Berita

Studium Generale KU 4078, Budi Gunadi Sadikin,  Belajar Kepemimpinan yang Berasal dari Hati

Senin, 15 Februari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, akan tetapi hal itu bukan pula hal yang mustahil dilakukan. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin membagikan beberapa tips soal kepemimpinan, saat jadi pembicara utama pada Studium Generale KU 4078, Rabu lalu (10/2/2021). 

“Sebenarnya pengalaman soal kepemimpinan ini sudah saya alami sejak kuliah di ITB. Sejak SMA, saya selalu Juara 1 lalu saat masuk ITB saya sadar bahwa banyak sekali orang-orang yang jauh lebih pintar dan cerdas dari saya. Dari berbagai pengalaman bergaul dan berkegiatan di kampus, saya jadi memetik hikmah bahwa sehebat apapun kita, akan selalu ada yang lebih hebat dari kita,” ucapnya. 

Menurutnya, seorang pemimpin itu tidak hanya perlu pintar tapi juga memiliki faktor-faktor pendukung lainnya yang tak kalah penting. Ia mengatakan, ada beberapa tahapan pendidikan yang harus dijalani seorang pemimpin. Pertama, ada pada tataran fisik karena seorang pemimpin harus memiliki fisik yang kuat dan hal itu bisa terlatih sejak kecil melalui beragam kegiatan. Kedua, perlunya tataran pendidikan akal, dimana seorang pemimpin harus punya wawasan dan cerdas dalam mengambil keputusan sesuai dengan akal sehatnya. Berikutnya, adalah tataran jiwa dan hati yang bagi Budi, adalah hal yang sangat penting diantara hal lainnya. 

“Dengan fisik dan akalnya, seorang pemimpin bisa saja memiliki keahlian dalam membangun sesuatu yang kuat, kokoh, dan juga indah. Tapi, tanpa hati dan jiwa yang baik, bisa saja bangunan itu tidak berguna bagi sesamanya. Untuk itu, keempat tataran pendidikan fisik, akal, hati, dan jiwa ini harus terus diasah. Dan saya beruntung karena di ITB semua hal tersebut bisa kalian asah,” terangnya, 

Ia pun menceritakan berbagai pengalaman kerjanya saat memiliki atasan orang asing. Bagaimana budaya kerja asing dan pandangan seseorang terhadap capaian prestasi orang lain, menjadikannya belajar banyak hal. Baginya, prestasi yang diraihnya saat ini tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan pendidikan yang mengajarkannya untuk tetap rendah hati dan berjiwa besar. 

Faktor kelima, yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kerendahan hati soal intelektualitasnya. Menurut Budi, seorang pemimpin tidak boleh merasa dirinya yang paling pintar, bahkan ia pun berceloteh, meski lulusan ITB tapi soal penyakit dan kesehatan maka dokter dan pakar kesehatan yang paling mengerti soal hal tersebut. Untuk itu, jadi seorang pemimpin bukan hanya perihal tingginya jabatan saja, tapi juga bagaimana menjadi lebih rendah hati secara intelektual mengakui keahlian orang lain. 

Poin selanjutnya, keenam, yakni pemipin harus bisa meliha potensi dari orang-orang di sekelilingnya. Dengan kecerdasannya, ia bisa memillih seseorang sesuai keahlian serta mengembangkan potensi bawahannya. Baginya, kepemimpinan bukan soal memerintah saja, tetapi juga harus cerdas menempatkan seorang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat pula. Terakhir, pesan Budi, jadilah pemipin di suatu tempat bukan karena uang tapi lihat bagaimana tempat itu bisa jadi peluang untuk mengembangkan keahlian dan kemampuannya. 

“Kepemipinan itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan di kelas atau pun melalui Webinar. Kepimpinan itu bisa dilihat di rumah, di tempat kerja, dimana kita tak hanya bisa melihatnya tapi juga mempraktekannya,” pungkas Budi.