Berita

The White Ghost

Senin, 04 Februari 2019 - Anne Rufaidah

Bale Wantian, Pura Bale Agung, jalan Raya Desa Katung, di antara ketiga tempat itulah kami berada waktu itu. Duduk bersama di atas mobil pick up. Bapak usai mengantarku ke puskesmas Kintamani untuk meminta vaksin rabies. Ya, aku baru saja digigit anjing liar dan masa itu memang masa rabies. Seketika, muncul angin yang menyapu pasir di depan mobil kami, membentuk bulatan bagai topan kecil. “Tidak apa-apa, hanya angin kecil,” jawab bapak dengan senyum.

Ya, beliau adalah sosok yang ramah dan disegani oleh masyarakat di desaku, terlebih lagi oleh siswanya di sebuah SD tempatnya mengajar.Hari itu berjalan baik-baik saja. Sangat harmonis, aku, adik, ibu, dan bapak bersenda gurau bersama di depan teras rumah yang beralaskan ubin putih. Bapak, selalu membuat guyonan kecil untuk mengejek adiku yang saat itu masih berusia 11 tahun. Dan ibu, yang tertawa kecil karena guyonan itu, sedikit-sedikit melempar senyum kepada Bapak. Sungguh hari yang berwarna. Rasanya ingin kuhentikan waktu sejenak agar aku tidak kehilangan momen itu.

Bulan menampakkan sinarnya, pertanda hari sudah malam. Aku berada di kamarku, untuk belajar persiapan olimpiade matematika keesokan harinya. Adiku juga sedang belajar karena akan menghadapi ujian nasional. Dan seperti biasa, ibu dan ayah melepas lelah dengan berbaring di kamar mereka. Malam itu, jam dinding berbunyi dengan detakan yang normal. Suara wartawan terdengar melaporkan berbagai tindakan kriminal di luar sana. Dan tiba-tiba! “Putuuuuuuuuuuu.” Ya, itu ibuku yang memanggil dengan suara lantang.

Segera aku menuju ke kamarnya. Tidak kusangka, Bapak, sosok yang begitu sempurna dimataku, telah meninggalkan kami untuk selamanya. Bapak, seorang kepala keluarga yang sangat menyayangi kami telah berpulang dan tidak akan kembali lagi. Tidak akan pernah! Aku tidak bisa menuliskan betapa sedihnya kami dan mereka ditinggalkan oleh sosok mulia.Hari demi hari, kehidupanku terasa hampa. Tidak ada warna, hanya ada tangisan dan perasaan sedih. Aku kehilangan sosok itu, sosok penasehat, sosok penyemangat.

Sampai malam itu tiba, “Gek, kamu harus sekolah ya minimal sampai S1 seperti Bapak. Kamu harus membimbing adik, jangan biarkan dia lalai dengan masa depannya!” Mataku terbuka, aku melihat sosok Bapak. Kata-kata itu, pesan yang pernah Beliau sampaikan semasa hidupnya padaku. ”Apakah aku benar-benar bertemu Bapak? Bapak di mana? Gek kangen dengan guyonan Bapak!” Sunyi, itu yang aku rasakan pada saat terbangun. Aku sadar itu hanya mimpi tetapi mimpi itu seakan membangunkanku yang terlarut dalam kesedihan. Tidak lama setelah mimpi itu, aku dinyatakan lulus dari jenjang SMP dan tentunya aku harus melanjutkan ke jenjang SMA. Aku lulus dengan peringkat terbaik di sekolahku. Ya, seperti yang Bapakku katakan, mempertahankan lebih sulit daripada mencapainya. Aku telah buktikan bahwa aku berhasil menjadi juara pertama sejak SD hingga SMP tanpa pernah absen sekalipun. Aku berharap Bapak bangga di surga sana.Tibalah saatnya aku memilih SMA untuk kupijaki nantinya, aku memilih untuk mendaftar di sebuah sekolah asrama yang bernama SMAN Bali Mandara. Sekolah yang baru saja didirikan dengan fasilitas minim dan hanya menerima 75 anak. Kenapa aku memilih sekolah ini. Ya, sekolah ini adalah sekolah beasiswa bagi anak-anak kurang mampu dan berprestasi. Itulah alasannya, aku mulai menyadari ibuku tidak akan sanggup membiayai aku dan adiku dengan kondisi biaya sekolah yang semakin mahal. Kehidupan memang berbeda, aku tidak lagi tinggal bersama keluarga kecilku tetapi bersama 75 teman baru dan beberapa guru yang tinggal di asrama.

Singkat cerita, disana aku banyak mendapatkan pembelajaran, tetapi seiring waktu aku mulai merasakan aku bukan orang nomor satu lagi seperti dulu. Banyak teman-teman yang hebat, bahkan hingga juara nasional dalam perlombaan. Saat itulah aku sedih, aku tak mampu berpikir lagi. Aku merasa gagal dan aku ingin seperti mereka!Kemudian, suatu pagi seorang guru yang bernama Pak Budi, seorang guru yang religius, mengerti agama, dan memiliki kemampuan lebih dalam berkomunikasi. Beliau berkata, “Putu, kamu tidak boleh bersedih. Karena ada orang yang selalu menemanimu ketika belajar ataupun ketika kamu sedang gelisah. Kamu jangan membuat Beliau sedih ya, buatlah Beliau bangga,” ujar Pak Budi.“Pak Budi, siapa yang Bapak maksud, mohon maaf saya tidak mengerti Pak,” saya pun menjawab dengan polos.“Iya, sosok berbaju putih yang selalu datang dalam mimpi-mimpi kecilmu.”Akupun tercengang, Bapak kembali mengingatkanku dengan cara yang berbeda. Melalui guruku yang memang selalu aku percaya.

