Berita

Buat Alat Pendeteksi Stres Berbasis Pemeriksaan Urine, Mahasiswa ITB Raih Medali Emas dan Perunggu

Selasa, 23 Februari 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Stresa tau depresi kerap dirasakan pada usia mahasiswa. Tak heran jika peran konsultasi bimbingan konseling diperlukan. Akan tetapii, untuk mendeteksi adanya stress atau depresi pada diri seseorang, mahasiswa ITB membuat sebuah alat deteksi dini sederhana berdasarkan pemeriksaan urine. 

Adalah Maha Yudha Samawi, Alifia Zahratul Ilmi, dan Gardin M. Andika Saputra yang membuat alat pendeteksi depresi berbasis pemeriksaan urine. Dari idenya tersebut, mereka berhasil meraih medali Emas untuk kategori Presentasi dan medali Perunggu untuk kategori Poster, pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) -Karsa Cipta, beberapa waktu lalu. 

Ide tersebut merupakan usulan sebuah solusi alat pendeteksi depresi non-invasive berbasis biomarker spesifik pada urin. Menurut salah seorang anggota tim, Maha Yudha Samawi, atau yang akrab disapaa Yudha, alat ini bekerja dengan mendeteksi beberapa biomarker spesifik yang berpotensi besar dapat mengindikasikan depresi berupa sorbitol, asam urat dan asam azelat. Biomarker ini akan dideteksi dan diukur dengan metode elektrokimia untuk kemudian diputuskan apakah seseorang mengidap depresi atau tidak. 

“Alat ini merupakan inovasi alat pendeteksi depresi klinis noninvasif pertama di Indonesia. Umumnya deteksi depresi masih menggunakan kuisioner yang rawan risiko subjektifitas pasien akibat harapan akan kondisi yang dialaminnya. Berangkat dari situ kami membuat alat deteksi yang bersifat klinis, di mana menggunakan biomarker atau zat penanda yang dihasilkan tubuh akibat perubahan metabolisme saat seseorang terkena depresi untuk mengurangi risiko subjektifitas. Biomarker yang kami gunakan adalah asam azelat, asam urat dan sorbitol yang terdapat di urin,” terang Yudha. 

Ia mengatakan, biomarker di urin digunakan untuk memudahkan penggunaan sehingga alat ini dapat dipakai oleh masyarakat umum tanpa tenaga ahli, karena acap kali penderita depresi cenderung malu untuk memeriksakan kondisi kejiwaannya. Penggunaan alat ini cukup dengan mengeluarkan busa pada kompartemen utama, digunakan seperti test pack kehamilan, masukkam kembali, dan masukkan ke kompartemen utama. Setelah beberapa menit, maka hasil akan ditampilkan di layar. 

Hasil alat ini, kata Yudha, dikalibrasi dengan tes BDI yang saat ini umum digunakan di kedokteran jiwa, sehingga terdapat 3 level penderita depresi, yakni rendah, sedang, dan berat. Selain menampilkan hasil, alat juga memberikan tips kegiatan yang dapat dilakukan oleh penderita depresi ringan, dan contact center untuk penderita depresi sedang dan berat sehingga dapat segera mendapat penanganan ahli.

“Kami berharap, alat ini dapat mengurangi fatalitas depresi yang secara signifikan menurunkan produktifitas masyarakat, sehingga di masa mendatang angka kasus depresi dapat menurun dan produktifitas masyarakat dapat meningkat,” ucap Yudha.