Berita

Konsisten Beri Kontribusi pada Masyarakat, ITB Tetap Gelar KKN-Tematik  dengan Format Beda

Sabtu, 19 Desember 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Jika pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ITB dengan format mendatangi langsung wilayah yang dijadikan tujuan project, lain di tahun 2020. Pandemi Covid-19 melanda Indonesia, tidak membuat ITB berhenti melaksanakan program pengabdian masyarakat tersebut. 

Ketua KKN-T ITB 2020, Muhammad Farhan Firdaus mengungkapkan, pelaksanaan KKN-T ITB kali ini tidak dapat dilaksanakan di satu desa dalam rentang waktu tertentu seperti biasanya. Terlebih, kondisi para peserta KKN-T ITB saat ini berada di daerah tempat tinggalnya masing-masing, maka program KKN-T ITB 2020 dilaksanakan terpisah di sekitar daerah peserta masing-masing. 

“Ada sekitar 37 kelompok yang mengajukan program kegiatan di wilayahnya masing-masing. Temanya pun beragam, mulai dari soal pembuatan video edukasi, pengolahan sampah, pengolahan limbah pertanian, dan sebagainya. Program tersebut dilakukan sesuai dengan permasalahan yang ada di wilayah tempat tinggal masing-masing peserta,” ujar Farhan. 

Ia menyebutkan, KKN-T ITB diselenggarakan sebagai salah satu mata kuliah unggulan yang berada langsung dibawah bimbingan Direktorat Kemahasiswaan ITB.  KKN Tematik merupakan mata kuliah umum pilihan dengan bobot 2 SKS yang memiliki silabus sebagai berikut: Mata kuliah mencakup sejarah, pengertian, pelaksanaan KKN, serta dinamika dan peran masyarakat dan pemerintah daerah dalam pembangunan.  

Sementara itu, dalam prosesi acara Penutupan KKN-T ITB 2020 yang diadakan 19 Desember 2020, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (WRAM) ITB, Prof. Dr. Jaka Sembiring M.Eng menuturkan, KKN-T ITB dinilai sangat penting karena banyak kompetensi-kompetensi yang perlu dimiliki mahasiswa namun tidak didapatkan di kelas. Pendidikan yang berbasis kesadaran pada kemanusiaan, menempatkan mahasiswa tidak hanya membutuhkan hardskill saja tapi juga softskill. 

“Di masa depan, tantangan manusia di bidang teknologi dan sains itu memang bisa menggantikan manusia. Jika intelegensia saja yang diasah, maka manusia akan bisa digantikan oleh mesin. Tapi kompetensi lain yang bisa membuat seseorang bisa bertahan yakni adaptasi budaya. Dimana kita harus memiliki rasa empati, bagaimana mengimpelentasikan teknologi sesuai budaya setempat, menangkap fenomena yang ada. Selain itu mahasiswa juga harus mampu menangkap solusi dan mampu dilakukan secara mandiri maupun bersama-sama,” papar Jaka.