Berita

Pak Ngadiyo yang Ingin Bercerita

Kamis, 07 Februari 2019 - Anne Rufaidah

Cerita ini saya terima, setelah lebih dari dua tahun bersama beliau. Bukanlah sebuah cerita yang mudah terbahasakan oleh sebuah prespektif singkat, yang tanpa berinteraksi dan tanpa mengerti apa yang beliau pikirkan sebenarnya. Entah mengapa, awal saya menginjakkan kaki di Bumi Siliwangi, saya langsung dipertemukan dengan realita yang sama sekali tidak pernah saya jumpai. Benar, saya hidup dalam lingkungan yang serba disiplin dan terorganisir dengan baik, namun dibalik itu ada sebuah pemberontakan dalam diri saya, bahwa memang ada kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. Cerita itu selalu saya tulis dalam buku catatan sebesar kantong saku saya. Tertulis rapi dengan tanggal-tanggal kejadian. Menurut orang lain tidak penting, menurut saya pun tidak tahu, tapi menurut Pak Ngadiyo, ini adalah sebuah cerita sejarah.

Telah lama menetap di Bandung untuk mencari penghidupan yang layak bagi anak dan istrinya, pak Ngadiyo adalah seorang tukang tambal ban yang menjajakan jasanya di dekat tembok belakang milik Institut Teknologi Bandung (ITB), institut terpandang di negeri ini. Sosok yang lugu, sederhana dan memiliki sopan santun yang sungguh luar biasa. Walaupun terhadap saya, yang hanya seorang pemuda dan baru saja muncul ke permukaan bumi ini. ia lahir di Jawa Tengah, dan memiliki empat orang anak. Yang satu anaknya menetap di Cimahi, dan baru saja saya bertemu langsung di Bandung. Anak yang lainnya tinggal di desa daerah asal beliau bersama istrinya. Berpenghasilan kurang dari seratus ribu dalam sehari. Sebelum masalah datang menenggelamkan semua semangatnya.

Kembali, saya ingin membahas tentang cerita yang datang tersirat dan terlihat jelas dari matanya bagi orang yang telah mengenalnya. Hari itu, saya ditemani puluhan orang pemuda, dengan latar belakang yang sangat beragam, berkumpul dan membahas tetang masalah pak Ngadiyo dan kawan-kawannya. Diketahui sedikit orang, barisan pedagang kaki lima Sarasa Dayang Sumbi akan digusur untuk kedua kalinya. PKL yang salah satunya adalah pak Ngadiyo akan disamaratakan dengan bumi yang mereka pijak. Dan tidak tahu, hidup dirinya, anak beserta istri nantinya akan masih berlajut atau tidak. Tepat di Bulan Akhir Ramadhan tahun 2014, PKL Sarasa Dayang Sumbi, bersama kami, berbaris dan bertahan dalam jongko yang menemaninya setiap hari mencari nafkah. Bukan kami ingin menentang kebijakan pemerintah yang memang diakui itu adalah suatu hal yang baik, bukan kami hanya berlandas perasaan semata, tanpa logika seorang terpelajar. Tapi kami hanya resah, ada suatu hal yang terlupakan oleh pemikiran instan, dari pencarian akan sebuah solusi untuk para PKL. Dengan kajian data riil dan analisis yang komperhensif, kami menuntut murninya sebuah transparansi akan negosiasi yang seimbang. Dan hari itu, kami menang.

Dengan tangis haru, akhirnya kami berhasil mengajak sang pemberi kebijakan untuk mau mendengar suara dari orang yang terbedakan. Pak Ngadiyo bersyukur, uang yang kurang dari seratus ribu tiap harinya tidak akan lenyap atas hal tersebut dalam waktu yang dekat ini. Diputuskanlah enam bulan setelah hari itu, PKL Sarasa Dayang Sumbi, termasuk pak Ngadiyo akan dipindah ke tempat parkiran atas Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Negosiasi yang cukup lama tersebut berbuah hanya 20 PKL yang dapat mengisi jongkonya kembali, padahal lebih dari 33 PKL yang terdaftar dalam korban menggusuran. Alhasil, mereka pun menerimanya dengan banyak pertimbangan, dan dengan pikiran untuk tetap dapat berbagi tempat dengan kawannya. Namun ternyata setelah dihitung dan disesuaikan dengan kondisi, pak Ngadiyo adalah salah satu PKL yang tidak mendapatkan jatah jongko untuk berdagang. Alasan utama dari pihak pengurus karena pak Ngadiyo memang lebih cocok berada di dekat jalan bersama alat tambalnya. Sedangkan tempat baru PKL Sarasa Dayang Sumbi hanya dibuat untuk pedagang kuliner, yang sekarang dinamai Tamansari Food Fest. Akibat kondisi tersebut, pak Ngadiyo mencoba untuk menjalaninya dengan sabar dengan harapan bahwa rejeki adalah milik Sang Pencipta.

Lebih dari satu minggu, beliau sudah mencobanya, namun tidak terelakkan, bahwa relokasi tersebut berdampak sangat signifikan bagi bapak yang satu ini. Pak Ngadiyo kehilangan semua pelanggannya. Membuat penghasilan pak Ngadiyo menurun drastis. Terhitung hanya 10.000 perak setiap harinya beliau dapatkan. Sudah tidak berpikir jauh untuk dapat mengirimkan uangnya ke kampung, memenuhi kebutuhannya sendiri untuk makan saja tidak tahu caranya. Dikondisi tersebut, saya juga ikut kebingungan. Ingin membuat hal yang menarik untuk jongkonya, hingga ingin membuatnya mengadvokasi untuk diadakannya kebijakan bagi beliau dari putusan penguasa. Namun, semua hanya pikiran belaka.

