Berita

Mahasiswa ITB  Raih Juara 1 Schneider Go Green 2021 dan Wakili Indonesia di Ajang Asia Pasifik

Selasa, 20 April 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa -  Tim mahasiswa ITB, Carragenergy yang beranggotakan Yumna Dzakiyyah (Teknik Elektro 2019) dan Richie Fane (Teknik Industri 2019) berhasil menyabet juara 1 pada kompetisi Schneider Go Green 2021 belum lama ini. Hal tersebut sekaligus menobatkan keduanya menjadi Country Winner Schneider Go Green 2021 dan akan mewakili Indonesia di Regional Final untuk Asia Pasifik. 

Pada kompetisi itu, tim Carragenergy membuat organic rechargeable battery. Uniknya, alat tersebut memanfaatkan elektroda organik dan solid-state biopolimer elektrolit dari ekstrak rumput laut merah. Alat yang dinamai “Carrageenan” tersebut, diharapkan bisa jadi solusi untuk green, safe, dan sustainable energy. 

“Berawal dari fakta bahwa pengelolaan limbah baterai di Indonesia sangatlah buruk dan memerlukan biaya yang besar untuk pengelolaannya, kami tertarik untuk mencari solusi untuk mendukung ketersediaan green energy yang berkelanjutan. Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan alam berlimpah salah satunya rumput laut tetapi pemanfaatannya saat ini belum optimal,” terang Yumna. 

Melalui studi literatur, diskusi bersama mentor, dan prototipe, ia dan timnya mendapati sebuah fakta menarik. Bahwa rumput laut Ketika diekstrak maka terdapat konduktivitas yang baik, sehingga berpotensi untuk menjadi material dalam Electrochemical Energy Storage. Timnya menilai bahwa Schneider Go Green sebagai peluang yang besar untuk mewadahi ide ini dan sebagai step forward untuk bisa mewujudkan ide tersebut. 

Timnya melakukan persiapan dilakukan sejak bulan Januari. Dimulai dari brainstorming idea dan validate idea dan untuk prototyping mulai dikerjakan di bulan Maret. Meski meraih juara, namun Yumna mengakui bahwa timnya sempat mengalami kendala. Salah satunya yakni keterbatasan pengujian langsung karena pandemik. Saat itu, posisi Yumna berada di Kalimantan Tengah, sedangkan Richie di Jambi. 

“Lokasi keberadaan kami yang masing-masing jauh tentu tidak memungkinkan bagi kami untuk melakukan laboratorium test di kampus. Hal ini jadi tantangan tersendiri bagi kami, untuk tetap bisa melakukan prototipe produk di tengah keterbatasan tersebut. Dengan menggunakan beberapa pendekatan, akhirnya kami bisa melakukan prototipe sederhana untuk menguji hipotesis kami dengan bahan dan alat yang tersedia,” ucap Yumna. 

Ia menuturkan, Schneider Go Green merupakan kompetisi global yang diselenggarakan oleh Schneider Electric dan AVEVA. Lomba ini diperuntukkan bagi mahasiswa untuk menumbuhkan minat dan memfasilitasi generasi muda untuk ikut ambil bagian mencari solusi dalam pengelolaan energi dan otomasi industri yang efisien dan berdampak positif terhadap lingkungan melalui Bold Idea. Schneider Go Green  pun merupakan bagian dari komitmen global Schneider Electric dalam membuka akses ke energi untuk setiap orang (Acess to Energy for Everyone). 

“Untuk tahun ini, semua kegiatan mulai dari Country phase, Regional, hingga Global diselenggarakan secara virtual karena pandemic Covid 19,” pungkasnya.