Berita

Mengenal Media Massa dari Kacamata Seorang Wakil Pemimpin Redaksi

Rabu, 24 April 2019 - Anne Rufaidah

BANDUNG,LK- Media massa seolah tidak bisa dipisahkan dari keseharian masyarakat saat ini. Terlebih, informasi yang disajikan media, baik itu media arus utama maupun media alternatif, sudah sulit dibendung dikarenakan kebutuhan rasa ingin tahu masyarakat yang semakin meningkat.

Wakil Pemimpin Redaksi Koran Republika, Nur Hasan Murtiaji menuturkan, bahwa sebuah gagasan yang dimunculkan di media mampu mempengaruhi banyak hal di dunia ini. Ia mencontohkan bagaimana seorang pendiri Wikileaks, yang juga mantan jurnalis, mampu membobol data-data penting intelejen dunia. Dengan leluasanya, bahkan Wikileaks menyebarluaskan info-info yang berhasil diretasnya ke internet agar bisa diakses oleh siapapun. Tak hanya itu, ia pun membahas seorang mantan anggota intel Amerika bernama Edward Snowden yang pernah membocorkan data intelejen ke media besar dunia, The Guardian dan The Washington Post.

“Bagaimana industri media, bahkan dari dulu hingga sekarang, mampu memframing sebuah berita. Dimana point of view dari data yang sama bisa dibedakan antara media satu dengan media lainnya. Tidak hanya di Indonesia, hal serupa juga dilakukan oleh media luar negeri,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Studium Generale KU 4078 di Aula Barat Kampus ITB beberapa waktu lalu.

Tak hanya menyampaikan pengaruh media terhadap perkembangan isu dunia, Nur Hasan pun mengungkapkan beberapa perbedaan kategori media massa baik cetak maupun online. Menurutnya, terdapat perbedaan yang mendasar antara kedua media tersebut, baik dari sisi teknis pengolahan berita hingga konten berita. Bahkan, diakuinya bahwa akurasi dari dua media tersebut pun berbeda satu sama lain.

“Media cetak dan media online memiliki kecenderungan yang berbeda. Misalkan saja media online yang lebih mengutamakan kecepatan, fragmen yang jelas, dan konsepnya yang bisa memungkinkan pembaca langsung berinteraksi dengan pengelola medianya. Hal ini berbeda dengan media cetak yang lebih mengutamakan akurasi data berita, framing yang jelas dan ruang interaksi yang terbatas,” pungkasnya.

Tak hanya itu, kedua media tersebut pun memiliki diferensiasi pemberitaan yang berbeda. Tak heran jika pembaca bisa menemukan berita yang ada di online namun tidak ada pada berita cetak. Hal itu tergantung dari visi dan misi media itu sendiri. Untuk itu pihaknya menekankan agar literasi digital milenial saat ini perlu ditingkatkan agar bisa memilih dan memilah informasi yang baik dan terpercaya.