Berita

ITB Jadikan Kegiatan Organisasi Bagian dari SKS Mahasiswa

Rabu, 23 Desember 2020 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Sebagai bentuk dukungan serta penghargaan pada mahasiswa yang aktif berorganisasi baik internal maupun eksternal, ITB menjadikan kegiatan kemahasiswa bagian dari Satuan Kredit Semester (SKS) mahasiswa. Hal tersebut dipaparkan oleh Direktur Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) ITB, Dr. G. Prasetyo Adhitama M.Sn pada acara Sosialisasi Ormawa siang tadi (23/12/2020). 

Ia menyebutkan, pihaknya mendukung kegiatan kemahasiswaan ini untuk merekognisi dalam bentuk pemberian SKS mata kuliah. Nantinya, mahasiswa yang memang aktif berkegiatan di organisasi kemahasiswaan bisa diekuevalensikan kegiatannya tersebut menjadi SKS. Hal ini bertujuan untuk menggali kemampuan dan tantangan mahasiswa dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, baik dalam bidang kreativitas, kepribadian, mengembangkan kemandirian, serta keinginan untuk belajar di luar kelas.

“Dengan mengikuti kegiatan di luar kelas, artinya mahasiswa mencari dan bisa menemukan pengetahuan di masyarakat secara nyata. Hal ini sejalan dengan visi dan misi ITB, menjadikan mahasiswa dan lulusan ITB tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tapi juga cerdas emosionalnya, kreatif dalam menemukan solusi, mampu memecahkan persoalan yang komples, berpikir kritis, dan lain sebagainya,” terang Praseyto. 

Inisiasi rencana pemberian SKS tersebut merupaka salah satu wujud keinginan ITB untuk menghadirkan kemerdekaan dalam belajar dan kampus merdeka di lingkungan pendidikan ITB. Dalm konteks yang lebih luas, diterapkannya merdeka belajar bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar pada mahasiswa, tidak hanya secara teoritis tapi juga pengelaman dalam menghadapi sesuatu hal yang lebih kompleks, fleksible, dan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa. 

Pihaknya saat ini tengah mempersiapkan mata kuliah-mata kuliah baru yang SKS-nya lebih beragam/ Hal ini guna mendukung kegiatan-kegiatan berupa Kuliah Kerja Nyata (KKN), pengabdian masyarakat, kewirausahaan, project kemanusiaan, asistensi mengajar, atau penelitian yang independen.  Kegiatan yang sifatnya demikian akan bisa diberik bobot SKS 1-6 SKS sehingga mahasiswa bisa memasukan kegiatan tersebut ke dalam kegiatan kurikuler. 

“Rencananya hal itu akan kami lakukan mulai semester depan. Ada 5 mata kuliah yang sesuai dengan kegiata-kegiatan kemahasiswaan yang sering mahasiswa lakukan. Selama melakukan kegiatan tersebut, mahasiswa akan dibantu oleh dosen pembimbing,” tutup Prasetyo.