Berita

Webinar Series #3 Bahas Dampak Buruk Penyalahgunaan Narkoba 

Rabu, 23 Desember 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB -Setiap tahun, angka kasus penyalahgunaan narkoba diklaim semakin meningkat. Hal itu disampaikan oleh Kompol Susiana Soeganda S.H, M.H dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Barat saat mengisi acara Webinar Series #3 yang diselenggarakan oleh Bimbingan Konseling ITB beberapa waktu lalu (22/11/2020). 

Ia mengatakan, pihaknya terus memperkuat program pengentasan dan penyebaran narkoba. Diakuinya bahwa pada 2015 di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, menyebutkan pada saat itu Indonesia dalam keadaan darurat narkoba. Hal ini berarti semakin tahun penyalahgunaan narkoba dinilai semakin meningkat, baik itu dari jumlah pemakai, produsen, kurir, hingga bandar. 

“Penyalahgunaan narkoba itu biasanya terjadi karena pelaku tidak memahami benar ap aitu narkoba, dampak buruknya seperti apa, dan sebagainya. Kebanyakan yang memakai narkoba termakan oleh hasutan dan iming-iming para pengedar narkoba. Target  operasi terbesar dari para pengedar ini adalah usia remaja karena pada usia tersebut masih labil dan mudah untuk dipengaruhi,” papar Susiana. 

Salah satu penyalahgunaan narkoba yang kerap dilakukan remaja, kata Susiana, yakni pemakaian obat BK. Obat tersebut merupakan obat untuk anjing gila, namun obat tersebut malah digunakan oleh manusia dengan dosis yang tidak benar. Alhasil, manusia yang memakai obat tersebut bisa mengalami gangguan baik secara fisik maupun psikis. Sifat remaja yang rasa ingin tahunya tinggi pun, bisa memicu penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, banyak dari pengguna memakai narkoba lantaran rasa penasaran. Dari rasa penasaran yang tak tertahan itulah, kemudian muncul rasa ingin mencoba dan pada akhirnya bisa menyebabkan ketergantungan. 

“Hal yang paling mendasar dan utama agar kuat menahan godaan rasa penasaran tersebut adalah dengan memiliki keimanan yang teguh dan mental yang kuat. Karena dampak pemakaian narkoba ini sangat mengerikan dan itu akan merusak individu, keluarga, dan masyarakat. Kerusakan itu pun tak hanya persoalan fisik tapi juga merusak mental anak mud akita,” ucapnya. 

Ia menyebutkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pihak kampus guna menekan dan mencegah adanya penyalahgunaan narkoba di lingkungan akademik. Diantaranya mengadakan MoU dengan BNN Provinsi Jabar melalui program-program terstruktur untuk pencegahan, membentuk satgas relawan anti narkoba yang dilengkapi dengan regulasi dari pihak kampus. Bahkan, pihak kampus pun bisa memperketat penerimaan dan keluluhan mahasiswa dengan cara mengadakan tes urine bagi seluruh mahasiswa baru dan melampirkan surat bebas narkoba sebagai salah satu syarat wajib pengajuan skripsi. 

Selain menghadirkan perwakilan dari BNN, acara yang mengusung tema Pencegahan dan Penanggulangan NAPZA ini pun mengundang  Wakil Sekjen DPW Aliansi Perguruan Tinggi Anti Pemyalahgunaan Narkoba di Jawa Barat, Dr. Epi Supiadi M.Si.