Berita

Secercah Asa Sang Pejuang

Senin, 11 Februari 2019 - Anne Rufaidah

Bermimpilah, dan biarkan semesta berkonspirasi untuk mewujudkannya.

Perkenalkan, aku Noor, pemudi yang tumbuh besar di Desa Tinggarjaya, desa yang terletak di Kabupaten Banyumas dan berjarak sekitar 45 km dari Kota Purwokerto. Pemudi yang kini mengenyam pendidikan S1 Teknik Elektro ITB. Inilah cerita perjuanganku tatkala SMA dulu.

Karena perceraian orang tua, akhirnya sejak SMA aku tidak tinggal bersama bapak atau ibu, namun tinggal bersama dengan nenek dari ibu. Kebetulan nenek tinggal sendiri karena pak lik yang harusnya menemani nenek masih tinggal di toko yang letaknya jauh dari rumah nenek. Aku tinggal di daerah yang penuh dengan kesederhanaan dimana warganya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan pembuat batu bata merah. Untuk memasak, nenek masih menggunakan tungku, sehingga bila aku pulang sekolah lebih awal, aku membantu nenek untuk mencari kayu bakar tambahan.

Sebagian besar warga hanya mengenyam pendidikan sampai SD, beberapa melanjutkan sampai SMP dan SMA, namun masih bisa dihitung jari yang mau dan mampu melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Bila kamu pergi ke tempatku, maka kamu hanya akan menemui warga yang berumur 30 tahun ke atas, karena hampir seluruh pemudanya mengadu nasib di ibukota. Beruntung, aku lahir di keluarga yang menomor satukan pendidikan sehingga keluargaku selalu mewanti-wanti untuk terus belajar hingga ke jenjang tertinggi dan menanamkan mimpi-mimpi yang besar di dalam otak dan hati, agar aku mampu menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang.

Ibuku adalah seorang guru SMK swasta, ibu biasanya pulang kerja sekitar pukul 3 sore. Ibu tinggal dengan kakakku yang bekerja di bengkel dan adikku yang masih TK. Karena tidak ada yang mengurus rumah dan air sumur di rumah ibu yang keruh, setiap pulang sekolah aku akan ke rumah ibu dan mengambil semua cucian untuk kemudian kucuci dan kusetrika di rumah nenek. Bagian depan rumah ibu adalah warung untuk berjualan barang-barang kelontong untuk penghasilan tambahan. Sehingga sebelum mencuci pakaian, aku akan menjaga warung, membersihkan rumah, dan mengerjakan PR, sampai ibu pulang dan beristirahat.

Untuk meringankan beban ibu, selama SMA aku hampir tidak pernah jajan. Uang Rp 5.000,00 yang diberikan sebagai uang saku satu hari, yaitu untuk angkot pulang pergi sebesar Rp 2.000,00 dan untuk penitipan sepeda Rp 500,00 kugunakan dua hari, Aku menitipkan sepedaku karena jarak rumah dengan jalan raya sekitar dua km, sehingga untuk sampai ke sana, aku harus menggunakan sepeda. Sepedaku merupakan keluaran lama, sehingga sepedaku sering rusak, hampir tiap minggu kubawa ke bengkel untuk diperbaiki. Alhasil, dari 6 hari sekolah, 3 hari di antaranya aku harus berjalan kaki menuju jalan besar, atau membonceng teman yang kebetulan memiliki arah perjalanan yang sama. Aku juga selalu tepat waktu datang ke sekolah (re: pukul 7 pagi) karena aku harus menunggu masakan nenek selesai dan membungkusnya sebagai bekal sehingga aku tidak kelaparan saat sekolah.

Akhirnya sampai kelas 3 SMA, aku masih bingung antara ingin melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja saja seperti teman-teman yang lain. Namun bila ingin kuliah, aku masih bingung darimana aku akan mendapatkan uang pendidikan, apalagi sekarang biaya pendidikan amatlah mahal. Seperti biasa, murid kelas 3 SMA akan selalu kebanjiran roadshow dari berbagai perguruan tinggi negeri, swasta, kedinasan, dan ikatan dinas. Tiap kali diterangkan, aku akan memerhatikan dengan seksama, berapa biaya  pendidikan yang harus  kukeluarkan.

Dari hampir semua presentasi, belum kutemukan titik terang mengenai biaya. Hingga akhirnya, sampailah pada presentasi roadshow dari kakak paguyuban GAMAS (Keluarga Mahasiswa Banyumas) ITB, yang secara terang-terangan menyatakan bahwa ada begitu banyak beasiswa yang bisa dipakai selama masa perkuliahan dan 0% mahasiswa drop out karena masalah biaya. Tiba-tiba semangatku membara, kutemukan motivasi yang selama ini kucari, ya Allah inikah jalan terbaik yang Engkau beri, pikirku dalam hati.

