Berita

Studium Generale KU 4078 : Vent-I, Tak Sekadar Alat Tapi Juga Perjuangan Kemanusiaan

Rabu, 20 Januari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB :  Vent-I yang merupakan ventilator asli buatan Indonesia, dibuat saat Indonesia tengah butuh-butuhnya alat bantu pernafasan bagi pasien Covid-19. Vent-I merupakan kolaborasi antara Yayasan Masjid Salman, ITB, serta Universitas Padjajaran (Unpad). 

Saat menjadi pembicara Studium Generale KU 4078 yang digelar Rabu, 20 Januari 2021, Ketua Tim Ventilator Portable Indonesia (Vent-I) Dr. Ir. Syarif Hidayat mengungkapkan bahwa Vent-I dibuat atas dasar kepeduliannya pada kemanusiaan. Sebagaimana diketahui bahwa simpton dari virus ini adalah membuat alveoli manusia tidak berfungsi sehingga manusia tidak bisa menghirup oksigen dan mengakibatkan kegagalan fungsi organ yang bisa berujung pada kematian. 

Pada awal pembuatannya, kata Syarif, ventilator harus diuji terus menerus dengan cara terus digunakan tanpa henti. Ia dan timnya melakukan pengujian pada motor yang dibeli di pasaran namun baru 2 hari dipakai sudah terbakar. Lalu berganti dengan fitur lain akan tetapi masih di belasan jam pun sudah terbakar juga. 

“Perupaan Vent-I pada mulanya memang masih belum terbungkus sama sekali. Saya sudah habis uang pinjama hingga Rp. 100 juta saja belum bisa menghasilkan ventilator yang sesuai. Akhirnya, dengan saran seorang kawan, kami menghimpun dana dari masyarakat dan tak disangka menghasilkan Rp. 12 Miliar. Dana tersebut bahkan setara dengan pembuatan 1000 ventilator,” terang Syarif. 

Ia menuturkan, butuh waktu 1 bulan untuk bisa lulus uji alat ventilator tersebut. Mulai dari uji ketahanan, keamanan, dan sebagainya. Baru setelah itu, sebulan kemudian dilakukan uji klinis langsung terhadap pasiennya. Pembuatan dan pengembanganm Vent-I diakui Syarif melibatkan banyak UMKM, mulai dari produksi casing, selang, serta komponen-komponen lainnya. Bahkan, beberapa komponen utama Vent-I diproduksi di Polman, sedangkan untuk perakitannya dilakukan di Polban, PT Dirgantara Indonesia, dan juga Kudus. 

Semua alat Vent-I dikirim ke Masjid Salman untuk dilakukan Quality Control (QC). Ia menyebutkan, ada sekitar 100 orang yang terlibat dalam pengecekan QC. Usai disterilisaai dan dipacking, baru Vent-I bisa didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit yang membutuhkan. HIngga Juli 2020, dari dana masyarakat yang didapatkan, pihaknya bisa mendistribusikan  sekitar 1000 ventilator ke 277 rumah sakit di 34 provinsi di Indonesia. Hal ini pun berkat dukungan lebih dari 2000 donatur dan 54 instansi yang terlibat. 

“Ini adalah kerja gotong royong yang sesungguhnya, karena teknologi yang benar dikerjakan secara bersama-sama. Oleh karena itu pada tahap awal pembuatannya, kita seorang insinyur, patut berendah hati untuk bertanya pada dokter atau siapapun yang mengerti pentingnya alat ini ada. Jangan membatasi pengetahuan atau pun sumbangan-sumbangan pemikiran yang kreatif. Kami pun patut berbangga karena Vent-I, produk dalam negeri Indonesia ini bahwa dirakit oleh perusahaan internasional milik Jepang, Panasonic,” pungkasnya.