Berita

Emil Dardak, Tak Sekadar Pintar Sosok Pemimpin Harus Punya Sofskill yang Baik

Kamis, 21 Maret 2019 - Anne Rufaidah

BANDUNG, LK – Sosok pemimpin muda diharapkan membawa sebuah perubahan dan inovasi. Namun, tidak serta merta pemimpin harus pintar saja namun yang tak kalah penting, sosok pemimpin muda harus memiliki softskill yang baik.

Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak M.Sc mengungkapkan hal tersebut saat mengisi Studium Generale KU 4078 di Aula Barat Kampus ITB Ganesha (20/3/2019). Pria yang akrab disapa Emil Dardak ini pun menuturkan selama ini ada kesan bahwa untuk memimpin sebuah daerah terlebih daerah terpencil seperti desa, tidak diperlukan pemimpin yang pintar-pintar amat, hanya jadi pemimpin yang dikenal warga saja, itu sudah cukup. Padahal menurutnya, pemimpin yang pintar dan cerdas, akan mampu memberikan solusi efektif bagi persoalan-persoalan kecil hingga besar.

“Ada yang bilang jadi pemimpin daerah itu tidak perlu punya pendidikan yang tinggi. Ya mungkin itu memang betul. Akan tetapi setidaknya ketika seorang pemimpin memiliki pendidikan yang tinggi seharusnya ia memiliki solusi efektif dan benar saat menghadapi berbagai persoalan untuk daerah yang dipimpinnya tersebut,” ujar pria yang juga mantan Bupati Trenggalek itu.

Selama menjalani jabatan politiknya tersebut, Emil pun mengisahkan beberapa peristiwa yang kerap jadi persoalan warganya. Mulai dari menghadapi demo besar-besaran guru honorer yang bergaji sangat minim, hingga menghadapi tokoh masyarakat yang sulit diajak bernegosiasi untuk proyek pembangunan infrastruktur. Bagianya, peristiwa-peristiwa tersebut tidak hanya membutuhkan skill solution saja, tetapi juga softskill yang mumpuni dalam menghadapi masyarakat. Dari persoalan di tataran teknis hingga sosial kemasyarakatan.

Diakuinya, untuk menerapkan kebijakan dan solusi-solusi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan di daerah tersebut, ia harus menghadapi dua hal, yakni meyakinkan mereka yang berada di bawah kepemimpinannya dan juga masyarakat secara luas. Ia menyontohkan kebijakannya saat menaikan pendapatan guru honorer di Kabupaten Trenggalek dua kali lipat dari sebelumnya. Hal tersebut menuai kesangsian sejumlah pihak mengingat anggaran yang terbatas. Akan tetapi Emil saat itu terus mencari solusi dan anggaran yang bisa diupayakan agar kebijakan ini bisa berlangsung.

“Poinnya adalah, jika saat itu guru-guru honorer yang pendidikannya tinggi, diberikan gaji yang teramat minim, maka yang jadi korban itu ya anak-anak kita juga. Guru dikhawatirkan tidak semangat mengajar anak-anak dan siapa yang rugi?  Ya kita, masyarakat. Aak-anak ini kan penerus kita kelak. Maka saat itu saya berkeyakinan bahwa kenaikan gaji guru honorer ini pasti bisa dijalankan,” terangnya.

Kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi dengan semua kalangan, kata Emil, juga menjadi kunci bahwa seorang pemimpin muda harus tetap santun dalam mengambil kebijakan. Sekalipun kebijakan tersebut mendapatkan keraguan dari berbagai pihak, namun seorang pemimpin muda yang inovatif harus mampu menyakinkan bahwa solusinya memiliki dasar yang kuat.

Dalam kuliah umum yang berdurasi 1,5 jam tersebut, Emil tak hanya memberikan paparan di hadapan lebih dari 500 mahasiswa ITB, namun juga mengadakan bincang-bincang dengan mahasiswa ITB asal Jawa Timur. Acara ini pun dihadiri oleh dosen pengampu mata kuliah Studium Generale KU 4078 serta dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi ITB Dr. Miming Miharja ST., M.Sc. Eng.