Dengan memutar ingatan, aku menemukan kembali semangat itu, hingga keesokan harinya aku mendatangi pembimbing karya ilmiah. Aku mengajukan untuk mengikuti seleksi dalam event peneliti belia nasional. Bapak pembimbing tanpa ragu memberikanku kesempatan. Sampai akhirnya, diumumkan bahwa aku lolos menjadi peserta peneliti belia nasional. Hari demi hari, aku mempersiapkan penelitian ini untuk mengikuti seleksi tingkat nasional. Apabila mendapatkan nanti aku mendapatkan medali pada ajang nasional, aku berkesempatan untuk menjadi peserta dalam kompetisi internasional.

Semangat itu semakin tumbuh, foto Bapak selalu menjadi teman cerita ketika aku memiliki masalah dalam persiapan.Menghitung hari hingga hari ke 90 sejak persiapan, tibalah saatnya mempresentasikan hasil penelitian. Aku berangkat ke Jogjakarta bersama satu orang teman dan satu orang guru pembimbing. Di sana aku mencoba tampil semaksimal mungkin walaupun dengan kemampuan Bahasa Inggris yang tidak bagus. Memakai seragam kebesaran SMAN Bali Mandara, dengan bangga aku mempresentasikan penelitianku yang berjudul “Neem Incense Tri Matali as Mosquitos Repellent.”

Pada kelas presentasi, juri bergantian memberikan pertanyaan terkait penelitianku dan aku menjawab semua pertanyaan tanpa memikirkan jawaban itu salah.Kurang lebih 20 menit berlalu, usailah presentasi untuku. Mulai muncul kegelisahan dan banyak pertanyaan bermunculan. “Apakah aku sudah tampil maksimal? Apakah aku akan lolos ke ajang internasional? Bagaimana kalau tidak, aku pasti akan malu,” pikiranku bercabang. Keesokan harinya, hari itu. Pengumuman pemenang setiap kategori lomba. Dan tidak ku sangka, namaku dibacakan sebagai peraih medali emas kategori environmental science.“Ini bukan mimpi kan? Miss Acik, coba cubit pipi saya.” Benar, penghargaan itu adalah nyata dan aku berhasil meraih tiket presentasi ke Serbia, Eropa Timur. Sebuah kebahagiaan yang tiada taranya, aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada setiap doa dan uluran tangan dari orang-orang tersayang.

Perjuanganku tidak sampai di sini, tidak lebih dari tiga bulan aku mengembangkan kembali penelitianku. Setiap hari di selah-selah kelas hingga larut pagi di laboratorium sekolah. Tidak dapat kuceritakan sekian banyak usaha yang ku lakukan, intinya aku melakukan semua persiapan dengan penuh semangat dan bekerja keras agar dapat memberikan yang terbaik.

Bulan April 2014, waktu itu aku duduk di kelas IX, waktu itu pula ujian nasional akan dilaksanakan, dan waktu itu pula aku harus berangkat ke Serbia. Memang pilihan yang sangat sulit, tetapi akhirnya aku memilih untuk mengikuti kompetisi dan berencana mengikuti ujian nasional susulan. Hari itu pun aku berangkat, dengan doa dari keluarga, teman-teman, dan pihak sekolah, serta dengan kepercayaan bahwa Bapak selalu mendampingi setiap langkahku. Selama kurang lebih 16 jam menempuh perjalanan, aku tiba di Serbia. Membawa nama Indonesia untuk presentasi di depan juri kompeten dari berbagai negara. Nervous? Ya tentu saja, tetapi kembali aku tampil di kelas presentasi dengan penuh kepercayaan dan semangat untuk memberi yang tebaik.

Sampailah pada puncak acara, penobatan penerima award dalam International Conference of Young Scientist. Sungguh tidak tahu lagi apa yang harus ku ucapkan, aku hanya duduk dengan wajah lesu karena takut akan kecewa. Ya, tidak dapat dipungkiri keinginan memang selalu ada. “Environmental science field, as the bronze medalist. Please comin’ to the stage, Ni Luh Putu Lilis Sinta Setiawati as Indonesian delegation”Apa? Namaku disebut? Benarkah? Aku tidak percaya. Mimpi berprestasi tidak hanya sampai di nasional, bahkan internasional. Sungguh anugrah yang luar biasa.

Aku bisa menjadi peneliti belia untuk negeriku tercinta, Indonesia. Dan aku akan terus menjadi peneliti untuk Indonesia. Menuliskan setiap ide-ide sederhana, menyalurkan setiap aspirasi positif. Sungguh gembira, sujud syukur aku haturkan kepada keluarga dan orang-orang tersayang, kepada Tuhan, and the white ghost in my life, Bapak yang jauh di surga sana. Semoga Bapak selalu bangga akan kehidupanku.