best html templates

Membuat Dongeng Diri Sendiri untuk Membangunkan Dongeng Orang Lain

Oleh : Reza Kurniawan Harnandika


Mobirise

Tulisan ini tidak terlepas dari apapun status kamu sekarang, siswa sekolah menengah atas ataupun mahasiswa, karena pada dasarnya ego kita pasti sama, kita berjuang keras untuk melawan semua rasa lelah belajar yang kita hadapi sekarang demi membangun dongeng apapun itu yang ingin kita wujudkan.

Kisah ini adalah tentang dongengku, yang sungguh sebenarya tidak pernah terbayangkan dapat mewujudkan semua dongeng ini menjadi senyata ini. Dongeng ini dimulai dari diterimanya saya, Reza, siswa biasa salah satu SMA negeri di Surakarta yang pada saat itu, tanggal 25 Mei 2012 menerima sebuah pengumuman yang mengubah seluruh jalan cerita saya. Bagaimana bisa saya tidak mengingat hari itu, hari dimana website pengumuman SNMPTN 2013 memberikan kalimat “Selamat anda dinyatakan lulus SNMPTN 2013 pada PTN : Institut Teknologi Bandung, Program Studi : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan”.

Seketika itu juga, memang ego awal yang terpikirkan adalah “Saya bisa kuliah di kampus terbaik bangsa”. Namun setelah hampir empat tahun menjadi insan akademis di kampus ini, ego yang awalnya sangat menumpuk di dada itu, perlahan menghilang. Karena banyak hal, yang akhirnya saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa tidaklah sesempit itu. Saya yang pada dasarnya adalah siswa yang sangat biasa di SMA dalam segi akademik, memang sangat merasakan sulitnya mengikuti sistem pembelajaran di kampus ini, yang memang sangat berbeda. Terlebih lagi status saya sebagai mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) pada saat itu. Satu semester sudah berlalu, dan tibalah saat dimana ol.akademik menjadi alamat website yang selalu dibuka setiap saat. Ya karena dari sanalah semua informasi akademik mahasiswa ITB disalurkan termasuk nilai dari mata kuliah yang diambil pada semester tersebut.

Hari itu satu buah huruf yang tertulis di samping mata kuliah Kalkulus IA membuatku hampir merasa putus asa dan merasa ini adalah akhir dari semua mimpi-mimpi tentang lulusan ITB yang sudah sangat tertanam sejak hari pertama perkuliahan, Ya, karena satu huruf ‘E’ di setelah mata kuliah Kalkulus IA berarti saya tidak lulus mata kuliah tersebut dan harus mengulang di semester ganjil tahun depan.

Mencoba bangkit, saya pun semakin serius menjalani semua perkuliahan di semester dua. Singkat cerita hampir semua mata kuliah semester dua mendapat nilai yang sangat memuaskan dan sangat menaikan IPK yang sempat terpuruk pada semester satu. Namun diluar semua itu, nilai kalkulus IIA mengalami indeks yang sama seperti semester satu, seperti mendapat tamparan yang sangat keras, saya merasa gagal dan menangis dipundak orang tua. Saat itu kedua orang tua saya mengatakan, “Kalau mas Reza baru dapat nilai E dua kali di mata kuliah yang sama aja, udah ngerasa gak mau lanjut kuliah, terus gimana dong mimpi-mimpi yang selalu mas Reza ceritain ke Mama dan Papa setiap videocall itu?”.

Saya merasa akan mati konyol jika saya berhenti di sini sekarang. Apalagi dengan kondisi, dimana dengan dua mata kuliah nilai E ini tidak menyebabkan saya mendapat Indeks Komulatif (IPK) di bawah persyaratan IPK minimum untuk mahasiswa Bidik Misi tahap 2. Saya adalah mahasiswa Bidik Misi tahap 2 yang mendapat tawaran untuk dialihkan statusnya dari mahasiswa penerima beasiswa BIUS (Beasiswa ITB Untuk Semua) 2013 menjadi mahasiswa penerima Bidik Misi tahap 2 angkatan 2013. Dengan kondisi yang sangat mendukung ini, saya bertekad untuk melanjutkan semua perjuangan dan terus berusaha membangun dongeng yang selalu menari-nari di kepala setiap subuh.

