Berita

Tim Dirgantara Project Sabet Juara 1 di Ajang Kompetisi Wahana Terbang Internasional

Senin, 25 Maret 2019 - Anne Rufaidah

BANDUNG,LK – Tim Dirgantara Project dari Keluarga Mahasiswa Teknik Penerbangan (KMPN) Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil menyabet Juara 1 dalam Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC), yang digelar 23 Maret 2019 di DSO National Laboratories dan Science Center Singapore. Gelar ini sekaligus mematahkan juara bertahan SAFMC 2018 yakni National University of Singapore (NUS) yang turun menjadi juara 2 dan  disusul oleh Tim Aksantara ITB pada juara 3.

Dalam kompetisi pembuatan wahana terbang berskala internasional tersebut, Tim Dirgantara Project mengikuti kategori E yang bertemakan unconventional Unmanned Aerial Vehicle (UAV), yang tim kompetitornya masih didominasi oleh tim dari Singapura dan Indonesia. Kompetisi SAFMC sendiri adalah kompetisi yang diadakan oleh DSO National Laboratories dan Science Center Singapore, terdiri dari 5 kategori dari kategori A Elementary School sampai Masyarakat umum (kategori E).

“Pada kategori E ini, peserta diminta membuat wahana terbang yang tidak umum digunakan dan mampu melaksanakan misi sesuai dengan alur cerita yang dibuat oleh tim, penilaian untuk kompetisi ini adalah satu dengan presentasi mengenai konsep dan ide, lalu penampilan UAV melaksanakan misi,” terang salah satu anggota tim, Muhammad Nur Badruddin.

Ia menuturkan, pada kompetisi ini timnya membuat 2 buah wahana terbang yaitu modular UAV dan flapping wing UAV. Modular UAV adalah wahana terbang yang mampu dibongkar pasang dengan mudah, tanpa mengurangi dari fungsi utama UAV. Selain itu juga dapat ditambahkan fitur lain seperti roda dan pembawa beban, yang bisa dipasang copot dengan cepat. Untuk flapping wing memiliki konsep terbang menggunakan kepakan sayap dan dikendalikan menggunakan control surface berupa elevator dan rudder pada ekor,

Diakuinya, kendala utama dari kompetisi ini adalah finansial. Pasalnya dalam membuat wahana UAV dibutuhkan banyak peralatan yang tidak murah. Selain itu, untuk memastikan UAV dapat melaksanakan  misi dengan baik, perlu adanya spare part. Tak hanya soal finansial, Badruddin pun menyebutkan bahwa kendala lainnya yakni waktu yang cukup mepet dengan perlombaan. Dengan sedikitnya waktu antara perlombaan dengan ide yang pasti, membuat waktu untuk latihan menjadi cuma 2 minggu dan ini dirasa sangat minim.  

“Menurut kami, dalam perlombaan ini tim kami lebih unggul dalam hal fungsi dari UAV, Jika dibandingkan dalam hal kompleksitas produk, NUS memiliki kompleksitas yang lebih tinggi karena bekerja sama dengan beberapa instansi lain. Namun karena kami mampu membuat beberapa misi dan walaupun ada beberapa misi tidak sesuai harapan, namun dengan konsep yang ada dan misi yang berhasil kami lakukan, membuat juri memberikan penilaian lebih pada tim kami,” terang mahasiswa prodi Teknik Dirgantara tersebut.

Tim ini beranggotakan Rizki Duatmaja, Damardayu Alifany Hardy, Muhammad Nur Badruddin,  Arifian Sandovic P, dan Rizqy Agung.