English Language Indonsian Language

Orasi Ilmiah PMB ITB 2025: Menggali Jejak Dinosaurus Untuk Mempersiapkan Tantangan Masa Depan

Kamis, 28 Agustus 2025 | Reporter : Iswatun Amaliah Khairuunisa | Editor : M Habib Nur Fauzan

JATINANGOR, kemahasiswaan.itb.ac.id – Jejak kehidupan purba menjadi sorotan dalam Orasi Ilmiah Sesi 1 Penerimaan Mahasiswa Baru Semester 1 Tahun Akademik 2025/2026. Orasi yang disampaikan oleh Mika Rizki Puspaningrum, S.Si., M.T., Ph.D., satu-satunya paleontolog perempuan di Indonesia, berlangsung pada Kamis (14/8/2025) di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB. Dengan topik “Melampaui Dinosaurus: Menggali Masa Lalu, Mempersiapkan Masa Depan”, Mika mengajak mahasiswa baru memahami pentingnya fosil sebagai jendela pembelajaran bumi.

Dalam paparannya, Mika menjelaskan bahwa ketika berbicara soal kehidupan purba, dinosaurus hampir selalu menjadi ikon utama. Dinosaurus hidup pada zaman Mesozoikum, namun fosilnya tidak ditemukan di Indonesia karena mayoritas batuan di tanah air berupa batuan beku dan metamorf, bukan batuan sedimen tempat fosil dinosaurus biasanya tersimpan. Oleh sebab itu, penelitian fosil di Indonesia berfokus pada organisme setelah masa dinosaurus.

Indonesia, yang merupakan titik temu tiga lempeng utama dunia, menyimpan kekayaan flora dan fauna purba. Proses pencarian fosil dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari menelusuri batuan dengan umur tertentu berdasarkan laporan penduduk, hingga berjalan kaki untuk survei lapangan. Jika ditemukan, fosil kemudian diekskavasi secara hati-hati agar sisa organisme purba bisa terawetkan dengan baik dan tidak rusak. 

Beberapa fosil yang telah ditemukan di Indonesia diantaranya, fosil vertebrata tertua di Indonesia misalnya Ombilinichthys yanmini, ikan purba dari Formasi Sangkarewang di Sumatera Barat. Selain itu, ada pula fosil manusia purba yang menjadi temuan penting, seperti Homo erectus, Homo floresiensis, dan Homo sapiens. Mika juga menyoroti keberagaman gajah di Indonesia yang mencapai 14 spesies dengan ukuran berbeda, dipengaruhi oleh habitat tempat mereka hidup. Setelah fosil ditemukan, tahap identifikasi dilakukan untuk mengetahui spesies, lingkungan hidup, perilaku, evolusi, hingga mekanisme bertahan hidupnya, dengan melibatkan ilmu multidisiplin.

Menutup orasinya, Mika menegaskan bahwa fosil mengajarkan manusia untuk sadar bahwa bumi senantiasa berubah, baik iklim maupun kondisi ekosistem. Organisme yang tidak mampu menyesuaikan diri pada akhirnya akan punah, sehingga manusia perlu menjadi adaptif, tangguh, inovatif, dan berkelanjutan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa baru agar memandang masa lalu bukan sekadar kenangan, melainkan pelajaran untuk menata masa depan.

“Kita mempelajari masa lalu bukan untuk terjebak di dalamnya, bukan untuk selalu mengungkit-ungkit, tetapi untuk membentuk masa depan yang bijaksana,” ujarnya.

Logo Kemahasiswaan ITB

Gedung Campus Center Barat Lantai 1

Jl. Ganesa No.10 Lebak Siliwangi

Kec. Coblong, Kota Bandung 40132

Phone: (022) 2504814

© Direktorat Kemahasiswaan Institut Teknologi Bandung