best html templates

Man Jadda Wajada

Oleh : Mohammad Mahrus Ali


Mobirise

“Aku yakin bahwa semua anak cucu keluarga ini akan sukses dan juga akan bahagia. Bukan juga itu, mereka juga akan menjadi orang kaya yang dermawan serta peduli dengan sesama”

Kalimat itu aku dengar langsung dari lisan pamanku yang kala itu tengah berdiskusi dengan beberapa anggota keluargaku. Saat itu aku berada di belakang, namun terdengar jelas apa yang mereka bicarakan dalam diskusi itu. Aku yang masih berumur 9 tahun belum sepenuhnya bisa mencerna arti dari kalimat tersebut, namun dalam pikiranku kalimat tersebut merupakan arti dari sebuah harapan.

Tidak lama dari kejadian itu berita duka pun datang kepada keluargaku. Nenek yang selama ini telah merawat dan membesarkanku, kini telah pergi meninggalkan aku dan keluarga kecil ini. Aku merasakan kesedihan yang mendalam ketika mendengar berita itu. Aku pun merasa hal tersebut membuat semangatku untuk belajar dan melanjutkan sekolah menjadi hilang, karena selama ini Neneklah yang selalu mengingatkan aku untuk selalu belajar, agar aku bisa menjadi orang yang sukses di masa depan. Aku teringat akan semua harapan dan impianku untuk memperbaiki nasib keluarga ini. Lalu dalam renungan kesedihan itu aku berpikir bahwa aku masih mempunyai kedua orang tuaku dan juga masih banyak anggota keluargaku yang peduli kepadaku, dan mereka juga berharap banyak dari aku. Dan dari sanalah kisah ini  berawal.

Selepas dari SD, aku pun melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Aku berniat untuk melanjutkan ke SMP favorit yang berada di pusat kota. Aku berasal dari desa, dan saat itu yang aku punya hanyalah tekad yang besar untuk bisa bersekolah di SMP yang favorit itu. Aku sadar bahwa tidak ada satu pun sertifikat juara yang aku miliki selama berada di sekolah dasar dulu. Saat itu hanyalah usaha dan doa yang bisa aku lakukan. Aku hanya punya mimpi besar untuk bisa merubah nasib keluarga agar bisa menjadi lebih baik. Aku berharap dengan bersekolah di sana, setidaknya langkah untuk merubah nasib itu menjadi maju satu langkah. Aku juga ingin membuat almarhumah Nenek bangga terhadapku sebagai cucu kedua, yang tengah berusaha untuk mencapai impian yang mulia dengan sebuah kerja keras.

Baru saja aku merasakan kebahagian karena diterima di sekolah impianku, kemudian datang lagi berita duka di keluargaku. Aku merasa banyak sekali beban dan cobaan yang aku dapatkan setelah Nenek pergi. Sekarang orang yang selama ini memberikan nafkah dan pengharapan bagi keluarga,  ternyata harus dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Kuasa untuk menghadapNya. Padahal baru satu minggu aku merasakan kebahagian, namun kini aku harus merasakan perasaan yang sama seperti kisah 3 tahun lalu.

Kali ini benar-benar hancur hidup ini. Semangatku telah hilang, impianku telah sirna dan teladanku kini telah tiada. Kini yang aku pikirkan adalah kemustahilan untuk meraih semua impianku yang sudah ada. Kesedihanku tidak bisa aku lupakan begitu saja, aku membutuhkan waktu yang cukup lama agar kesedihan itu bisa terobati. Namun, ingat bagaimana kisah perjuangan seseorang yang aku kagumi ketika beliau juga ditinggal pergi oleh ayah tercintanya, beliau adalah B. J. Habibie. Aku  mengambil  hikmah dari apa yang aku hadapi dan rasakan saat ini. Bahwa setiap apa yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan Sang Ilahi. Semua itu bagaikan mimpi, yang bisa hadir dan pergi tanpa harus permisi. Di saat itu pergi dan tidak kembali, aku pun harus bersabar karena Sang Ilahi memberikan arti tersembunyi di dalam setiap cobaan yang aku hadapi. Aku tidak ingin larut dalam kesedihan yang terlalu lama. Aku termotivasi oleh kisah Bapak B.J. Habibie yang mengharuskan hidup itu seperti mata air yang memberi kehidupan bagi lingkungan sekitarnya. Sejak saat itu tujuan hidupku bertambah satu, yaitu ingin membangun negeri ini menjadi lebih maju lagi seperti apa yang diharapkan oleh beliau B. J. Habibie.

Sejak kelas 1 SMP aku megikuti berbagai olimpiade sebagai langkah kedua untuk bisa mewujudkan impianku. Satu tahun, dua tahun dan tiga tahun telah berlalu dengan begitu cepat, namun masih belum ada satu prestasi yang aku capai kecuali hanyalah rangking kelas. Namun, itu tidak pernah menutup usaha dan semangatku untuk tetap bisa meraih cita- citaku. Hingga akhirnya di ujung masa SMP ku, sebuah mimpi terpendam yang menjadi kenyataan. Tim adiwiyata sekolah yang aku pimpin, berhasil membawa sekolahku menjadi juara adiwiyata bestari tingkat kota, yang nantinya akan melajutkan ke tingkat provinsi dan jika lolos akan melaju ke tingkat nasional untuk mendapatkan penghargaan sebagai sekolah adiwiyata nasional. Aku merasa itu adalah hal yang setimpal dengan apa yang selama ini telah aku dan timku korbankan. Waktu pelajaran, waktu berkumpul dengan keluarga, hingga telat makan, kami korbankan demi hasil yang maksimal.

