Berita

Memaksimalkan Sinergitas Pengembangan Kegiatan Kemahasiswaan ITB

Jumat, 16 November 2018 - Anne Rufaidah

BANDUNG, LK – Dalam rangka meningkatkan sinergitas antara Lembaga Kemahasiswaan dengan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) ITB maka digelar Workshop Pengembangan dan Evaluasi Unit Kegiatan Kemahasiswaan ITB di The Jayakarta Bandung Suite Hotel and Resort, pada 15 November 2018, kemarin.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Ir. Bermawi Priyatna Iskandar,M.Sc., Ph.D mengungkapkan, ada sekitar 130 wadah kegiatan kemahasiswaan di ITB, dan 87  diantaranya merupakan unit kegiatan mahasiswa di luar himpunan. Dengan jumlah mahasiswa ITB yang begitu banyak, ia menyebutkan sekitar 70 persen mahasiswa melakukan kegiatan di UKM  dan himpunan tersebut. Keaktifan mahasiswa ITB disambut baik dengan dana yang cukup besar untuk setiap kegiatannya.

“Dari segi kompetensi, mahasiswa kita tidak diragukan lagi kemampuannya. Mereka bahkan menjadi yang terbaik di bidangnya. Namun secara softskill, mereka masih harus terus dibina dan dengan kegiatan kemahasiswaaan inilah menjadi peluang bagi mereka untuk terus berinteraksi, mengasah softskill yang mereka miliki agar kelak ketika masuk ke dunia kerja mereka memiliki karakter yang semakin baik,” ujarnya saat membuka acara tersebut.

Sementara itu, Ketua Lembaga Kemahasiswaan (LK-ITB) Dr. Eng. Sandro Mihradi menyebutkan sebagai lembaga yang memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan di ITB, pihaknya berharap agar komunikasi antar UKM serta dosen pembimbing bisa terjalin lebih intensif, agar kegiatan kemahasiswaan bisa lebih optimal. Bahkan, menurutnya, ada beberapa UKM yang selama ini keaktifannya dipertanyakan jika dilihat dari jumlah kegiatan yang didaftarkan ke LK.

“Kegiatan organisasi kemahasiswaan kita sampai bulan Oktober 2018 lalu saja sudah mencapai 1078 kegiatan induk, dengan kegiatan tururnannya yang mencapai 4.451 kegiatan. Ini artinya, mahasiswa kita memiliki banyak kesibukan, selain kesibukan akademiknya,” ujarnya.

Diakuinya, dari sekian banyak masukan dan saran yang diterima oleh LK masih didominasi perihal fasilitas. Ia menyebutkan, saat ini fasilitas bagi kegiatan kemahasiswaan di ITB memang belum bisa mengimbangi dengan jumlah kegiatan kemahasiswaan yang beragam. Terlebih, beberapa unit dengan kebutuhan khusus, masih terbentur kendala tempat yang khusus. Untuk itu, dengan acaranya workshop ini, pihaknya kembali menginventarisir saran untuk program kemahasiswaan selanjutnya, termasuk perihal sinergitas antar lembaga untuk pemenuhan fasilitas.

“Perihal fasilitas ini, memang terus kami upayakan. Hal ini tentu akan dibahas kembali sebagai pertimbangan untuk mengimbangi kebutuhan dukungan untuk kegiatan kemahasiswaan di ITB. Termasuk soal peremajaan alat-alat untuk UKM. Hal ini tentu membutuhkan proses cukup panjang dan memakan waktu yang tidak sebentar,” tandasnya.