Berita

Studium Generale KU 4078, Nurul Ghufron, Indonesia Tidak Hanya Butuh Orang Pintar Tapi Juga Berintegritas

Rabu, 07 April 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB – Wakil Ketua Komisi Anti Korupsi (KPK) RI, Nurul Ghufron menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia-manusia yang pintar dan cerdas. Lebih dari itu, manusia Indonesia yang memiliki integritas dinilai sudah mulai langka. Untuk itu dibutuhkan manusia yang memiliki kecerdasan dan nilai integritas untuk membangun Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan. 

“Banyak lulusan dar perguruan tinggi yang pintar dan cerdas, tapi yang memiliki integritas bisa dikatakan langka. Jadilah bagian dari manusia yang langka itu. Saya yakin, saat anda memiliki nilai integritas, maka personal anda akan sukses, keluarga anda akan sukses, masyarakat akan sukses, begitu pun dengan bangsa ini. Kelangkaan inilah yang membuat Indonesia meski memiliki banyak orang yang pintar tapi tidak mampu membangun bangsa Indonesia yang sejahtera dan adil,” paparnya saat jadi Pembicara Utama pada Studium Generale ITB KU 4078 secara virtual (7/4/2021). 

Menurutnya, di dalam perspektif anti korupsi ada 9 nilai integritas yang harus dimiliki. Pertama, adalah kejujuran. Setelah itu, kejujuran yang dimiliki akan meciptakan kepedulian, dimana hidup seseorang tidak hanya soal dirinya sendiri tapi juga peduli pada nasib orang lain. Lalu muncul kemandirian, yang diiringi oleh tanggung jawab, kerja keras, hidup sederhana, dan adil. Baginya, saat kesembilan nilai integritas itu dimiliki, maka seseorang akan menjadi figure personal yang dicari di era ini. 

Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dari tahun 2010 hingga 2019, pihaknya mengklaim bahwa nilai Indonesia naik sedikit demi sedikit. Namun di tahun 2020, nilai tersebut kembali turun drastis. Ia menilai ada beberapa hal yang menjadi penyebab merosotnya nilai IPK Indonesia. Diantaranya di sektor usaha dan politik, dan hal ini relevan dengan capaian survey yang dilakukan KPK sebelumnya. 

Integritas, kata Nurul, bukan hanya persoalan bangsa dan negara saja. Melainkan juga persoalan diri sendiri, yang berkaitan dengan kebutuhan orang lain. Integritas hanya bisa dimulai dari diri sendiri, yang kemudian akan berdampak pada kehidupan masyarakat sekitarnya, komunitas, hingga bangsa dan negara. Integritas yang dimaksud adalah keselerasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan yang selaras dengan norma yang berlaku. 

“Mengutip apa yang disampaikan Buya Hamka, jika kita hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika kita kerja hanya sekedar kerja, kera juga bekerja. Artinya, kehidupan kita tidak hanya persoalan menyenangkan hidup sendiri saja, mengenyangkan perut diri sendiri saja, tetapi juga peduli dan berdedikasi bagi kehidupan di sekitarnya,” ucapnya.