Berita

Kurangi Dampak Limbah Botol Plastik, Mahasiswa ITB Buat Vending Machine Watano

Kamis, 14 Januari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Berawal dari fenomena banyaknya mahasiswa ITB yang sering membawa botol air sendiri namun kehabisan air minum di sela-sela aktivitas kampusnya, maka tercetuslah ide untuk membuat sebuah alat yang mampu mengubah air keran menjadi air yang patut diminum. Sekelompok mahasiswa yang membuat alat tersebut diantaranya M.Maulana Ibrahim, Dinda Sophia Menauli N, M. Ichsan Nurul Ramadhan, Kezia Jane Rivan, dan David Khowanto. Sekelompok mahasiswa tersebut menamai alat itu Watano dan alat tersebut berhasil didanai pada ajang bisnis Program Kewirausahaan Mahasiswa (PWM) 2020 lalu, untuk kategori Health and Beauty. 

“Kami membuat alat vending machine yang dapat mengubah air keran/air sumur menjadi air yang layak minum dan berkualitas dilengkapi dengan RO dan beberapa sensor seperti TDS . (Total Dissolved Solid), pH, dan sebagainya, sehingga menjamin kualitas airnya secara real time monitoring,” ujar salah seorang anggota tim, Maulana. 

Ia menyebutkan, Watano dilengkapi dengan 3 lapisan filter untuk menyaring zat-zat yang tidak diperlukan sehingga dapat memenuhi parameter air minum. Vending machine ini juga dilengkapi lampu UV untuk membunuh bakteri patogen pada air. Sehingga pada akhirnya akan menghasilkan kualitas air minum yang sehat dan aman. 

Tak hanya itu, pihaknya juga mengadakan market research dengan menggunakan metode Survey Question dengan sample responden sebanyak 189 orang mahasiswa yang berusia 18 - 25 thn. Berdasarkan beberapa pertanyaan yang yang diberikan pada responden, didapatkan  hasil bahwa banyak mahasiswa yang sudah peduli akan isu masalah sampah plastik terutama botol air mineral. Sebanyak 95% mahasiswa sudah membawa tumbler atau botol air minum isi ulang sendiri dan 98% selalu kehabisan air mineral saat berada di kampus. Para mahasiswa kembali membeli air mineral kemasan dikarenakan selalu kehabisan air saat masih berada di kampus. Terdapat 98% mahasiswa yang mengatakan membutuhkan refill air minum di area publik seperti kampus.

Selama kurang lebih 3 bulan pembuatannya, Watano memang tak hanya sekedar menciptakan alat tapi juga mengkampanyekan nilai-nilai kepedulian lingkungan. Menurut Maulana, adanya Watano diharapkan bisa mengurangi limbah botol plastic, mengetahui secara pasti kandungan air, membantu mengentaskan fasilitas air minum, hingga membudayakan eco-friendly dan eco-lifestyle

“Harapannya produk ini bisa terpasang di banyak tempat publik dan bisa memfasilitasi mereka yang membutuhkan refill air minum di sela-sela aktivitas mereka. Dan produk ini bisa menjawab keraguan akan kualitas dari air sumur/air keran yang diolah menjadi air layak minum. Untuk ke depannya, kami akan  mengembangkan dari sisi sistem maupun user interface-nya. Hingga saat ini masih harus memasukan koin ke alat,  ke depan bisa cashless, lebih terintegrasi dan akan menggandeng beberapa mitra,” ucap Maulana.