Berita

LKM ITB VIII 2021, Kembangkan Pola Pikir Positif untuk Hadapi Tantangan Masa Depan

Selasa, 14 September 2021 - Anne Rufaidah 185

BANDUNG, Ditmawa ITB – ITB kembali menggelar Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) VIII secara daring pada 4 dan 11 September 2021. Di hari pertama penyelenggaraannya, hadir sebagai pembicara utama mantan Presiden Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) ITB periode tahun 2017-2018, Ardhi Rasy Wardhana S.T. 

Ia pun menceritakan pengalamannya untuk mendapatkan beasiswa di kampus favoritnya, Columbia University di New York, Amerika. Mengambil program Master of Public Administration, Ardhi merasa bahwa itu merupakan perjuangan yang sangat menantang dan emosional. Ia menyakini bahwa perjalanannya untuk meraih cita-citanya itu sangat dipengaruhi oleh mindset atau pola pikir yang dimilikinya saat itu. 

“Mindset adalah senjata paling kuat dan itu tempat kita melihat dunia ini secara lebih objektif. Saya yakin, saya butuh meneruskan pendidikan untuk mengembangkan diri lagi. Lalu semangat yang muncul itu kemudian merangsang semua elemen dalam tubuh ini untuk berusaha menggapai hal lebih banyak lagi,” terang Ardhi. 

Ia mengatakan, ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap pola pikir positif. Diantaranya pola pikir itu sendiri, manajemen emosi dan motivasi diri. Beberapa keterampilan berpikir yang dimiliki seseorang dan hanya bisa didapatkan di luar kelas, seperti berpikir secara holistik. Dimana kita observasi langsung, membuka mata terhadap kebenaran yang berasal dari orang lain, dan membuka pikiran terhadap pemikiran orang lain. Hal ini bisa mengembangkan suatu pemikiran yang telah dibangun untuk solusi dari sebuah masalah. 

Kemudian, beripikir kritis dan dialogis. Hal ini bisa dilatih dengan cara merenung/refleksi terhadap diri sendiri misalkan mengoreksi performa atau gaya belajar diri sendiri. Selain itu, ada juga berpikir konstruktif dimana memunculkan ide atau suatu hal yang baru tetapi tidak hanya sekadar hal baru saja tetapi juga dalam konteks keeratannya dengan relasi sosial (hubungan sosial) dimana keterampilan komunikasi yang baik diperlukan dalam aspek berpikir konstruktif. 

“Kita juga harus berpikir inovatif dengan memunculkan hal baru, mendisrupsi hal baru. Membuat suatu kondisi yang sifatnya berubah dari status normal (biasa-biasa saja) menjadi luar biasa. Find the breakthrough! Mencari terobosan dan memiliki hal-hal yang disangsikan,” terang Ardhi.