Berita

Jadi Trainer Handal Abad Bioskop Ala Peace Generation

Sabtu, 17 Juli 2021 - Anne Rufaidah

BANDUNG, Ditmawa ITB -  Dalam Program Pengembangan Karakter Strategi Menjadi Pribadi efektif (SMPE) Strategi Sukses di Kampus (SSDK), hadir sebagai pembicara Trainer dari Peace Generation, Irfan Nazhran. Pada kesempatan tersebut, Irfan menyampaikan hal-hal yang perlu dimiliki seorang trainer masa kini.

“Ada beberapa rumus yang harus dimiliki seorang trainer masa kini. Saya menyebutnya DENGAR JANG, dimana itu dimaksudkan Dedikasi, Ekspresikan, Netral, Gangguan dihilangkan, Amati isi pembicaraan, Respon, dan JANGan memotong. Seorang trainer wajib memiliki keahlian tersebut,” ujar Irfan saat mengusung tema pelatihan trainer Saatnya Jadi Trainer Abad Bioskop, siang tadi (17/7/2021).

Menurutnya, rumus tersebut menjadi acuan seorang trainer dalam menyampaikan materi yang akan disampaikan pada para peserta training. Tak hanya itu, ada beberapa keahlian yang perlu dikuasai pula oleh trainer masa kini. Seorang trainer, kata Irfan, harus mampu menciptakan suasana nyaman dalam pembelajaran. Hal ini dimaksudkan, agar peserta juga termotivasi untuk bisa saling berbagi, saling menghormati, dan tidak merasa takut dalam berpendapat. Hal itu bisa dilakukan dengan membuat rangkaian kegiatan yang bisa membuat peserta merasa erat satu sama lain.

Selain itu, trainer pun harus mampu menerapkan active learning, dimana peserta diajak untuk melakukan aktivitas, refleksi, konsep, serta aplikasi dari materi-materi yang diajarkan. Hal yang tak kalah penting, kata Irfan, yakni trainer harus mampu mengelola dinamika kelompok. ini dinilai berguna agar diskusi antara trainer dengan peserta tidak cepat jenuh.

“Dinamika kelompok ini bisa dilakukan baik secara individual melalui pemberian tugas perorangan. Bisa juga dilakukan berpasangan, dalam sesi sharing grup kecil dan bahkan grup besar. Dinamika kelompok ini penting agar semua peserta merasa terlibat dan tidak didominasi,” ucap Irfan.

Ia menuturkan, ada perbedaan mendasar antara seorang trainer dengan teacher alias guru. Dari beberapa aspek, trainer harus mendorong peserta dalam menyampaikan pendapat dan menemukan sendiri pembelajaran secara partisipatif. Selain itu, trainer pun mampu melempar pertanyaan dan menguatkan peserta menemukan arti pembelajarannya, bukan diajari. Hal ini tentu berbeda dengan peran teacher/guru terdahulu, yang cenderung lebih banyak mendominasi kelas, dan mengajari peserta didik.

Senjata seorang trainer, menurutnya adalah pertanyaan. Jika pertanyaan tajam, maka akan mampu memancing jawaban peserta yang berkualitas. Namun, jika pertanyaannya tumpul, maka trainer akan terjebak menjadi seorang penceramah. Hal ini dianggap menjadi kesalahan fatal bagi seorang trainer.

“Salah satu kekuatan seorang trainer yaitu dengan mengajukan pertanyaan yang mampu enggiring peserta diskusinya untuk menemukan jawabannya,” pungkas Irfan.