Berita

Memanfaatkan Air Banjir dengan Flood Control System Using Near System to Magma

Rabu, 06 Januari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Persoalan banjir masih kerap menjadi pekerjaan rumah bagi beberapa Kota dan Kabupaten di Jawa Barat. Berbekal permasalahan tersebut, mahasiswa ITB merancang sebuah sistem yang bisa mengontrol banjir dan memanfaatkan air banjir tersebut. 

Mereka diantaranya Joses Sebastian, Edbert Wing Hanitio, dan Dwi Agung Satria. Ketiganya membuat sistem yang dinamakan "Flood Control System Using Near Distance to Magma". Sistem ini menjadi salah satu inovasi yang lolos ke PIMNAS 2020 pada kategori  Pekan Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM-GFK), yang diadakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Inovasi tersebut diajukan dalam bentuk video. 
 
Ketiganya mengambil contoh peristiwa banjir yang kerap terjadi di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Kondisi elevasi Dayeuhkolot lebih rendah dari elevasi daerah rata-rata di Bandung dan lokasi Dayeuhkolot yang merupakan muara dari tiga sungai, Dayeuhkolot memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kami mengajukan sebuah gagasan yang bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh Dayeuhkolot dan juga mencegah terjadinya dampak negatif yang disebabkan oleh banjir. 

“Sistem ini dapat mencegah air banjir naik dengan perhitungan yang terukur (kuantifikasi) menggunakan sensor pendeteksi ketinggian serta pemanfaatan air banjir yang dialirakan menuju lapisan dibawah permukaan bumi yang berada didekat magma sehingga air banjir tersebut dapat diuapkan menuju PLTP  Kamojang menggunakan panas bumi yang akan dikonversikan menjadi energi listrik,” terang Dwi Agung Satria. 

Ia memaparkan, hasil yang dapat dicapai berdasarkan penerapan sistem yang didasarkan pada kasus banjir di Dayeuhkolot pada Maret 2019 adalah perhitungan jumlah volume air banjir yang dapat diolah melalui sebuah simulasi kasus.  Menurutnya, simulasi menggunakan 3 data, yaitu luas, area, dan ketinggian air banjir yang didapat dari kasus banjir Maret 2019 sehingga didapat perkiraan volume air banjir saat itu mencapai 4.399.000.000 liter. 

Dengan asumsi bahwa Flood Control System diaktifkan setelah air menggenang sebanyak itu, kata Dwi, maka dibutuhkan waktu 4 jam 27 menit untuk menyurutkan air banjir hingga ketinggian 5 cm. Air banjir terserap akan dipanaskan sampai berubah menjadi uap air, lalu uap air akan digunakan untuk menggerakkan turbin uap didalam PLTP, dimana energi gerak turbin dikonversikan menjadi energi listrik. 

“Kelebihan lain dari sistem ini adalah tidak menghasilkan gas buang yang berbahaya karena sudah tersaring oleh scrubber yang terpasang dalam sistem. Oleh karena itu, dengan adanya ide inovasi ini, diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat tentang pentingnya permasalahan banjir untuk segera diatasi, serta memberikan fungsi inovatif berupa sistem yang berpotensi memberikan sumber daya lain yang dapat membantu kebutuhan sehari-hari,” ucap Dwi. 

Sistem yang ditampilkan dalam bentuk video berdurasi 4 menit 48 detik ini, dibuat selama kurang lebih 4 bulan. Karena kompetisi PKM-GFK  merupakan inovasi dalam bentuk video, maka Dwi dan rekan-rekannya membuat produksi video Flood Control System. Teknik produksi  video yang dilakukan berupa editing dengan perangkat lunak Adobe Premiere Pro dan dikombinasikan dengan Adobe Photoshop. Produksi dan pengolahan video dilakukan dengan menggabungkan cuplikan-cuplikan video berita mengenai bencana banjir di 2 Indonesia, kemudian ditambahkan pengisi suara yang bercerita tentang latar belakang gagasan, penerapan, dan tujuan dari gagasan.