Berita

Nyoman Nuarta : Lebih dari Sekedar Patung, GWK Adalah Identitas Indonesia

Selasa, 27 November 2018 - Anne Rufaidah

BANDUNG, LK – Pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali menghabiskan waktu sekitar 28 tahun. Waktu yang terbilang sangat lama, mengingat patung tersebut bahkan dibangun melewati beberapa era pergantian kepresidenan Republik Indonesia.

Sang senimn yang membangun patung tersebut, Nyoman Nuarta, menuturkan kisah suka maupun duka saat menjalani proses pembuatan patung GWK di hadapan ratusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam acara Studium Generale KU 4078 yang digelar di Aula Barat Kampus ITB Ganesha, beberapa waktu lalu.

“Patung yang dibangun di kawasan GWK Culturan Park, Desa Ungasan Kuta Selatan Bali ini, adalah patung yang sangat berarti bagi saya. Membangun patung yang sedemikian rumit, penuh pertimbangan sains, cipta, rasa, dan karsa ditumpahkan selama proses pembuatannya. Selama 28 tahun patung ini dibangun, banyak pihak terlibat, dan banyak pihak juga yang menjegal. Tapi patung ini tetap harus berdiri, karena patung ini tidak sekedar karya seni tapi juga akan jadi identitas bangsa ini,” ujar pria lulusan Fakultas Seni Rupa ITB tersebut.

Ia mengungkapkan, bahwa dulu kawasan tempat berdirinya patung GWK adalah kawasan miskin. Lalu dengan berdirinya patung GWK dan area wisata di daerah tersebut, maka perlahan-laha ekonomi masyarakat sekitar mulai membaik. Tak hanya itu, ia menilai dengan hadirnya patung ini, semangat dan pandangan terhadap sebuah mimpi itu banyak berubah, hal yang dikira tidak mungkin bisa dilakukan ternyata bisa terwujud.

Pembangunan patung GWK yang memakan waktu cukup lama ini pun diklaim sebagai pembuatan patung terlama yang pernah ia kerjakan selama berkecimpung sebagai seniman patung. Tidak hanya bicara soal karya seni, Nyoman pun menegaskan bahwa pembuatan patung GWK bisa dipertanggung jawabkan dari segi sains. Pasalnya, struktur patung yang cukup rumit, tingginya mencapai 75 meter dengan lebar 60 meter, memiliki berat hingga 4000 ton.

“Dengan ukurannya yang sangat besar dan berat luar biasa, patung ini didirikan di atas ketinggian, di atas bukit, dimana dari sudut mana pun di Bali, banyak orang bisa melihatnya. Hal ini tentu diperhitungkan segala sesuatunya, mulai dari bahan pembuatannya, struktur penyangga patung, dan sebagainya. Semua itu berdasarkan perhitungan yang matang,” terang Nyoman.

Baginya, patung GWK dengan perwujudan Dewa Wisnu adalah seorang Dewa Pemelihara bagi warga Hindu di Bali. Dimana patung menyimbolkan pelindung dengan misi penyelematan lingkungan Indonesia dan dunia. Ia berharap, segala emosi yang tercampur aduk dalam proses berdirinya patung ini menjadi simbol semangat Indonesia bahwa sesuatu hal yang tidak mungkin, bisa menjadi mungkin berkat sebuah kesungguhan.