Dua tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung raih juara umum dalam kompetisi nasional Kontes Mobil Surya Tanpa Awak (KMSTA). Merupakan kontes mobil surya tanpa awak pertama dan satu-satunya di Asia, kegiatan ini diselenggarakan di Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 21-22 September 2019.
Bersaing bersama 18 tim dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia, masing-masing tim perwakilan ITB berhasil meraih juara 1 dan juara 2 kategori “Race” serta juara umum. Mereka ialah tim Light Project, Raka Al Thareq (Teknik Material 2017), Sidi Budisina Baharuddin (Teknik Material 2017), Raka Bimo Avianto (Teknik Mesin 2017), Akhmad Razi (Teknik Mesin 2017), dan Tiya Khairina Izzati (Teknik Material 2017) yang dibimbing oleh Dr. Aditianto Ramelan. Serta tim Ganesolar, Fadhlan Humala Hasibuan, Maulana Yusuf Izzudin, M. Naufal Fauzan, dan Ogya Farrosy (Teknik Mesin 2017) yang dibimbing oleh Dr.Eng. Panji Prawisudha.
Keduanya menciptakan prototype mobil tanpa awak menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi utama. Panel surya buatan mereka inilah yang mengantarkan kedua tim ini meraih posisi juara. Sesuai dengan salah satu tujuan dari KMSTA yang menginginkan mahasiswa dapat menciptakan mobil Radio Control yang efisien, prototype karya Light Project dan Ganesolar unggul dalam hal tersebut.
Meski tak menduduki posisi pertama untuk kecepatan mobil, namun mobil karya mahasiswa ITB ini memiliki keunggulan pada efisiensi panel surya yang menyerap banyak tenaga sehingga baterai pada mobil mereka tidak banyak berkurang. “Semua peserta dapat baterai dari panitia. Usai race baterai mobil dicek dan ternyata milik Light Project bukannya berkurang malah bertambah,” tutur salah seorang anggota tim Light Project, Bahar.
“Arah mobil kami ini memang untuk unggul dalam endurance, bukan kecepatan,” tambah perwakilan tim Ganesolar, Fadhlan.
Tidak selalu mulus, perjalanan kedua tim ini meraih posisi juara mengalami banyak jatuh bangun. Komponen mobil yang benar-benar dirakit dari nol sampai panel surya yang dirakit sendiri, terkadang mengalami kekeliruan teknis. Keduanya mengatakan hingga hari perlombaan masih sempat melakukan perombakan pada mobil jagoan mereka ini.
“Kami sempat merasa mau pulang aja,” tawa Tiya. Meski sempat merasa pesimis melihat mobil dari tim lain, namun kedua tim perwakilan ITB ini semakin merasa terpacu untuk dapat mengembangkan prototype mobil surya tanpa awak milik mereka.
Kedua tim mengatakan tak menyangka dapat meraih posisi juara. “Awalnya kan cuma mau menguji kemampuan diri, mempraktekan apa yang kami dapat di kelas, eh ternyata juara, Alhamdulillah,” tutur Naufal.
Tak hanya disibukan dengan kegiatan akademik, namun juga non akademik, kedua tim ini menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan. “Walaupun sibuk, bukan hal yang tidak mungkin untuk maju di kedua bidang tersebut. Selama bisa membagi waktu, fokus, dan tentu saja berusaha, memberikan yang terbaik,” tutup Naufal saat ditemui tim LK.