Berita

Studium Generale Rhenald Kasali, Bersikap Adaptif dan Produktif di Era Double Disrupsi

Rabu, 22 September 2021 - Anne Rufaidah 379

BANDUNG, DItmawa ITB -  Jika sebelumnya Indonesia dinilai tengah berada di era disrupsi, bahkan kini Indonesia memasuki era Double Disruption yang diyakini merupakan bagian dari dampak hadirnya pandemi Covid-19 selama beberapa tahun belakangan ini. 

Hal itu diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Menejemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali Ph.D saat menjadi pembicara pada Studium Generale KU 4078  yang digelar secara daring pada 22 September 2021. 

“Perubahan yang sangat cepat terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Dunia digital membuat kita saling terhubung dan jadi lebih terbuka. Pemicunya adalah teknologi dan populasi manusia. Populasi yang meningkat tajam setiap tahun dan adanya perubahan teknologi yang semakin cepat, membuat politik, kebijakan, dan banyak sektor di dunia ini pun ikut berubah,” ucap Rhenald. 

Menurutnya, sektor yang turut berubah tersebut adalah bentuk perusahaan, proses bisnis, model bisnis, kepemimpinan, politik, kebudayaan, pengetahuan, kehidupan sosial, gaya hidup, demokrasi, perang hingga konflik. Dobel disrupsi, Rhenald membaginya dalam dua bagian, yakni Digital Disruption dan Pandemic Disruption. Keduanya berpengaruh pesat terhadap kehidupan manusia baik dari sisi kecepatan, efisiensi, pola bisnis logistik, jenis kompetisi yang baru, hingga hal lainnya. Ditambah lagi kondisi pandemi yang tengah terjadi membuat kondisi ini semakil terdisrupsi. 

Disinggung mengenai masa depan jenis pekerjaan di Indonesia saar era ini, ia menyebutkan banyak pekerjaan akan tercipkan hingga tahun 2030 mendatang, daripada pekerjaan yang hilang akibat dari otomatisasi. Berdasarkan sumber daya dari McKinsey 2019, terdapat 23 juta jenis pekerjaan yang dapat digantiikan oleh otomatisasi. Akan tetapi pada data tersebut pun dijelaskan bahwa ada 27-46 juta pekerjaan baru yang dalam dibuat dalam satu periode. Ia pun menyayangkan, bahwa 23 juta pekerja di bidang tersebut belum tentu mampu menyerap 23 juta pekerja karena keterampilan maupun keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan.

Ia menyebutkan, ada beberapa bidang pekerjaan yang dianggap bersinar di era teknologi, Khususnya yang berkaitan dengan kesehatan, biotek, pangan dan artificial living, berhubungan dengan data, coding, diigital forensic, programmer, creative designer, fotografer, social media marketing, cyber security,  psychology, game developer, entertainment, analis saham, logistik, dan story teller yang berkaitan dengan perusahaan. 

“Untuk menghadapi tantangan itu diperlukan kemampuan yang mumpuni. Seperti kemampuan teknologi, kecerdasan sosial dan emosional, kecerdasan kontekstual, kecerdasan moral, hingga kecerdasan eksploratif dan transformasional,” tutup Rhenald.