Dan tidak  saya  sangka,  sejujurnya, pak Ngadiyo berusaha menjemput pelanggannya dengan kembali berpindah ke tempat asal beliau berdagang. Dengan membawa gerobak dorongnya, beliau berharap rezeki akan datang kembali padanya. Alhasil penghasilan pun meningkat, menjadi 30.000-35.000 rupiah tiap hari. Akan tetapi permasalahan kembali datang. Pihak ketertiban ITB mendatangi, beliau untuk meminta pak Ngadiyo kembali ke tempat relokasi. Diberilah waktu dua minggu dari tanggal 19 September 2016 untuk pak Ngadiyo tetap di lokasi lapak aslinya. Senin tanggal 3 Oktober 2016, beliau kembali tidak tahu harus berbuat apa. Di tempat relokasi tidak diberi tempat dagang, berjualan seadanya pun tidak ada pelanggan. Kami harap pihak pembuat yang berwenang untuk kembali menengok permasalahan yang belum tuntas ini untuk segera diselesaikan. Dan melihat suatu hal tidak cukup hanya menilai estetika dan fungsinya. Jauh dari itu, ada hidup sekawan yang masih diombang-ambingkan, di atas tingginya sebuah peraturan.

Tetap kembali, saya kawal bersama teman-teman untuk mencarikan sebuah pemecahan masalah yang diemban oleh pak Ngadiyo. Tercetus sebuah keinginan dari pak Ngadiyo untuk beralih menjadi pedagang kuliner dengan satu tujuan pasti, beliau tetap ingin berdagang. Peruntungan tersebut terpaksa beliau ambil, dengan beliau menyimpan kompresornya, dan beralih menjadi seorang PKL penjual bubur ayam. Gerobak beliau beli, peralatan masak, serta bahan baku untuk membuat bubur pun juga dibelinya. Semua peralatan, perlengkapan, dan bumbu tersebut dibelinya dengan uang pinjaman dari kakaknya di Jawa Tengah. Walaupun sudah meminjam uang dalam jumlah besar, tetap saja jongko yang beliau beli pun masih belum lunas. Belum lagi, secara teknis pengalaman beliau belum pernah menjadi seorang PKL kuliner. Memasak beras menjadi bubur belum pernah, bumbu-bumbunya apa juga tidak tahu, dan hanya berbekal diajari oleh kawan PKL Sarasa Dayang Sumbi, beliau nekat membuka lapaknya pada tanggal 13 Oktober 2016.

Dapat dibayangkan, beliau berani mengambil segala resikonya dan rela melakukan apapun demi mencukupi kembali kebutuhan pribadi dan keluarganya. Terbesit kembali dan masih menjadi pertanyaan besar bagi saya, apakah banyak PKL yang bernasib sama seperti ini akibat sebuah kebijakan? atau banyak pula yang lebih rendah dari masalah pak Ngadyo? Entahlah

Syukurnya, selama lebih dari sepuluh hari beliau berdagang, rata-rata beliau mampu menjual 20 sampai 25 mangkuk bubur tiap harinya. Keuntungan tiap mangkuk yang tidak lebih dari 5.000 perak dapat membuatnya kembali dapat mentransfer uang untuk keluarganya di Jawa Tengah. Pencapaian yang sungguh mengejutkan. Tidak tahu menahu soal dapur masak, bangun subuh dan bersiap menata lapak setiap matahari terbit adalah suatu rutinitas yang tidak biasa kata beliau. Ketika itu, saya minta pendapat tentang perasaannya setelah menjadi seorang PKL bubur ayam, beliau hanya tersenyum dan berkata, “Alhamdulillah, semoga semakin lancar ya mas.” ujarnya.

Mata sayupnya kembali tidak bisa membohongi segala permasalahan yang beliau emban. Saya bersama teman- teman, mencoba untuk tetap mendampingi pak Ngadyo untuk menjalankan bisnis mikronya. Tidak berbekal retorika, atau semacam doa belaka. Selalu kami jenguk setiap hari dan memantau yang mungkin saja beliau membutuhkan bantuan secara teknis penjualan. Kami tetap membuat konsep mendasar untuk memperkuat strategi. Menjadikan seorang terdidik dalam keilmuan manajemen kewirausahaan dan desainer menjadi pondasi membentukan platform pergerakan. Maka terbentuklah sebuah usulan proyek perintis. Menegaskan identitas merek dagang PKL untuk tetap dikenal dan semakin indah untuk lebih diterima. Menjadikan bentuk akumulasi pemikiran PKL itu yang diatur dalam pengelolaan bisnis mikronya. Selain itu membuat materi pembelajaran bangku kelas tidak berakhir sebatas angka. Membantu mereka kembali tersenyum sampai menjadi keluarga baru adalah hal yang tidak akan pernah didapat selain memanfaatkan ilmu yang telah tersampaikan. Lebih jauh lagi, menjadi konsisten dan terus berkembang adalah pencapaian yang ada pada puncaknya.