Berita

ITB Talks, Menuju ITB dengan Model Pendidikan Berbasis Kesadaran Kemanusiaan

Kamis, 17 Desember 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Menjelang tahun 2021, ITB terus melakukan inovasi dan pengembangan dalam berbagai sektor internal perguruan tinggi guna memberikan manfaat yang lebih pada masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Rektor ITB, Prof. Reini Wirahadikusumah saat membuka acara ITB Talks, Refleksi Ekspektasi ITB 2020-2021 yang berlangsung secara daring pagi ini (17/12/2020). 

“Saya percaya ITB mampu mencapai Tridharma perguruan tinggi, tentunya dengan kita menggali, mengembangkan keunikan sumber daya IPTEKS, serta pengalaman lokal-nasional, sehingga menjadi keunggulan. ITB pun secara aktif mengembangkan grand design untuk mempromosikan keunggulan-keunggulan tersebut di kancah internasional. Hal tersebut bisa dicapai dengan cara melakukan serangkaian langkah transformasi yang nyata,” terang Reini. 

Di sela-sela acara, disampaikan beberapa langkah transformasi yang akan dilakukan oleh setiap Wakil Rektor di lingkup ITB. Salah satunya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Jaka Sembiring M.Eng. Menurutnya, kondisi saat ini berada di ambang revolusi ke IV, yang bercirikan cyber physical. Kondisi tersebut mempengaruhi konsep pendidikan yang seharusnya diterapkan. Jaka menyebutkan bahwa pendidikan berbasis consciousness atau kesadaran kemanusiaan, penting untuk model pendidikan di era tersebut. ia menyakini bahwa pendidikan harus diawali dengan harkat pendidikan, yang dimaknai sebagai kemuliaan pendidikan yang terletak pada nilai-nilai luhur dan kecakapan yang ditanamkan pada seluruh peserta didik. 

“Pada harkat pendidikan disebutkan bahwa peserta didik harus memiliki pengetahuan dasar soal disiplin ilmu dan literasi digital maupun data, yang sifatnya pengetahuan epistemic. Tak hanya itu, hal tersebut pun mengajarkan keterampilan yang bersifat kognitif, softskill, dan tentu tidak terlepas dari sikap terbuka,” terang Jaka. 

Ia menuturkan, dengan pendidikan yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan inilah yang seharusnya bisa menjadikan peserta didik di ITB memiliki literasi teknologi, data, dan kemanusiaan. Sehingga, hal tersebut bisa mendorong adanya critical thingking, system thingking, entrepreneurship, dan juga kelenturan budaya. Diakuinya, bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini pihaknya sudah membangun pondasi-pondasi untuk menuju model pendidikan semacam itu. 

Pendidikan model inilah yang diyakini mampu membuat mahasiswa kita selamat dan bahkan berkontribusi positif di masa depan. Pendidikan berbasis kesadaran kemanusiaan ini, kata Jaka, dianggap sebagai jawaban untuk menghadapi tantangan di masa depan. Kesadaran kemanusiaan dalam bentuk kemampuan berpikir kritis, complex problem solving, daya adaptasi yang tinggi, leadership, kemampuan kewirausahaan yang didasari oleh kecakapan menggunakan teknologi dan data. 

“Karakter inilah yang membuat kita mampu hidup di tengah kemajuan teknologi. Memanfaatkan teknologi bukan digantikan oleh teknologi. Meski teknologi semakin cerdas, semakin otonom akan tetapi kesadaran akan kemanusia adalah harta utama kita sebagai manusia,” ucap Jaka.