Hari itu adalah hari perpisahan sekaligus hari pengumuman bagi siswa-siswi berprestasi. Perasaan tidak percaya kembali aku rasakan ketika namaku dipanggil untuk pertama kali, sebagai salah satu penerima penghargaan siswa berdedikasi pertama dalam sejarah yang pernah ada. Meskipun aku berharap mendapatkan sebuah prestasi akademik dengan nilai tertinggi, namun aku sadar bahwa Allah mempunyai hadiah lain untuk diriku. Sedikit gugup, aku menaiki panggung bersama dengan Ibuku. Aku terharu karena akhirnya impian Ibuku untuk mendapatkan kata “Selamat” secara langsung dari Kepala Sekolah di hadapan semua tamu undangan pada saat perpisahan bisa aku wujudkan.
Lagi-lagi, kebahagian itu tidak berlangsung lama karena aku harus segera pergi meninggalkan ibu, keluarga dan semua teman-temanku. Hal itu karena pesantren adalah pilihanku untuk melanjutkan kisah perjalanan hidupku. Keinginan agar aku menimba ilmu di pondok pesantren adalah juga keinginan ayah  sekaligus amanah terakhir dari beliau. Tujuan dari almarhum ayah kenapa aku harus tinggal di pondok pesantren, adalah agar aku bisa mendapatkan ilmu yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Banyak teman-temanku yang kecewa karena pilihanku itu.

Namun, aku katakan kepada mereka “Kawan, ini bukan masalah kebahagianku, tetapi juga kebahagian ayah, ibu, keluarga dan semua orang yang ada dihidupku. Aku yakin, apapun yang akan aku hadapi nanti pasti aku bisa melewati karena aku telah mendapatkan ridho dari orang-orang yang aku sayangi dan insyallah aku bisa sukses dan tetap bisa mengejar cita-citaku untuk keluarga dan negeri ini. Jangan kalian halangi aku untuk memilih jalan ini, karena kalian dan aku tidak pernah tahu apa yang direncanakan oleh Allah yang Maha Segalanya. Intinya, aku tetap akan berusaha agar bisa sukses dengan jalan yang aku pilih ini. Kita saling mendoakan saja kawan”. Pesan itu adalah salam perpisahan kepada teman-temanku yang selama ini telah berjuang bersama-sama demi cita-cita yang mulia untuk keluarga dan nusa bangsa. Dan saat itu juga lembar kehidupan baruku telah terbuka. Hidup di pesantren adalah pilihanku untuk membahagiakan almarhum ayah, ibu serta semua orang yang menaruh harapan kepadaku dan tidak lupa juga untuk bangsa tercintaku.

Di pesantren, aku bersekolah di SMA unggulan dengan waktu pendidikan hanya 2 tahun karena aku lolos program akselerasi. Padahal aku tidak pernah ada impian untuk mengikuti program tersebut. Namun kakakku membuat timbul niat dan tekad yang besar di hatiku untuk memilih jalan itu. “Dik, kamu ikut saja program itu. Kamu jalani dulu tesnya. Masalah biaya itu urusan kakak. Berapapun biayanya akan kakak carikan meski harus merelakan uang kuliah kakak untuk kamu. Itu semua agar kamu bisa mempercepat waktu belajarmu satu tahun dan nantinya kamu juga bisa lebih cepat membahagiakan ibu. Ingat dik, ayah sudah tidak ada, tinggal ibu saja yang kini harus kita bahagiakan. Betapa bangganya ayah jika nanti melihat kamu bisa lulus lebih cepat, lalu kuliah dan juga cepat lulus dari kuliah dan bekerja demi merubah nasib keluarga kita.”

“iya kak, aku akan memberikan yang terbaik untuk ayah dan ibu. Aku ingin seperti B. J. Habibie yang bisa menjadi mata air bagi semua orang dan bangsanya. Aku juga ingin kuliah dan kalau bisa melebihi kakak. Kakak kan di ITS, maka aku harus di ITB agar nanti keluarga kita bisa lebih cerah masa depannya kak. Terimakasih untuk semua kak, aku akan buktikan jika aku bisa buktikan impianku itu”.

Sejak saat itu aku langsung berkata jika aku akan kuliah di ITB. Janji itu yang menjadi penyemangat ketika semangat belajarku menurun. Semua jerih payah, pengorbanan dan doa yang istiqomah telah membawa aku di tempat ini. Beribu-ribu ucapan “Alhamdulillah” keluar dari lisan dan hatiku ketika aku melihat hasil pengumuman SNMPTN. Semua itu karena usaha, doa, dan kekuatan dari sebuah mimpi. Mungkin kisahku dengan BJ Habibie tidak lah sama, namun aku punya cita-cita yang sama besarnya, yaitu membahagiakan kedua orang tua serta merubah nasib keluarga dan bangsa.

Dalam hidupku, menjadi mata air bagi kehidupan itu adalah niat yang mulia. Kesuksesan adalah hak setiap manusia, namun kesuksesan hanya miliki mereka yang mau berusaha dengan tidak pantang menyerah dan tetap berusaha walau seribu kali mengalami kegagalan, karena sejatinya itu adalah gambaran bahwa kesuksesan telah menanti di masa depan.

 



Lembaga Kemahasiswaan ITB         Mobirise
Alamat

Lembaga Kemahasiswaan ITB
Gedung CC Barat, Lantai 1
Jalan Ganesa No 10
Bandung, Jawabarat. Indonesia. 

Kontak

Email: informasi@kemahasiswaan.itb.ac.id
Telp : (022) 2534275
Telp/Fax: (022) 2504814