Berita

Menyambut Era Ekonomi Digital dan Teknologi Disruptif

Kamis, 29 November 2018 - Anne Rufaidah

BANDUNG, LK -  Perubahan ekonomi di Indonesia, dipengaruhi besar oleh berubahnya era digital dan teknologi. Semakin berkembangnya sebuah teknologi, maka mau tidak mau, akan mengubah perilaku pasar ekonomi terhadap pemenuhan kebutuhananya.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Dr. Ir. Ismail MT., mengungkapkan Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang besar. Dari sekian juta penduduknya, hampir mendominasi penduduknya memakai perangkat selular, unik, serta pengguna aktif media sosial.

“Indonesia bahka memiliki market size ekonomi digital yang mencapai 100 miliar USD di tahun 2025 nanti. Itu artinya Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk terus mengembangan ekonomi digitalnya, hanya saja Indonesia belum menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,” ujarnya saat mengisi Studium Generale di Aula Barat, Kampus ITB, kemarin (28/11/2018).

Diakuinya, perubahan teknologi adalah faktor utama dalam perkembangan ekonomi digital saat ini. Ada 3 hal yang melatar belakangi hal tersebut, yakni sektor transportasi, sektor keuangan, dan juga sektor industry. Menurutnya ketiga hal tersebut merupakan faktor penyokong terbesar perubahan ekonomi digital di Indonesia.

Misalkan saja dari sektor transportasi, dengan munculnya ojek/taksi online. Adanya platform jasa semacam ini mengubah model bisnis dunia trasnportasi, begitu pun denganmekanisme bisnisnya. Hal ini pun terjadi dari sektor keuangan, dimana bbermunculannya fintech yang membuat perilaku konsumen terhadap proses transaksi berubah banyak dan mulailah muncul gerakan cashless. Lain dari kedua sektor tadi, sektor dunia bisnis pun mengalami banyak perubahan. Di dunia bisnis, perubahan disruptif semacam ini muncul akibat adanya artificial intelegence, block chain, cloud computing, big data, hingga security di bidang teknologi.

“Jika bicara soal ekonomi digital, ada banyak isu strategis yang bisa kita paralelkan untuk mengembangannya. Mulai dari infrastruktur, perubahan paradigm, regulasi dan suprastruktur, hingga digital talent,” terang pria lulusan ITB tersebut.

Tidak dipungkiri, kemajuan ini membuat beberapa profesi jadi “hilang”. Hal ini digantikan oleh teknologi, sehingga peran sumber daya manusia bisa lebih dimaksimalkan pada hal lain yang lebih strategis. Untuk itu, kata Ismail, tantangan tenaga kerja Indonesia ke depan bukan hanya soal hardskill saja melainkan juga softskill, basic-skill, hingga cross function-skill.

“Tantangannya memang semakin berat. Kita tidak hanya dihadapkan pada hardskill yang mumpuni, namun juga softskill yang selaras dengan core competence, dan holistic skill-nya,” tandasnya.