Berita

Studium Generale KU 4078, Addie MS, Tak Hanya Sekadar Memikirkan Musik

Selasa, 06 April 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, DItmawa ITB – Music Director Twilite Orchestra, Eddie MS, mengungkapkan pada akhirnya sebagai musisi ia tak hanya memikirkan soal musik saja. Melainkan juga bagaimana sebagai musisi bisa berkiprah dan berkontribusi pada perjuangan bangsa Indonesia. 

“Sehebat-hebatnya kita berkarir, berkiprah di bidang yang kita sukai, tapi kalau bangsa kita sengsara, tidak maju, tertinggal, semua itu untuk apa. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk negeri ini. Setiap orang bisa berjuang untuk bangsanya, ada yang jadi polisi, TNI, akademisi dan lainnya. Di sinilah saya berpikir bahwa dengan kemampuan yang saya miliki, saya bisa mengangkat seni, musik tradisional, serta kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia,” ungkapnya saat menjadi 

Sepanjang hidupnya, Addie MS mengaku menghadapi 3 tantangan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupannya kini. Pertama, saat ia harus menentukan arah pendidikannya usai lulus sekolah menengah atau SMA. Ia menuturkan, bahwa orang tuanya meminta ia meneruskan perusahaan, akan tetapi Addie bersikukuh untuk menjadi musisi bagi kehidupannya. Meski berat hati, namun Addie bertekad tidak akan menerima dana dari orang tuanya karena keputusannya tersebut. 

“Waktu itu saya sampaikan pada orang tua bahwa hidup itu hanya satu kali, dan saya ingin melakukan apa yang saya sukai. Saya yakin, jika kita mengerjakan hal yang kita sukai, setiap hari, itu tidak seperti orang yang bekerja,” ujar Addie. 

Ia menuturkan, sejak lepas dari pembiayaan orang tua, ia mulai mencari beberapa pekerjaan sampingan. Dari hasil bermain musik, ia pun rajin menabung demi bisa menonton pertunjukan-pertunjukan musik di luar negeri sebagai referensi dalam membuat musiknya. Berkat ketekunan dan kegigihannya itu, Addie pun berhasil membuat musik-musik yang indah. HIngga akhirnya di tahun 1982, ia mendapatkan tantangan mengerjakan album Vina Panduwinata. Tantangan kedua dalam capaian hidupnya tersebut, membuatnya terpaksa mengerjakan project album dengan bayarannya sendiri. Saat itu, Addie yang bersikukuh mengiringi suara lantunan Vina Panduwinata dengan grup orchestra ternama dan high cost, membuat produser enggan memenuhi keinginan Addie tersebut. Dengan seluruh bayaran project tersebut, Addie nekat memakai grup orchestra. Di luar dugaan, akibat keputusannya itu, Addie berhasil membuat gebrakan musik di tanah air dan berhasil mendapatkan banyak kepercayaan untuk project-project musik yang besar. 

Tantangan selanjutnya, adalah saat ia sudah berada di zona nyaman. Usai mendapatkan banyak penghargaan nasional maupun internasional, project album yang begitu banyak, hingga menjadi salah satu musisi yang disegani, tiba-tiba Addie merasa ada kekosongan dalam hidupnya. Seolah-olah, musik yang ia hasilkan merupakan hasil dari orientasi uang. Ia pun mulai merasa jenuh dan mencari apa yang bisa dilakukan untuk bangsa Indonesia. Singkat cerita, ia pun bertekad mengangkat musik kepahlawanan Indonesia, serta kekayaan budaya Indonesia melalui arasement musik dengan konsep orchestra. Lagu tradisional dilantunkan dengan orchestra full yang membahana dan dimainkan di ruang-ruang internasional. 

“Tantangan-tantangan itu saya hadapi dan terus berusaha mencari jalan keluar terbaik. Hingga akhirnya saya menemukan semangat untuk membangun bangsa melalui apa yang saya miliki.  Karena pada akhirnya, ini semua bukan musik saja, tetapi juga mencari relevansi dan alasan-alasan, mengapa saya ada di sini, di Indonesia, dan mengapa saya harus jadi musisi. Karena untuk berguna bagi bangsa ini,” pungkasnya.