JATINANGOR, kemahasiswaan.itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali dipercaya menjadi tuan rumah Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) Tingkat Nasional 2025. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (8/7/2025) di GOR Futsal Kampus ITB Jatinangor ini mempertemukan tim-tim robotik terbaik dari seluruh Indonesia dalam satu hari kompetisi yang intens, dari babak penyisihan hingga final. Sebanyak 24 tim yang telah lolos dari tahap seleksi daring berpartisipasi dalam ajang ini untuk memperebutkan gelar juara nasional.
Kompetisi tahun ini dibuka pertandingan antara RIVERA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan LAHBAKO-SAN dari Universitas Jember, yang menjadi awal dari sederet laga yang berlangsung hingga malam hari. Semua tim dibagi menjadi dua sisi, merah dan biru, dengan setiap pertandingan hanya mempertemukan satu tim dari masing-masing sisi. Setiap tim hanya dibekali tiga bola dan harus memanfaatkan possession secara efisien. Jika skor akhir imbang setelah semua bola digunakan, maka pertandingan dilanjutkan dengan sesi tambahan 60 detik untuk mencetak poin sebanyak mungkin tanpa hadangan lawan.
Ketua Panitia KRAI 2025, Ir. Vani Virdyawan, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa jalannya pertandingan tahun ini cukup menantang karena banyak tim mengalami kesulitan dalam mencetak skor. Ia menjelaskan bahwa masih banyak robot yang belum mampu menyelesaikan misi seperti dribbling dan operan secara akurat, sehingga pertandingan berjalan lambat dan sempat berlangsung hingga mendekati tengah malam. Selain itu, ia menekankan bahwa dengan durasi pertandingan yang hanya dua menit, setiap aksi robot menjadi sangat menentukan.
“Tugas dalam kompetisi ini tidak hanya sebatas memasukkan bola ke ring lawan, tetapi juga mencakup aspek penilaian lain seperti kemampuan mengoper bola ke robot rekan satu tim, menangkap bola pantul dari lantai, serta melakukan dribbling,” ujar Vani
Dari sisi sistem penilaian, salah satu juri menjelaskan bahwa aspek efisiensi menjadi perhatian utama. Penilaian dimulai dari jumlah skor tertinggi, diikuti oleh jumlah tembakan, dimana tim yang mencetak poin dengan tembakan lebih sedikit akan diunggulkan. Jika hasil tetap sama, waktu tercepat dalam mencetak poin menjadi pertimbangan selanjutnya. Ketika semua kriteria tersebut tidak cukup untuk menentukan pemenang, keputusan akhir diserahkan kepada juri.
“Urutan scoring itu kan dari jumlahnya, kemudian baru turun ke yang paling sedikit menembak. Berikutnya turunnya baru ke waktu, (terakhir jika masih seri) turun lagi ke (penilaian) juri,” ujar Benyamin, ketua juri.
Laga final mempertemukan RIVERA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan EIRA dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. RIVERA tampil impresif dengan mencetak tiga poin tanpa balasan, mengunci kemenangan 3-0 dan memastikan langkah mereka ke ajang internasional, mewakili indonesia bertanding di ABU Robocon di Ulaanbaatar, Mongolia pada Agustus mendatang. Kemenangan ini menjadi penutup dari rangkaian kompetisi yang membanggakan, sekaligus menandai keberhasilan ITB sebagai tuan rumah yang turut mendukung lahirnya inovasi terbaik dari generasi muda Indonesia di bidang robotika.