best html templates

Aku Hanyalah Sebuah Titik yang Ingin Selalu Memulai

Oleh : Gia Rahmanisa


Mobirise

Di dalam tulisan ini, mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah gambar yang ada di sisi kiri tangan, ketika menghadap layar komputer atau laptop. Untuk memperoleh gambar ini butuh waktu, perjuangan, dan proses yang bisa dikatakan tidak sebentar namun akhirnya dapat diraih. Satu hal yang sangat saya percaya bahwa “Result will never abuse the effort”. Tuhan akan menjanjikan sebuah kesuksesan kepada hamba-Nya jika mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan disertai hati yang ikhlas dalam menjalankannya.

Jika ingin ditelusuri, proses kehidupan yang saya alami terlihat begitu bertahap. Dari kecil, saya tinggal di sebuah desa yang cukup pelosok yang terletak di Manna, Bengkulu Selatan. Saat itu adalah kehidupan baru bagi orang tua saya. Walaupun waktu itu saya baru berusia 3 tahun, saya sangat ingat bagaimana kondisi kehidupan keluarga. Tinggal di sebuah rumah yang mungil yang masih berlantai tanah. Kesulitan dalam ekonomi yang dihadapi orang tua saya juga menjadi tantangan bagi keluarga kami. Kemudian saat saya berusia 5 tahun, keluarga memutuskan untuk pindah ke tempat lain yaitu di sebuah desa yang lebih ramai dari sebelumnya. Di tempat baru inilah saya mulai mengenal kata-kata yang selalu disebutkan oleh seseorang yang memiliki semangat yang luar biasa yaitu “Indahnya perjuangan”.

Saya memang bukan siapa-siapa dan belum apa-apa saat itu. Namun satu hal yang sudah tertanam dalam benak saya adalah saya ingin selalu memulai, memulai menjadi yang terbaik dan berguna bagi orang lain, terutama bagi orang tua dengan menjadi diri sendiri dan percaya bahwa saya memiliki potensi di dalam diri saya untuk melangkah maju.

Semua orang pada dasarnya memiliki kemampuan yang sama, namun yang membedakan adalah apakah setiap insan bisa melihat potensi pada dirinya. Keyakinan ini terus tumbuh dan telah mengantarkan saya menjadi seseorang yang memiliki daya saing dan mampu menorehkan berbagai prestasi sejak menduduki Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama.

Akhirnya dengan beberapa prestasi yang saya miliki, saya berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa dari pemerintah Sumatera Selatan untuk melanjutkan sekolah Menengah Atas yaitu di SMAN Sumatera Selatan. Semua impian dan perjuangan serta kenangan yang beragam terjadi saat saya menginjak bangku SMA. Kata-kata “Indahnya perjuangan” semakin bisa saya maknai saat di sekolah ini. Saya masih sebuah titik, masih menjadi sebuah titik yang selalu ingin memulai hal-hal baru yang positif dan menyenangkan. Di SMA saya masuk di jurusan IPA karena dari awal saya menyukai pelajaran IPA khususnya Biologi. Saya merasa bahwa saya memiliki potensi di bidang ini. Hal ini semakin diperkuat ketika saya memilih untuk masuk ke dalam Science Club. Klub ini berisi orang-orang yang memiliki semangat dalam menciptakan ide-ide cemerlang dan meneliti di bidang IPTEK. Cerita dan mimpi besar saya berawal dari klub ini di SMAN Sumatera Selatan.

Selama di SMA saya  memiliki visi yaitu ingin  seimbang dalam akademik dan nonakademik. Ini tentu sulit karena jika ingin sukses maka haruslah fokus pada satu hal. Namun, saya mencoba untuk menggabungkan keduanya. Cara yang saya lakukan tidak lain adalah time management. Saya berusaha untuk aktif di kelas, menjadi ketua dalam sebuah klub yaitu Choir Club, mengikuti olimpiade, dan aktif mengikuti perlombaan berbasis penelitian. Semua hal tersebut terkadang berada dalam waktu yang sama sehingga saya sangat bergantung pada time management yang telah saya susun.

Selain visi, saya memiliki mimpi yang ingin sekali saya wujudkan yaitu pergi ke luar negeri. Satu hal yang sangat saya pegang adalah “Apabila kita telah melaksanakan sesuatu maka selesaikanlah itu hingga akhir, walaupun ada banyak tantangan di depan”. Hal ini akan membuat kita, saya pribadi, menjadi seseorang yang memiliki ilmu yang lebih, jiwa dan mental yang kuat. The only source of knowledge is experience, kata Albert Einstein.

Di Science Club, awalnya saya mencoba untuk ikut sebuah lomba yaitu  International Science Project Olympiad (ISPO) 2014. Seperti yang sudah saya katakan bahwa, “Saya hanyalah sebuah titik yang selalu ingin memulai hal-hal baru”. Oleh karena itu saya dan rekan saya mencoba untuk membuat karya tulis ilmiah. Namun sangat disayangkan, ketika karya kami telah siap untuk dikirimkan, ternyata kami terlambat dalam pengumpulan berkas. Sebuah takdir Tuhan bahwa di tahun itu saya belum bisa untuk mengikuti ajang bergengsi ini. Akhirnya saya hanya bisa menyaksikan keberangkatan teman-teman yang lain ketika mereka dinyatakan lulus. Dan hebatnya, mereka sampai bisa meraih juara dan mewakili Indonesia ke tahap Internasioanal. Ada yang berangkat ke Belanda, Georgia dan Turki.

