Berita

Terapkan Metode Analisis Masalah, Dosen ITB Dorong Mahasiswa Temukan Solusi Kesulitan Belajar

Rabu, 16 Desember 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Pola belajar seseorang yang terbentuk sejak dulu rupanya berpengaruh besar terhadap cara seseorang dalam menentukan solusi dari sebuah permasalahan. Hal tersebut diungkapkan Psikolog Dr. Indun Lestari M.Psi saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Dasar Konseling secara daring, yang diadakan oleh Lembaga Bimbingan Konseling Direktorat Kemahasiswaan ITB, beberapa waktu lalu. 

“Beberapa faktor yang membuat seseorang sulit menemukan solusi saat menghadapi masalah, diantaranya karena mereka terbiasa dididik pada orientasi hasil. Belum lagi peran orang tua yang terlalu banyak ikut campur dalam penyelesaian tadi. Kebiasaan jarang membaca buku dan terpatok hanya pada hafalan dan menyimpulkan, membuat seseorang kurang mengeksplorasi kemampuan berpikirnya.Intensitas bermain juga cukup menentukan, maka mereka yang jarang bermain biasanya akan sulit untuk berkomunikasi,” ujarnya. 

Terlebih, menurut Indun, tuntutan belajar di perguruan tinggi berbeda jauh dengan saat seseorang masih di SMA. Karakter pola belajar di perguruan tinggi, dosen hanya memberikan prinsip-prinsip teori, sementara untuk memahami lebih lanjut mahasiswa harus bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dianggap sulit oleh mahasiswa yang terbiasa “disuapi” pola belajarnya. 

Selain itu, dosen yang tidak selalu di tempat berbeda dengan guru di sekolah. Hal ini membuat interaksi antara dosen dan mahasiswa jadi lebih terbatas. Untuk itu metode pembelajaran di perguruan tinggi memang diharapkan lebih banyak berdiskusi dan mendorong pro-aktif mahasiswa dalam mengeksplorasi keilmuannya di luar kelas. 

“Jika kita menghadapi mahasiswa yang mulai bermasalah pada pola berlajarnya, yang perlu diamati pertama kali adalah pada semester berapa mahasiswa tersebut mulai muncul masalah? Jika di awal semester 1 itu artinya masalahnya sudah dibawa sejak berada di keluarga. Akan tetapi umumnya masalah pembelajaran mahasiswa ada di semester 4 atau 5. Mahasiswa mulai kurang berusaha menemukan identifikasi permasalahan dari tugas-tugasnya dan itu membuat kemampuan Analisa mereka jadi terbatas,” terang Indun. 

Lalu, bagaimana cara agar mahasiswa bisa ditingkatkan kemampuan dalam memecahkan masalahnya? Indun menuturkan, para dosen bisa melakukan langkah-langkah pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk banyak membaca dan mengkritisi materi yang dibacanya. Biasakan mahasiswa untuk melakukan presentasi di depan kelas karena hal itu akan memacu mahasiswa untuk memotivasi mereka memahami apa yang dipelajari.  Dari presentasi tersebut, diskusikan materi dengan memicu mahasiswa untuk menanggapi dan menganalisis setiap pernyataan dan mengkritisinya dengan tepat. 

“Mahasiswa diberi permasalahan untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya. Di tahap perkembangan psikologis di SMA, mereka sudah mulai bisa berpikir kritis. Artinya kemampuan berpikir kritisya sudah mulai berkembang, tapi jika tidak mulai dibiasakan mengkritisi sesuatu maka perkembangan tersebut akan terhambat. Mau tidak mau, kita sebagai dosen harus mampu mendidik mereka untuk mampu mengkritisi persoalan agar terjadi pembiasaan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri,” tutupnya.