Berita

Studium Generale KU 4078 Adi Panuntun Inisiasi “Sembilan Matahari” Jadi Agen Perubahan Tayangan

Jumat, 05 Februari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Sembilan Matahari merupakan sebuah rumah produksi yang menampilkan  video mapping dan sukses membuktikan bahwa teknologi dan kreativitas bisa  melebur harmonis.  Co-Founder Sembilan Matahari, Adi Panuntun menyampaikan hal tersebut saat jadi pembicara utama Studium Generale KU 4078 secara daring, Rabu lalu (3/2/2020).

“Satu visi yang juga jadi concern kami, saya dan adik saya yang merupakan Founder Sembilan Matahari, bagaimana kami bisa menjadi agen perubahan dengan bidang yang kami tekuni. Kami yakin, dengan bidang yang kami tekuni sungguh-sungguh, bisa menciptakan sebuah perubahan. Setidaknya, bisa jadi pemicu adanya inspirasi untuk membuat perubahan itu sendiri. Saat itu, kami sangat gemes dengan tayangan-tayangan TV yang begitulah, makanya kami buat Sembilan Matahari, sebuah wadah memproduksi tayangan alternatif berkualitas yang bisa jadi pilihan masyarakat,” ungkap Adi.

Ia pun mengisahkan, bagaimana kehidupan sejak mahasiswa membentuk ia dan sang adik menjadi seseorang yang terbuka pada segala perbedaan. Sejak masih mengenyam pendidikan di ITB, pria yang akrab disapa Atun ini pun mengambil program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) sedangkan sang adik Sony Budi Sasono belajar bidang sains. Bagi Adi, komunikasi dan obrolan pada dua disiplin ilmu yang berbeda tersebutlah, yang membentuk pola pikir ia dan sang adik berbeda.

“Meski saya belajar DKV tapi waktu kuliah dulu, saya sering sekali ikut kuliah umum di bidang sains.  Kami terbiasa ngobrol tentang hal-hal yang sama tapi dari perspektif dan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda. Adik saya ini pola pikirnya researcher banget jadi pendekatan yang ia lakukan sangat scientific, terstruktur, dan runut. Berbeda dengan saya, yang kalau berpikir  tuh lompat sana sini, kadang ga berurutan, kadang tidak logis juga. Tapi kami berdua itu sering kali membuat karya bersama, termasuk saat masih di kampus. Maka sejak kuliah hingga sekarang kami memutuskan membuat perusahaan sendiri,” terangnya.

Sembilan Matahari, bahkan kerap disebut sebagai inisiator yang mempopulerkan seni video mapping di Indonesia. Sederet penghargaan pun diraih baik nasional maupun internasional. Sebut saja di tahun 2013, Sembilan matahari berhasil meraih penghargaan di Jepang, dan disusul di Moskow, Rusia, yang jadi tanah kelahiran dari video mapping.  Lalu karyanya mendapatkan perhargaan pula di Mapping Festival jeneva-Swiss, World of Projection Mapping di Jepang, serta Wonder of Fantasy, Arts, and Technology Exhibition di Taiwan.

Diakuinya, banyak tantangan serta kendala dalam membuat karya seni audio visual tersebut. Teknologi yang terus semakin maju serta berbagai permintaan jasa untuk bisa dikreasikan dengan video mapping pun terus berdatangan. Hal ini memicu ia dan timnya terus berkreasi dan tak gagap pada perkembangan teknologi. Sembilan Matahari pernah sukses menjadi penyedia pertunjukan audio visual yang menuai decak kagum Asia pada perhelatan Asia Games beberapa waktu lalu. Lalu, hadirnya berbagai project audio visual di beberapa museum bersejarah di Indonesia adalah buah karya dari Adi bersama timnya.

“Kami, Sembilan Mahatari tumbuh di atas keharmonisan perbedaan. Saya meyakini, bahwa ke depan, semakin kita kolaboratif dengan siapapun baik itu yang berbeda disiplin ilmunya, latar belakangnya, semakin membuat kita bisa inovatif dan semakin adaptif dalam menghadapi berbagai kondisi. Bahkan, sebagai sebuah perusahaan di tengah pandemi, saya yakin kita bisa bertahan melewatinya,” ucap Adi.