Berita

Studium Generale KU 4078, Gibran Huzaifah, Jadi Solusi Pembudidaya Ikan Dengan Teknologi eFIshery

Jumat, 16 April 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, DItmawa ITB –  Sektor pertanian dan perikanan jadi salah satu sektor ekonomi Indonesia yang dinilai masih minim inovasi teknologi, tidak seperti di sektor lainnya. Hal ini diungkapkan CEO dan Co-Founder eFishery, Gibran Huzaifah saat jadi pembicara utama pada Studium Generale KU 4078, belum lama ini (14/4/2021). 

“Indonesia memiliki potensi yang besar dalam budidaya ikan. Hingga kini masih banyak sekali pembudidaya ikan yang memberi pakan dengan cara yang tradisional. Sehingga hasil dari budidayanya tidak maksimal. Saya melihat ini soal teknologinya yang belum tepat. Belum lagi ada masalah lingkungan yang disebabkan dari pemberian pakan ikan yang masih tradisional itu,” terang Gibran. 

eFishery diklaim menjadi salah satu penghasil teknologi terbesar di sektor budidaya ikan dan diakui  secara nasional maupun internasional. Bagi Gibran, inovasi di tataran pembudidaya terutama pedesaan sangat penting. Hal ini menyangkut konsumsi masyakarat secara luas akan kebutuhan makanan sehari-hari. Untuk itu, melalu eFishery, Gibran berharap bisa memberikan solusi dengan teknologi yang semakin mempermudah para pembudidaya dalam mengolah ikan-ikannya. 

Sejak didirikan tahun 2013 lalu, eFishery terus berkembang dengan inovasi berupa Smart Feeder. Alat ini adalah teknologi pemberi pakan otomatis yang juga mampu mencatat data pemberian pakan bahkan hingga pertumbuhan ikan. Tak hanya itu, Gibran menyebutkan bahwa eFishery terus berkembang jadi perusahaan Aquaculture Intelligence pertama di Indonesia. Tak hanya berevolusi dari sisi inovasi teknologi saja, eFishery juga menghadirkan solusi  untuk memecahkan masalah-masalah yang lebih besar di sektor aquaculture secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. 

“Hingga kini kami sudah membantu sekitar 2000 pembudidaya ikan di Indonesia. Adapun cakupan wilayahnya sebanyak 28 provinsi dan 120 kota lebih di Indonesia. Jika pada awalnya kami menciptakan solusi terhadap masalah pakan yang masih tradisional, kini selain teknologi kamu pun membuat koperasi untuk membantu pembiayaan dari para pembudidaya tersebut,” kata Gibran. 

Segala usaha sukses yang berhasil dibangunnya bukan tanpa adanya cerita perih. Baginya, masa-masa perkuliahan di Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB, adalah masa yang penting dan menentukan masa depannya. Moment dimana ia pernah merasa kelaparan berhari-hari, hingga terus bertahan hidup di sela-sela komitmennya untuk tidak bergantung pada orang tua, membentuk karakter dan daya juangnya saat ini. 

“Kunci lahirnya sebuah inovasi adalah karena kita dekat dengan masalah. Ya saya dulu waktu mahasiswa selalu menemukan masalah-masalah yang akhirnya menggiring saya menemukan solusi bagi hidup saya. Hal yang jadi pelajaran saya memulai bisnis ini dari nol adalah mulailah dari hal kecil, dan mulai saat itu juga. Moment kesulitan hidup yang pernah saya lewati juga membantu saya menemukan WHY dalam hidup ini. Kenapa saya kuliah, kenapa saya harus berusaha, kenapa saya hidup di sini. Jika kita menemukan alasan kuat kenapa kita berusaha, maka kita pasti bisa menjalaninya,”tutupnya.