Berita

Mahasiswa ITB Juara di Kompetisi Debat Dunia

Kamis, 10 Januari 2019 - Anne Rufaidah

BANDUNG, LK- Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Kushay dan Vincentius Michael, menjadi salah satu tim perwakilan dari Indonesia yang berlaga di kontes debat bergengsi dunia, World University Debating Championship (WUDC) 2018. Tim ini berhasil menyabet juara dalam grand finals kompetisi debat tersebut, yang digelar di Cape Town, Afrika Selatan belum lama ini.

Ajang debat internasional ini diikuti sedikitnya oleh 278 tim dari ratusan negara yang berasal dari Eropa, Asia, Amerika, dan juga Afrika. Ada beberapa kategori dalam kompetisi debat tersebut, diantaranya kategori utama, ESL (English as Second language), dan EFL (English as Foreign Language). ITB berhasil menjadi grand finals terbaik dalam kategori EFL.

“Kompetisi debat ini sebenarnya terbuka untuk tim dari negara mana pun. Di Indonesia, untuk mengikuti kontes ini, harus mengikuti seleksi yang diadakan oleh Kemenristek Dikti. Karenanya tim yang lolos dari seleksi mendapatkan dana untuk pembiayaan selama mengikuti kontes tersebut,” ujar

Kemenristek Dikti pun memiliki program serupa kontes tersebut dengan skala tingkat nasional, yang bertajuk Nasional University Debating Championship (NUDC). Kontes ini diikuti oleh ratusn tim dari hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dan bagi tim yang lolos menjadi juara NUDC akan dikirimkan ke kontes WUDC di tahun berikutnya.

Untuk menghadapi kontes ini, timnya melakukan persiapan maksimal. Untuk menguatkan wawasan topik debat nanti, timnya rajin membaca berbagai artikel dari majalah maupun media seperti The Economist, The Atlantic, Aeon, New York Times dan sumber referensi lainnya. Penguasaan topik debat pun terus digodok mulai isu politik, ekonomi, sosial, seni, budaya, hingga isu terkini yang terjadi di Afrika Selatan.

Tak hanya penguasaan konten debat, tim ini pun melakukan persiapan softskill lainnya seperti latihan kemampuan bicara, komunikasi, kerjasama serta perilaku saat berdebat. Ahmad mengakui bahwa salah satu kriteria penilaian tertinggi dalam debat ini adalah isi dari debat itu sendiri, bukan hanya skill bicara Bahasa inggris saja.

“Sering kali ada anggapan bahwa debat Bahasa inggris adalah debat yang penilaiannya dilihat dari Bahasa inggrisnya mahir atau tidak. Padahal itu tidak benar. Penilaian tertinggi ada pada kriteria konten atau isi dari argument para pendebatnya, apakah data dan fakta yang ada mendukung logika argument mereka atau kurang,” tutup Ahmad.