Berita

Tak Hanya Soal Teknologi Robot, KRSTI Kenalkan Budaya Indonesia Lewat Tari Enggang 

Minggu, 22 November 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) pada KRI Daring 2020 kali ini mengusung tema Tari Enggang,  tari tradisional khas Kalimantan Timur.  Pada kategori KRSTI ini, robot yang ditampilkan harus memiliki kemampuan untuk menirukan gerakan-gerakan Tari Enggang yang sarat akan kemolekan dan kelihaian dalam menari. 

Salah satu Juri KRI untuk kategori KRSTI Ir. Gigih Prabowo, MT mengungkapkan, tari tradisional Enggang merupakan tarian yang khas dan mencitrakan keberagaman budaya di Indonesia. Untuk katergori KRSTI, setiap tahun pihaknya membedakan peserta berdasarkan dua wilayah yaitu wilayah dalam Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.  Hal ini dimaksudkan agar para peserta tidak hanya berkutat dengan teknologi robotikanya saja, tetapi juga mengenal dan bisa mencintai kebudayaan di luar daerahnya. 

“Pada saat awal pembukaan registrasi ada sekitar 40 tim yang mendaftar untuk kategori KRSTI. Lalu kami seleksi di berdasarkan pembagian wilayah. Pada Wilayah I ada 16 tim yang lolos dan Wilayah II sekitar 19 tim yang lolos. Meski pada awalnya kami ingin imbang dari sisi jumlah tim yang lolos antara Wilayah I dan Wilayah II, akan tetapi pada prakteknya tim yang sesuai standar dan lolos memang lebih banyak di wilayah II,” ujar dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ini. 

Di dalam pelaksanaannya, kata Gigih, area penampilan robot terbagi menjadi 3 zona, mulai dari zona A sebagai zona pembuka, zona B, zona C, dan zona penutup. Pada masing-masing zona, robot harus melakukan gerakan yang sesuai dengan gerakan Tari Enggang. Ada yang berbeda di tahun ini, karena pada zona pembuka dan penutup, setiap robot secara otomatis akan melakukan gerakan protap kesehatan seperti memakai masker serta gerakan mencuci tangan. 

Soal kendala, Gigih mengakui bahwa pada penyelenggaraan kontes robot secara daring memang ada kendala pada komunikasi dan jaringan internet. Akan tetapi, hal tersebut tidak serta merta membuat rangkaian kontes robot di lokasi masing-masing peserta jadi terganggu. Pihaknya menyarankan agar peserta menggunakan jaringan internet yang jangkauannya hingga ke area terpencil, khususnya bagi peserta yang lokasinya berada di luar Pulau Jawa. 

Dari sisi teknologi, menurut Gigih, robot-robot yang ditampilkan sudah baik. Seluruh peserta pun diwajibkan mengikuti Protap Kesehatan di lokasi lombanya masing-masing jadi seluruh peserta mematuhi prosedur yang ditetapkan oleh juri. Kalau pun ada kendala, ia mengakui sejauh ini masih pada tahap toleransi yang tidak mengganggu berjalannya kompetisi. 

“Kami berharap, ke depannya paling tidak, kontes ini menjadi peluang bagi setiap tim robot untuk menurunkan ilmunya dalam pengembangan robotika ke adik kelasnya. Sehingga generasi muda ke depan pun, tidak hanya jago dari sisi teknologi robotika saja tetapi juga mencintai budaya Indonesia secara lebih luas dengan KRSTI ini. Kami bercita-cita akan di masa depan bisa mengadakan kontes robot internasional khususnya untuk tari-tarian tradisional Indonesia, karena hal ini belum pernah diangkat di kancah robotika internasional,”tutup Gigih.