Berita

Gara-Gara Ubah Bonggol Jagung Jadi Makanan yang Sehat, Mahasiswa ITB Raih Medali Perak

Kamis, 21 Januari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, DItmawa ITB – Berawal dari keprihatinan terhadap penderita Diabetes Mellitus (DM) yang sangat sulit mencari asupan camilan yang aman, maka tercetuslah ide membuat camilan sehat yang rendah gula namun berserat tinggi. Mahasiswa ITB yang beranggotakan Nasya Aulia, Angga Dwi Cahya, Kayla Asri Maharani, dan Arnoldus J.Bevan, mencoba memanfaatkan bonggol jagung untuk kemudian diubah menjadi kukis yang sehat dan aman dikonsumsi oleh penderita DM. 

Menurut salah seorang anggota tim, Nasya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menghasilkan 10,15 juta ton bonggol jagung pada tahun 2018. Dengan melihat bonggol jagung yang melimpah, maka peluang pemanfaatan bonggol jagung untuk dijadikan bahan dasar camilan sangat besar. Ia pun menyebutkan, berdasarkan data Polish Journal of Food and Nutrition, bonggol jagung merupakan makanan berserat tinggi yang mengandung lignin(15%), selulosa (45%) dan hemiselulosa (35%). Selain itu, bonggol jagung aman untuk di konsumsi karena kandungan seratnya yang tinggi. 

“Kami menamai kukis tersebut dengan nama Mais de’ Kolf. Camilan ini  memiliki kandungan kalori per kemasan sebesar 24 kalori sesuai anjuran Garis Besar Pola Makan dan Pola Hidup sebagai Pendukung Terapi DM. Ide pembuatan kukis ini kemudian kami ikut sertakan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) kategori Kewirausahaan (PKM-K) yang diadakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kemdikbud RI. Saat itu ,kami bahkan berhasil mendapatkan Juara 2 PIMNAS pada kategori tersebut yang hasilnya setara dengan Medali Silver,” terang Nasya. 

Ia mengungkapkan, nama kukis Mais de' Kolf diambil dari bahasa belanda yang berarti "bonggol jagung" sebab berbahan dasar tepung bonggol jagung yang rendah kalori (1 keping kukis 9 gram hanya mengandung 33 kalori). Hal ini cocok dijadikan camilan bagi penderita DM yang perlu menjaga asupan kalorinya. Kukis ini memiliki bahan lain berupa kacang tanah dan gula stevia sebagai penstabil rasa. Selain itu, kukis ini dilengkapi saran penyajian dan penyesuaian packaging yang selaras dengan anjuran dokter gizi (1 kemasan berisi 4 keping kukis untuk 1x sesi ngemil) sehingga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi konsumen.

Timnya berharap bahwa adanya kukis ini bisa berdampak pada pemenuhan camilan lezat rendah kalori yang cocok dan aman bagi penderita DM. Di sisi lain, pemanfaatan bonggol jagung menjadi camilan dapat berkontribusi dalam mengurangi efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh penumpukan bonggol jagung yang menghasilkan gas metana. Dari segi sosial, kata Nasya, inovasi kukis Mais de' Kolf diharapkan menjadi sarana edukasi terkait anjuran konsumsi bagi penderita DM yang diketahui terus meningkat jumlahnya di Indonesia (10,3 juta penderita DM pada tahun 2017).

“Ke depannya, kami ingin produk ini bisa dilakukan uji kandungan gizi lebih lanjut di laboratorium canggih sehingga mendapat izin untuk dikomersialisasikan dan diproduksi secara massal sehingga dapat memenuhi permintaan akan camilan rendah kalori, khususnya bagi penderita DM,” ucap Nasya.