Hal ini membuat saya semakin tertarik dan termotivasi untuk ikut lomba ini lagi di tahun mendatang. Namun sebelumnya, saya memulai untuk berlatih di tingkat yang lebih sederhana dulu. Saya mencoba ikut lomba karya tulis ilmiah di tingkat provinsi yaitu “Physic In Action” yang diadakan Universitas Sriwijaya. Saya beserta tim terpilih menjadi top 10 dan hasilnya kami hanya masuk sampai 5 besar. Selain itu saya juga terpilih menjadi finalis 10 besar dalam LKIR tingkat nasional yang diadakan Universitas Indonesia. Tidak hanya sampai di sini, saya terus mencoba untuk ikut lomba lain yaitu karya inovasi bidang kewirausahaan dan hasilnya Alhamdulillah saya beserta tim mendapatkan juara 1 tingkat provinsi. Kemenangan ini membuat saya semakin termotivasi untuk terus maju. Akhirnya di tahun 2015, saya bersama rekan saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah ISPO 2015.  

Dalam proses mengikuti lomba ini begitu banyak tantangan yang kami hadapi. Saya menyadari, bahwa menjadi seorang peneliti bukanlah hal yang mudah karena dibalik keinginan untuk menjadi yang terbaik, ada pula tanggung jawab untuk membuktikan keunggulan karya yang kita miliki. Akhirnya setelah pengumuman, ide penelitian kami lulus dan kami berangkat ke Jakarta untuk berkompetisi. Saat itu saya sangat senang dan terharu karena akhirnya saya bisa naik pesawat untuk pertama kalinya, berkat sebuah perjuangan.  

Rasa syukur ini kian bertambah saat saya dan rekan saya dinyatakan sebagai peraih  Bronze Medal dan akan mewakili Indonesia di ajang Genius Olympiad di Oswega, USA. Namun, takdir berkata lain kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami karena faktor dana. Sabar, adalah kata ampuh yang saya coba pegang hingga saat ini. Walaupun awalnya sulit, namun yakinlah Tuhan punya cara-Nya sendiri. “Habiskanlah masa gagalmu sekarang sehingga nanti hanya ada masa  suksesmu”.

Impian saya yang ingin ke luar negeri tidak terhenti karena ini. Saya terus bermimpi dan berusaha dalam mewujudkannya. Hingga akhirnya saya mengikuti LKIR tingkat nasional yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari sekian ribu proposal penelitian yang masuk, lagi, alhamdulillah saya menjadi salah satu finalis yang akan dibina selama 3 bulan dalam melaksanakan ide penelitian saya. Selama 3 bulan ini, saya dapat melatih diri saya, mengenal mentor yang sangat baik, belajar melakukan penelitian dengan prosedur yang benar dan bertemu para peneliti hebat Indonesia. Akhirnya, hasil dari perlombaan ini adalah saya meraih juara harapan pertama. Awalnya saya sangat berharap bahwa saya bisa meraih 3 besar yang akan memiliki kesempatan untuk berlaga di Arizona, Amerika Serikat. Namun lagi-lagi, takdir berkata lain. Mungkin saya belum menceritakan alasan saya, mengapa saya sangat ingin ke luar negeri. Alasannya adalah karena saya ingin melihat secara langsung bagaimana kondisi di luar sana dan bagaimana saya akan berinteraksi dengan mereka yang ada di sana, agar nantinya jika saya menjadi orang besar saya memiliki pengalaman dan cara pandang terhadap dunia luar.

Pada Juli 2016, saya mendapat konfirmasi lanjutan dari pihak LIPI bahwa ide saya terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang ASEAN Students Science Project Competition (ASPC) di Thailand. Alhamdulillah, akhirnya impian saya terjawab. Saya dan tim lainnya dari Indonesia berangkat ke Thailand. Di sana kami mendapat banyak pengalaman yang luar biasa, bertemu dengan siswa lain dari negara ASEAN. Saya juga sangat bersyukur karena saya juga menjadi salah satu finalis yang mendapat penghargaan “Consolidation Prize”. Dari pengalaman-pengalaman ini sejak awal hingga sekarang, saya sangat bersyukur karena saya dapat menemukan jalan saya sendiri, melakukan apa yang saya sukai dengan cara saya sendiri dan tentunya tetap menjadi diri sendiri.  

Semua pengalaman ini meyakinkan saya untuk memilih Fakultas SITH Sains Institut Teknologi Bandung, karena saya menyukai Biologi dan saya memiliki impian baru. Impian yang saya ingin wujudkan bukan hanya impian pribadi saja, namun impian ini untuk Indonesia yaitu saya bercita-cita ingin menjadi seorang peneliti muda Indonesia yang mampu menciptakan ide-ide brilian, yang dapat membantu pembangunan bangsa dan negara agar bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain. Satu hal yang dapat saya petik dari semua pengalaman ini adalah jika kita punya impian maka targetkanlah. Jika Tuhan belum menakdirkan impian itu untuk kita, maka belajar dan bersabarlah. Last, but not least, “Start, Believe, and Be your self in your own way”.

 



Lembaga Kemahasiswaan ITB         Mobirise
Alamat

Lembaga Kemahasiswaan ITB
Gedung CC Barat, Lantai 1
Jalan Ganesa No 10
Bandung, Jawabarat. Indonesia. 

Kontak

Email: informasi@kemahasiswaan.itb.ac.id
Telp : (022) 2534275
Telp/Fax: (022) 2504814