Sejak saat itu, aku mencari-cari info mengenai ITB, mulai dari jurusan, bagaimana mendaftar, apa saja persyaratannya, kepada guru BK dan kakak paguyuban. Tak lupa juga aku mendaftar beasiswa BidikMisi dengan harapan aku akan mendapatkannya untuk memenuhi biaya kuliah. Karena aku menyukai bidang IT, akhirnya kuputuskan untuk mencoba fakultas STEI di pilihan pertama SNMPTN dan FMIPA sebagai pilihan kedua karena aku juga menyukai matematika. Tapi ibuku bilang, bahwa pekerjaan di bidang pertambangan dan perminyakan sangatlah potensial, sehingga kuubah pilihanku menjadi FTTM di pilihan pertama dan STEI pilihan kedua walau sebenarnya niatku masih tetap STEI. Aku bukanlah murid terpandai di SMA, apalagi waktu itu aku ditugaskan untuk menjadi pengisi nilai rapor siswa di PDSS sehingga aku mengetahui nilai murid satu sekolah, nyaliku menciut, nilai teman-temanku jauh lebih tinggi daripada nilaiku.

Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan ujian tertulis SBMPTN bersama teman-teman yang senasib. Berbekal uang tabungan sisa uang saku, kubeli buku latihan soal-soal SBMPTN dan memfotokopi banyak latihan soal. Selain itu, aku dan teman-teman juga rajin mengikuti try out yang diadakan oleh paguyuban mahasiswa, seperti try out STAN, ITB, UI, dan UGM. Nilai try out milikku tidaklah begitu bagus, masih rangking puluhan, bahkan ratusan dari ratusan. Aku harus bekerja lebih keras lagi. Sehingga tiap malam, aku akan belajar hingga tengah malam untuk melahap semua soal-soal. Tak lupa kutulis jurusan impian di depan lemari belajar dan juga di dinding mimpi yang ditempel di kelas. Aku selalu menuliskan STEI dengan ukuran yang lebih besar sehingga semua orang yang membaca ikut mendoakannya juga.

Sempat ditanya beberapa kali oleh teman-temanku, apakah aku benar-benar yakin ingin masuk STEI, apakah prospeknya nanti akan bagus, kenapa tidak ke perguruan tinggi lain saja yang kesempatan lolosnya jauh lebih tinggi. Tapi kuyakinkan kepadaku teman-temanku, insya Allah ini adalah pilihan terbaik. Tak pernah luput dalam doa dan sujudku agar Allah memilihkan tempat terbaik untukku nantinya.

Hingga akhirnya sampailah pada pengumuman SNMPTN tanggal 27 Mei 2013, yakni saat yang ditunggu-tunggu. Seperti biasa, server down pada pukul 18.00 WIB, maka kuputuskan untuk menunda membuka web setelah Isya saja. Karena begitu banyak yang penasaran dengan hasil SNMPTNku, maka kuberikan nomor pendaftaranku kepada teman-teman. Alangkah terkejutnya aku, ketika temanku bilang bahwa aku lolos ke STEI. Aku masih tidak percaya, sehingga dengan menguatkan hati, kubuka web SNMPTN dan kutuliskan dengan hati-hati nomor pendaftaranku, dan alhamdulillah, ternyata benar bahwa aku lolos ke STEI, ditambah lagi aku berhasil mendapatkan beasiswa BidikMisi sehingga aku tidak membayar sepeser pun untuk biaya kuliah.

Sungguh, tidak ada mimpi yang terlalu  besar,  yang ada hanyalah usaha yang terlalu kecil. Allah akan selalu memberikan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang memiliki niat- niat baik. Sekarang aku ingin menuntaskan studi dengan usaha yang sebaik-baiknya, berkontribusi bagi negara yang sudah memberikan begitu banyak fasilitas, dan mengembangkan individu-individu yang kurang beruntung di luar sana. Bisa jadi, kita ini adalah mimpi-mimpi dan doa para pendahulu kita, yakni doa berupa agar ada pemuda-pemudi yang lebih baik dari generasi mereka dan memiliki cita-cita dan harapan besar bagi bangsa. Ingin menjadi apa, itu ada di tanganmu, tidak peduli apa latar belakang dan masa lalu yang pernah kamu punya. Jadikan perjuangan sebagai bagian dari hidupmu, karena hidup terasa indah setelah lelah berjuang. Selamat menikmati indahnya perjuangan!