain berkompetisi. Sekarang, berkolaborasi adalah sebuah kompetisi baru. Mindset kita sudah lama sekali dijejali dengan paham berkompetisi, namun zaman sudah berubah. Jika berkompetisi terlalu sengit maka bisa jadi dua perusahaan akan mati, sedangkan jika dua perusahaan tersebut berkolaborasi dan bekerja sama, maka kedua nya akan bisa hidup. Hal tersebut bisa dilihat bagaimana perusahaan Blue Bird akhirnya bekerjasama dengan Gojek,” papar Irfan yang juga pernah menjadi CEO Mizan Apps Publisher. 

Selain berkolaborasi, seorang pemimpin juga harus mampu berpikir kritis, karena kolaborasi takkan tercipta tanpa pikiran yang kritis. Ia mengemukakan, berpikir kritis berpengaruh terhadap sejauh mana kita bisa terpengaruh saat menghadapi propaganda. Seseorang akan berpikiri kritis tentu akan bisa melihat segala sesuatu yang luas dan tidak sempit atau bahkan konservatif. Ia menilai bahwa seorang pemimpinan yang berpikir kritis mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. 

Hal terakhir yang harus dimiliki pemimpin saat ini adalah rasa empati. Beberapa waktu lalu, permberitaan diramaikan dengan isu adanya televisi yang menampilkan publik figur yang tidak memiliki etika publik. Penampilan ia di televisi menjadi salah satu cerminan bahwa kepentingan industri akan keuntungan dari Rating tayangan TV menggeser nilai empati. 

“Kita bisa melihat dari ketidak empatian inilah, maka dunia yang seharusnya cukup untuk semua mahkluk di dunia ini, tidak akan pernah terasa cukup bagi mereka yang serakah,” pungkasnya. 

Logo Kemahasiswaan ITB

Gedung Campus Center Barat Lantai 1

Jl. Ganesa No.10 Lebak Siliwangi

Kec. Coblong, Kota Bandung 40132

Phone: (022) 2504814

© Direktorat Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung