Berita

Adu Navigasi Terbaik Ala Robot Penyemprot Disinfektan KRPAI 

Selasa, 24 November 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB  - Ada yang lain pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) di KRI Daring 2020. Jika sebelumnya kategori ini mempertandingkan robot dengan kemampuan memadamkan api, kini robot yang dibuat oleh tim peserta harus mampu menyemprotkan disinfektan ke ruangan dan titik tertentu. 

“Menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid 19, kami membuat perbedaan pada kategori KRPAI kali ini. Jika sebelumnya robot yang dipertandingkan adalah robot pemadam api, kini kami juga membuat robot tersebut harus memiliki kemampuan untuk menyemprotkan disenfektan. Beberapa aturan disesuaikan untuk penilaian robot dengan kemampuan tersebut,” ujar juri KRPAI, Dr. Eril Mozef, MS, DEA dari Politeknik Negeri Bandung. 

Menurutnya, terdapat beberapa tantangan dalam penyelenggaraan kategori KRPAI secara daring. Diantaranya, semua aturan disesuaikan dengan kebutuhan daring, mulai dari sistem penilaiannya, aturan main, hingga mengantisipasi kemungkinan adanya kecurangan. Selain itu, jika sebelumnya aturan KRPAI mengikuti kontes robot serupa di Amerika, yakni Trinity, lain dengan saat ini. Sebagian besar aturan, konsep lapangan, hingga aksesorisnya dibedakan. 

Robot yang dipertandingkan harus mampu melakukan penyemprotan disinfektan. Ada tiga sesi yang harus dilalui oleh robot, pada sesi satu robot harus mencari ruangan yang dimaksud, melakukan penyemprotan secara melebar ke seluruh ruangan, hingga kembali ke lokasi semula. Lalu di sesi dua, robot harus mampu menaiki anak tangga untuk mendapatkan bonus dan lintasannya pun dibuat lebih sulit dan tidak dikondisikan. Kemudian, pada sesi tiga, robot harus mampu melakukan penyemprotan disinfektan ke ruangan tertent dan menyeprotkan disinfektan pada satu titik tertentu. 

“Secara ukuran, memang robot KRPAI kali ini memang lebih kecil, tetapi secara sistem navigasi dan autonomous-nya jauh lebih sulit dibandingkan dengan robot mahasiswa yang dibuat untuk di rumah sakit-rumah sakit. Selain itu, robot-robot yang tanding pada kategori KRPAI memiliki kaki yang bentuk dan jumlah kakinya dibebaskan tergantung dari timnya sehingga robot bisa melewati jalan atau rute yang tidak dikondisikan sama sekali,” terang Eril. 

Kategori KRPAI menjadi salah satu kategori KRI dengan jumlah tim pendaftar awal yang mencapai ratusan tim dari 75 perguruan tinggi. Lalu usai diseleksi pada Wilayah I dan Wilayah II, tim yang lolos ke tingkat nasional ada sekitar 40 tim. 

“Kami salut dengan tim-tim peserta kategori KRPAI, karena dengan keterbatasan waktu, mereka mampu membuat robot yang sesuai dengan spesifikasi. Ada sekitar 20 tim yang kami akui memiliki kinerja robot yang bagus sekali karena robotnya berhasil mendapatkan nilai tinggi dari setiap sesi yang dilalui,” tutup Eril.