Berbekal restu dari orang tua dan semangat untuk melanjutkan dongeng yang hampir berhenti ini, sebuah keajaiban Allah pada dongeng saya, akhirnya terjadi. Semester tiga dan empat pada program studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (RIL),  saya jalani dengan motivasi luar biasa. Alhasil, semua nilai mata kuliah jurusan pada dua semester ini mendapat hasil yang mampu membuat kedua orang tua menangis bahagia. Begitu juga dengan indeks mata kuliah Kalkulus IA dan IIA yang saya jalani lagi, bahkan mampu membuat saya percaya bahwa doa orang tua dan mimpi yang terus kita pikirkan adalah motivasi paling luar biasa untuk diri saya.

Di semester lima dan enam, saya jalani dengan semangat yang terus tumbuh, ditambah lagi dengan semangat berkemahasiswaan di Himpunan Jurusan Mahasiswa KMIL (Keluarga Mahasiswa Infrasturkur Lingkungan). Semester lima dan enam saya jalani dengan tanggung jawab yang semakin besar, karena saya diberi amanah sebagai wakil Ketua Himpunan masa jabatan 2016/2017. Terlepas dari semua itu, saya terus berpikir mengenai satu bagian dari dongeng saya. Dimana pada bagian dongeng itu,  diceritakan betapa inginya seorang Reza merasakan berkuliah di luar negei.

Di skhir semester enam, bagi mahasiswa ITB pada umumnya adalah masa dimana kita melaksanakan Program Kerja Praktik (KP). Masa itu ternyata menjadi masa untuk saya berhasil mewujudkan salah satu dongeng saya lainnya, yaitu dongeng tentang betapa inginnya saya kembali ke kota kelahiran, untuk mengabdikan ilmu yang telah saya pelajari. Karena saya berhasil diterima untuk melaksanakan KP di salah satu instansi pemerintah kota madya yang bergerak pada penyediaan air minum di Kota Surakarta, kota dimana saya dibesarkan.

Di tengah berjalannya intensif KP, saya mendapat informasi dari Ketua Program Studi (Kaprodi) RIL, Bp. Rafiq Iqbal. Informasi yang saya dapat ini mengingatkan salah satu bagian dari dongeng saya, yaitu ingin merasakan kuliah di luar negeri. Email tersebut berisi informasi mengenai tawaran pertukaran pelajar selama satu semester dengan universitas negeri di Jepang. Pada tahun 2014 saat mengikuti sebuah proyek dari World Bank di Jawa Barat, di sana saya mendapat banyak cerita tentang betapa menantangnya bisa merasakan kuliah pertukaran pelajaran dengan negara lain. Dan sejak saat itulah saya mulai membuat satu chapter dongeng khusus, untuk merasakan perkuliahan di luar negeri. Setelah mempelajari semua persyaratan pada email informasi pertukaran pelajar dengan negara Jepang, saya memberanikan diri untuk mengontak Kaprodi  untuk meminta saran dan masukan mengenai ketertarikan saya untuk mengikuti program ini. Saya masih sangat ingat pesan singkat balasan dari Kaprodi saya, yang sangat mendukung agar saya mencoba mengajukan diri menjadi salah satu peserta pertukuran pelajar selama satu semester di Ehime University Japan. Bahkan saya ingat betul, pesan singkat beliau yang mengatakan “Silahkan dicoba, no matter how is your past, because the most important is your future”.

Tulisan ini dibuat saat saya tengah merasakan merasakan dinginnya musim dingin di Jepang. Ya saya, Reza Kurniawan, mahasiswa yang sempat merasa sia-sia dengan semua perjuangan hanya karena satu huruf pada indeks mata kuliah, sekarang menjalani perkuliahan semester tujuh dengan dua status mahasiswa, yakni mahasiswa tingkat akhir ITB dan mahasiswa pertukaran pelajar di Ehime University Japan. Percayalah semua orang memiliki jalannya sendiri, entah betapa gelapnya masa lalumu, tetaplah yakin bahwa malam memang harus semakin pekat saat fajar akan datang.

Bukan mimpimu yang terlalu besar jika kamu mulai merasa ingin meninggalkannya, tapi usaha kamu yang terlalu kecil untuk mewujudkannya,” Reza, di Jepang.



Lembaga Kemahasiswaan ITB         Mobirise
Alamat

Lembaga Kemahasiswaan ITB
Gedung CC Barat, Lantai 1
Jalan Ganesa No 10
Bandung, Jawabarat. Indonesia. 

Kontak

Email: informasi@kemahasiswaan.itb.ac.id
Telp : (022) 2534275
Telp/Fax: (022) 2504814